Sosok dan Gerangan

apakah hanya aku saja yang terlalu sibuk sendiri
bertanya tanya
menebak nebak
mencari cari
menanti nanti
dimana pada akhirnya
aku hanyalah salah satu bagian dari sesuatu yang acak
diantara bagian-bagian lain sekehendaknya
dan lagi aku salah menerjemahkan jemarinya
meneteskan air mata untuk tangisnya
tersenyum untuk bahagianya
dan lagi aku hanyalah daun yang terbawa terbang
ikut terbawa bersama daun daun musim gugur lainnya
bukan telaga impian musafir di sahara
bukan pula perapian di kutub utara
lalu kenapa juga aku mengingat mimpi mimpi itu
seolah itu bukan tidurku
membayangkan dia mencari sosokku
seperti aku mencari gerangannya

Advertisements

Melankoli Meloni

Meloni sungguh begitu
Melankoli mu berliku

Mabuk angan angan
Main sembarangan

Sembunyi melankoli
Sembunyikan meloni

“Percayalah Bu”

“Percayalah Ibu…”
“Dia dulu tidak seperti ini”
“Dia dulu tidak seperti itu”
“Ayolah Bu…”
“Dia dulu tidak begini dan begitu”
“Dia…..”
“Dia berubah”
“Anakku, percayalah….kamu sekarang lebih mengenalnya”

Untuk Kamu

Kamu senyum padaku
Begitu dekat
Duduk di dekatku
Begitu dekat
Kenapa tidak di sana
Begitu dekat
Kamu
Begitu dekat
Di sana ada bangku kosong
Begitu dekat
Aku bisa mencium wangi rambutmu
Begitu dekat
Semua tertawa dengan leluconmu
Begitu dekat
Aku tidak bisa tertawa pun berkata
Begitu dekat
Senyum yang
Begitu dekat, begitu dekat
Wangi yang
Begitu dekat, begitu dekat, begitu dekat
Menyitaku
Begitu dekat, begitu dekat, begitu dekat, begitu dekat
Kamu pakai sampo apa?

Pakt

Pohon cemara
kenapa kamu menangis?
bukankah dingin sudah berlalu,

bukankah kau ingin bercerita padaku mengenai siapa yang mendapatkan cintamu?
akankah kau tunda lagi?
dan kembali berkisah tentang barat dan timur yang bertemu di utara?
aku sudah bosan dengan itu.

Aku ingin mendengar ceritamu,
bagaimana kau mencoba berkelakar beberapa tahun ini,
apakah kau berhasil?

ketika kau datang dan pulang kembali
seperti yang Tuhan katakan
aku Continue reading “Pakt”

Oh.

Daun, oh daun

kenapa jatuh lagi

baru saja kembali

kenapa pergi lagi

embun, oh embun

kenapa sudah pagi

baru saja mimpi

kenapa bangun lagi

Continue reading “Oh.”

Bulan Tujuh Kembali

Waktu-waktu itu sudah berjamur

“kubuang semua” aku mengeraskan suaraku supaya tidak ada yang bertanya lagi

Bulan dua belas,

aku menegakkan kepalaku berleherkan gumaman kecilku

di depan cermin bulat di kamar mandi

di saat aku memegang daguku

sambil berfikir

apakah aku harus keluar dari kamar mandi sekarang

atau

setelah kucukur Continue reading “Bulan Tujuh Kembali”

Ssst…Ini tentangku

Bumiku tak lagi sepi
walau hari telah berganti

Bumiku tak lagi lapang
walau hari terus berbilang

Siang yang dinikmati
malam yang menentramkan hati
tak lagi mudah ditemui

semua penuh dengan caci maki
berdalih menyerukan yang hakiki
agar jadi terpuji

tapi tak pernah tahu diri sendiri
bicara tentang hati tapi tak punya

ini tentangku
ini memang tentangku
tak tersirat sedikitpun tentangmu

ini tentangmu
tentangmu yang juga sepertiku

tentangku yang cuma bisa berpuisi
jika ini benar disebut puisi

jika saja kau lihat pelangiku
indah di luar
jika kau lihat pelangiku
saat kau ada di diriku
buram

seperti fatamorgana
pelepas dahaga semu para musafir
saat mereka meminumnya tidak terasa apa-apa
tawarpun tidak

ini tentangku
tentangku yang pura-pura tidak tahu
menjalani hidup sebagaimana

sebagaimana semut kecil
sebagaimana rumput liar
yang terselip di bibir, sebagaimana dinyanyikan penyair

jika kuteruskan sebagaimana
tidak akan terbilang banyaknya
pada siapa atau apa ku bisa berguru
berguru untuk menyayat kepuraan ini
perlahan, perlahan, sangat perlahan
pelan, pe..la..n
lebih pelan…

dan

ssst.. ini tentangku