Nenek dan Pasir Penyedap

Aku ingat saat itu
Ketika nenek pertama kali berkenalan dengan pasir-pasir penyedap
Sejak itu,
Aku makan lebih lahap
Ikan goreng rasa ayam
Rendang rasa ayam
Dendeng rasa ayam
Telur rasa ayam
Tempe rasa ayam
Sayur rasa ayam
Semua rasa ayam
Hanya kakek yang keberatan
‘Entahlah perutku terasa tidak enak’ begitu katanya
‘Semuanya seragam’ sambil menyuap dengan malas
Aku pun lama-lama bosan
Tapi nenek tetap bertahan dengan pasir-pasir penyedap itu

Advertisements

Sesuatu tentang dia

Perasaan itu, aku meneruskan lamunanku

Perasaan itu juga hidup, aku tersentak dan kalimat ini keluar dari mulutku

Perasaan itu juga tumbuh, aku tidak telah dengan sengaja merawatnya
Sehingga terus tumbuh

Dan selama semester terakhir aku berjalan, pergi dan pulang dengan pikiran-pikiran tentang dia, gadis yang belum pernah kutemui, aku rasa aku menyukainya

Tentang dia, aku sedang memikirkan dia

Sosok dan Gerangan

apakah hanya aku saja yang terlalu sibuk sendiri
bertanya tanya
menebak nebak
mencari cari
menanti nanti
dimana pada akhirnya
aku hanyalah salah satu bagian dari sesuatu yang acak
diantara bagian-bagian lain sekehendaknya
dan lagi aku salah menerjemahkan jemarinya
meneteskan air mata untuk tangisnya
tersenyum untuk bahagianya
dan lagi aku hanyalah daun yang terbawa terbang
ikut terbawa bersama daun daun musim gugur lainnya
bukan telaga impian musafir di sahara
bukan pula perapian di kutub utara
lalu kenapa juga aku mengingat mimpi mimpi itu
seolah itu bukan tidurku
membayangkan dia mencari sosokku
seperti aku mencari gerangannya

Melankoli Meloni

Meloni sungguh begitu
Melankoli mu berliku

Mabuk angan angan
Main sembarangan

Sembunyi melankoli
Sembunyikan meloni

“Percayalah Bu”

“Percayalah Ibu…”
“Dia dulu tidak seperti ini”
“Dia dulu tidak seperti itu”
“Ayolah Bu…”
“Dia dulu tidak begini dan begitu”
“Dia…..”
“Dia berubah”
“Anakku, percayalah….kamu sekarang lebih mengenalnya”

Untuk Kamu

Kamu senyum padaku
Begitu dekat
Duduk di dekatku
Begitu dekat
Kenapa tidak di sana
Begitu dekat
Kamu
Begitu dekat
Di sana ada bangku kosong
Begitu dekat
Aku bisa mencium wangi rambutmu
Begitu dekat
Semua tertawa dengan leluconmu
Begitu dekat
Aku tidak bisa tertawa pun berkata
Begitu dekat
Senyum yang
Begitu dekat, begitu dekat
Wangi yang
Begitu dekat, begitu dekat, begitu dekat
Menyitaku
Begitu dekat, begitu dekat, begitu dekat, begitu dekat
Kamu pakai sampo apa?

Pakt

Pohon cemara
kenapa kamu menangis?
bukankah dingin sudah berlalu,

bukankah kau ingin bercerita padaku mengenai siapa yang mendapatkan cintamu?
akankah kau tunda lagi?
dan kembali berkisah tentang barat dan timur yang bertemu di utara?
aku sudah bosan dengan itu.

Aku ingin mendengar ceritamu,
bagaimana kau mencoba berkelakar beberapa tahun ini,
apakah kau berhasil?

ketika kau datang dan pulang kembali
seperti yang Tuhan katakan
aku Continue reading “Pakt”

Oh.

Daun, oh daun

kenapa jatuh lagi

baru saja kembali

kenapa pergi lagi

embun, oh embun

kenapa sudah pagi

baru saja mimpi

kenapa bangun lagi

Continue reading “Oh.”

Bulan Tujuh Kembali

Waktu-waktu itu sudah berjamur

“kubuang semua” aku mengeraskan suaraku supaya tidak ada yang bertanya lagi

Bulan dua belas,

aku menegakkan kepalaku berleherkan gumaman kecilku

di depan cermin bulat di kamar mandi

di saat aku memegang daguku

sambil berfikir

apakah aku harus keluar dari kamar mandi sekarang

atau

setelah kucukur Continue reading “Bulan Tujuh Kembali”

Ssst…Ini tentangku

Bumiku tak lagi sepi
walau hari telah berganti

Bumiku tak lagi lapang
walau hari terus berbilang

Siang yang dinikmati
malam yang menentramkan hati
tak lagi mudah ditemui

semua penuh dengan caci maki
berdalih menyerukan yang hakiki
agar jadi terpuji

tapi tak pernah tahu diri sendiri
bicara tentang hati tapi tak punya

ini tentangku
ini memang tentangku
tak tersirat sedikitpun tentangmu

ini tentangmu
tentangmu yang juga sepertiku

tentangku yang cuma bisa berpuisi
jika ini benar disebut puisi

jika saja kau lihat pelangiku
indah di luar
jika kau lihat pelangiku
saat kau ada di diriku
buram

seperti fatamorgana
pelepas dahaga semu para musafir
saat mereka meminumnya tidak terasa apa-apa
tawarpun tidak

ini tentangku
tentangku yang pura-pura tidak tahu
menjalani hidup sebagaimana

sebagaimana semut kecil
sebagaimana rumput liar
yang terselip di bibir, sebagaimana dinyanyikan penyair

jika kuteruskan sebagaimana
tidak akan terbilang banyaknya
pada siapa atau apa ku bisa berguru
berguru untuk menyayat kepuraan ini
perlahan, perlahan, sangat perlahan
pelan, pe..la..n
lebih pelan…

dan

ssst.. ini tentangku

Sampai Terlelap

Saat itu tetesan hujan pertama di bulan Oktober
setetes demi setetes turun menuju gorong-gorong
satu persatu kemungkinan datang
melalui ventilasi kamarku

Aku mematikan lampu kamarku
mengintip hujan membelai daun bunga Kenanga
dan mendengarkan angin yang berkisah dengan ilalang

Suara guntur dan gemuruh hujan terasa begitu menenangkan
dan petir menghadirkan bayang-bayang sebuah cerita perang
yang selalu dimenangkan oleh…
dan akhir bahagia yang selalu aku inginkan

Kemungkinan itu terus berhembus
satu, dua, tiga,….
aku menghitungnya

aku menghitungnya
aku menghitungnya
sampai aku terlelap.

Ibunya Tersenyum

“Aku tidak akan tersenyum lagi!” pemuda itu berkata kepada ibunya

ibunya tersenyum,

“Kenapa ibu tersenyum?” tak ada jawaban yang keluar dari mulut ibunya

ibunya tersenyum,

“Ibu,”

“Senyum membuat mereka marah!”

“Senyum membuat mereka gila!”

“Senyum membuat mereka besar kepala!”

“Senyum membuat aku sesak!”

“Senyum membuat aku miris!”

“Senyum membuat aku menangis!”

Ibunya tersenyum,

“Kenapa Ibu masih tersenyum?”

Ibunya tersenyum dan menjawab,

“Ibu tidak akan menangis lagi!”

Suatu saat

Suatu saat kepingan waktuku yang terakhir akan terbang menjauh ke dalam ruang masa lalu, dan semuanya akan menjadi kenangan bagi sebagian orang yang berlalu lalang

Sunyi saat dia melayang membawa pasir kenangan yang tak pernah terhitung, melintas begitu cepat dalam kilasan-kilasan gambar masa lalu dan suara-suara yang masih berputar-putar mencari muaranya

Suatu saat aku akan kembali ke bumi

Suatu saat aku akan kembali ke bumi

Suatu saat aku akan kembali ke bumi

Suatu waktu aku akan kembali ke bumi, dengan alamat sebuah nisan berukir nama ku.

Belum

Aku tidak tahu,
bagaimana gambar terakhir dari cerita kehidupanku.

Kertas coretanku ada beberapa lembar
dan di dalamnya ada beberapa daftar tunggu
yang harus aku kerjakan

Menit menitku kadang berlalu dari lembar satu ke lembar yang lain

Hanya berpindah-pindah tergantung isu kekinian,
atau hanya pengalihan dari satu ke yang lainnya untuk menenangkan hatiku

Karena saat ini ada beberapa hal yang tidak bisa menunggu,
Kertas coretanku harus ku tinggal satu
yang lainnya biar menjadi abu
tapi rasanya sayang, dan aku masih bingung
yang mana harus kupilih satu

Ini bukanlah sesuatu yang harus dipilihkan oleh ibu
tentulah ia akan memilih yang paling kecil
itu sudah tentu,
Karena aku bocah kecilnya selalu

jadi semua tergantung padaku,
bukan banyaknya kancing bajuku
juga bukan tentang takdir yang akan menjemputku
tapi tentang aku yang mendatanginya

Hujan

Aku mendegar suara hujan
itu selalu indah
itu selalu menyenangkan
dan selalu sama kapan dan di manapun
pada hujan kutitipkan kenangan untuk disimpan
tidak hanya tentang mu, tentang mereka, tentang dia, tapi juga tentang ku

Jika kau lihat aku berdiri di depan pintu atau duduk di belakang jendela,
menatap bisu hujan yang turun, tolong jangan ganggu aku
aku sedang menikmatinya
saat itu mungkin kau akan melihat ku meneteskan air mata,
atau tertawa

Jika kau tidak melihatku di sana berarti ada kenangan yang sedang aku simpan
tidak hanya tentang mu, tentang mereka, tentang dia, tapi juga tentang ku

Aku mendegar suara hujan
itu selalu indah
itu selalu menyenangkan
di sini atau di sana
sekarang atau esok
masih dan akan selalu sama

Memiliki Penyesalan

Saat malam menyelimuti gunung dengan awan
Seorang gadis merengkuh malam
Mengantarkan penyesalannya berlayar untuk berlabuh di dermaga-dermaga seluruh dunia
Dia berharap akan menemukan seorang saudagar yang mau dibayar untuk membeli seluruh penyesalannya, walaupun dia telah membelinya dengan harga yang sangat mahal

“Sungguh, sungguh” dia berkata lirih

“Aku tak ingin dia lagi, aku tak ingin dia ada” dia berkata saat tak ada yang mau membelinya dari gadis tersebut.

Isak tangis, air mata, dan sesenggukan berusaha menenangkannya

Penyesalan mulai berbicara

“Kenapa kau begitu membenciku?, bukankah setiap orang memilikiku”

Hei

Hei..

Kau tahu?

Saat lereng merapi diselimuti kabut senja nan putih

Saat kau meninggalkanku pulang,

dan memberiku senyum manismu,

Aku menyimpannya..

Teruskanlah puisinya indah

Puisinya indah
seperti suara klarinet saat menyanyikan “Ode An Die Freude”
membuatku hanyut beberapa centimeter menjauhi bumi
hingga bayangan berpisah dengan tubuhku

Puisinya indah
mengalir ke setiap pori
menyelimuti rasa

Puisinya indah
tidak biasa sebagaimana biasanya
seperti melihat sebuah kota di dalam samudra Hindia

Puisinya indah
menggelitik kakiku
membuatku ingin melompat-lompat

Puisinya indah
mengarungi hatiku dengan kapal makna
meriak-riak darahku dengan dayung syairnya

Puisinya indah
Mendesir-desir jantungku

Puisinya indah…

teruskanlah…

Pakansi

Beristirahat sejenak dari sepi

mencari sinonim-sinonim

antara

aku dan saya

aku dan kamu

aku dan dia

aku dan daftar panjang tentang siapa lagi.

Membalik halaman buku yang pernah ku baca,

mengorek saku celana,

memeriksa lipatan kain,

jika ada recehan atau koin waktu yang tertinggal di sana

yang masih bisa aku gunakan

untuk mengembalikan waktu yang pernah kupinjam.

Aku ingin,

besok sepi lagi,

mengingat lagi

suara-suara

wajah-wajah

yang seharusnya tak bisa dilupakan,

menuliskan

apa-apa yang tak bisa aku lakukan

apa-apa yang tak bisa aku katakan.

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: