Be Honest Old Man

I’m aware that my voice and English are still far from good, but it would be a waste if something that you’ve written no one read it, so here it is.. the song that I wrote “Be Honest Old Man”.

Please feel free to correct my grammar

Lyric: Continue reading “Be Honest Old Man”

Bulan Tujuh Kembali

Waktu-waktu itu sudah berjamur

“kubuang semua” aku mengeraskan suaraku supaya tidak ada yang bertanya lagi

Bulan dua belas,

aku menegakkan kepalaku berleherkan gumaman kecilku

di depan cermin bulat di kamar mandi

di saat aku memegang daguku

sambil berfikir

apakah aku harus keluar dari kamar mandi sekarang

atau

setelah kucukur Continue reading “Bulan Tujuh Kembali”

Ssst…Ini tentangku

Bumiku tak lagi sepi
walau hari telah berganti

Bumiku tak lagi lapang
walau hari terus berbilang

Siang yang dinikmati
malam yang menentramkan hati
tak lagi mudah ditemui

semua penuh dengan caci maki
berdalih menyerukan yang hakiki
agar jadi terpuji

tapi tak pernah tahu diri sendiri
bicara tentang hati tapi tak punya

ini tentangku
ini memang tentangku
tak tersirat sedikitpun tentangmu

ini tentangmu
tentangmu yang juga sepertiku

tentangku yang cuma bisa berpuisi
jika ini benar disebut puisi

jika saja kau lihat pelangiku
indah di luar
jika kau lihat pelangiku
saat kau ada di diriku
buram

seperti fatamorgana
pelepas dahaga semu para musafir
saat mereka meminumnya tidak terasa apa-apa
tawarpun tidak

ini tentangku
tentangku yang pura-pura tidak tahu
menjalani hidup sebagaimana

sebagaimana semut kecil
sebagaimana rumput liar
yang terselip di bibir, sebagaimana dinyanyikan penyair

jika kuteruskan sebagaimana
tidak akan terbilang banyaknya
pada siapa atau apa ku bisa berguru
berguru untuk menyayat kepuraan ini
perlahan, perlahan, sangat perlahan
pelan, pe..la..n
lebih pelan…

dan

ssst.. ini tentangku

Sampai Terlelap

Saat itu tetesan hujan pertama di bulan Oktober
setetes demi setetes turun menuju gorong-gorong
satu persatu kemungkinan datang
melalui ventilasi kamarku

Aku mematikan lampu kamarku
mengintip hujan membelai daun bunga Kenanga
dan mendengarkan angin yang berkisah dengan ilalang

Suara guntur dan gemuruh hujan terasa begitu menenangkan
dan petir menghadirkan bayang-bayang sebuah cerita perang
yang selalu dimenangkan oleh…
dan akhir bahagia yang selalu aku inginkan

Kemungkinan itu terus berhembus
satu, dua, tiga,….
aku menghitungnya

aku menghitungnya
aku menghitungnya
sampai aku terlelap.

Ibunya Tersenyum

“Aku tidak akan tersenyum lagi!” pemuda itu berkata kepada ibunya

ibunya tersenyum,

“Kenapa ibu tersenyum?” tak ada jawaban yang keluar dari mulut ibunya

ibunya tersenyum,

“Ibu,”

“Senyum membuat mereka marah!”

“Senyum membuat mereka gila!”

“Senyum membuat mereka besar kepala!”

“Senyum membuat aku sesak!”

“Senyum membuat aku miris!”

“Senyum membuat aku menangis!”

Ibunya tersenyum,

“Kenapa Ibu masih tersenyum?”

Ibunya tersenyum dan menjawab,

“Ibu tidak akan menangis lagi!”

Suatu saat

Suatu saat kepingan waktuku yang terakhir akan terbang menjauh ke dalam ruang masa lalu, dan semuanya akan menjadi kenangan bagi sebagian orang yang berlalu lalang

Sunyi saat dia melayang membawa pasir kenangan yang tak pernah terhitung, melintas begitu cepat dalam kilasan-kilasan gambar masa lalu dan suara-suara yang masih berputar-putar mencari muaranya

Suatu saat aku akan kembali ke bumi

Suatu saat aku akan kembali ke bumi

Suatu saat aku akan kembali ke bumi

Suatu waktu aku akan kembali ke bumi, dengan alamat sebuah nisan berukir nama ku.

Belum

Aku tidak tahu,
bagaimana gambar terakhir dari cerita kehidupanku.

Kertas coretanku ada beberapa lembar
dan di dalamnya ada beberapa daftar tunggu
yang harus aku kerjakan

Menit menitku kadang berlalu dari lembar satu ke lembar yang lain

Hanya berpindah-pindah tergantung isu kekinian,
atau hanya pengalihan dari satu ke yang lainnya untuk menenangkan hatiku

Karena saat ini ada beberapa hal yang tidak bisa menunggu,
Kertas coretanku harus ku tinggal satu
yang lainnya biar menjadi abu
tapi rasanya sayang, dan aku masih bingung
yang mana harus kupilih satu

Ini bukanlah sesuatu yang harus dipilihkan oleh ibu
tentulah ia akan memilih yang paling kecil
itu sudah tentu,
Karena aku bocah kecilnya selalu

jadi semua tergantung padaku,
bukan banyaknya kancing bajuku
juga bukan tentang takdir yang akan menjemputku
tapi tentang aku yang mendatanginya

Kesempatan

kesempatan itu datang sekali
bagi yang mengerti

kesempatan itu datang berkali-kali
bagi ku

bukankah matahari terbit setiap pagi?
selama itu

ternyata tidak monoton matahari yang berulang-ulang

selama itu
bumi berputar
jika aku percaya

selama itu
hari berganti
kesempatan terus terbit

kesempatan datang setiap pagi
kesempatan datang setiap penyesalan pergi
kesempatan datang setiap kepala ditengadahkan

hujan akan pulang
panas akan datang

lagi….

bagi tiap keinginan

selama itu
kesempatan bernada

selama di utara dan selatan empat musim berganti
selama bulan masih bersedia bergandengan tangan dengan malam
selama ombak belum jenuh di pantai
selama gunung belum bercita-cita untuk menjadi burung

terdengar melodi-lodi kesempatan
lebih dari enam puluh dalam menit

hanya saja
mati adalah sebuah kotak rahasia
tempat kesempatan itu disimpan
sehingga tidak datang lagi

hanya saja
kapan kotak ku dibuka?
pertanyaan yang tak akan pernah terjawab oleh makhluk
pertanyaan tentang inilah detiknya

hanya saja
jika besok masih bernadi…

ujian itu datang sekali

lagi…

Di Sela Bibir

Di sela-sela bibir
ada bincang-bincang
mereka di belakang
ada yang mencibir

Di sela-sela kantuk
ada pura-pura
ada pura-pura
di sela-sela batuk

Di antara duduk bersila
di antara benar-benar
aku yang benar
ada sela-menyela

Di sela-sela telinga
ada bisik-bisik
pirik-memirik
dengan kata-kata

Di sela-sela kita
ada hiruk pikuk
mereka merusuk
di antara tulang dada

Di sela-sela kalimat
ada pesan-pesan
ada bualan-bualan
apa yang didapat

Di sela-sela dusta
ada cerita
benar-benar ada
ada dusta-dusta

Di sela-sela waktu
ada yang tertinggal
di atas kapal-kapal
bilangan waktu berlalu

Di sela-sela nya
perlu tak perlu
tentu tak tentu
tentu saja

Di sela-sela siang dan malam
tak perlu
tak tentu
hilang dan tenggelam

Di sela-sela dulu nanti

ada kini

 

 

.

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: