Consequence of being a lover

I drive my bike farther and further
I don’t know why and where
to escape from her?
or chasing the shadow of her?

I can’t change the weather
not to hide my thought und so weiter
but I hope Continue reading “Consequence of being a lover”

Tilda

sejak bunga bercanda
hingga daun daun mulai beristirahat
menyelam ke dalam tanah untuk makanan pohonnya

pikiranku masih berserak
bukankah seharusnya aku sudah mengumpulkannya
dan membawanya pulang
sebentar lagi Continue reading “Tilda”

Bulan Tujuh Kembali

Waktu-waktu itu sudah berjamur

“kubuang semua” aku mengeraskan suaraku supaya tidak ada yang bertanya lagi

Bulan dua belas,

aku menegakkan kepalaku berleherkan gumaman kecilku

di depan cermin bulat di kamar mandi

di saat aku memegang daguku

sambil berfikir

apakah aku harus keluar dari kamar mandi sekarang

atau

setelah kucukur Continue reading “Bulan Tujuh Kembali”

Ssst…Ini tentangku

Bumiku tak lagi sepi
walau hari telah berganti

Bumiku tak lagi lapang
walau hari terus berbilang

Siang yang dinikmati
malam yang menentramkan hati
tak lagi mudah ditemui

semua penuh dengan caci maki
berdalih menyerukan yang hakiki
agar jadi terpuji

tapi tak pernah tahu diri sendiri
bicara tentang hati tapi tak punya

ini tentangku
ini memang tentangku
tak tersirat sedikitpun tentangmu

ini tentangmu
tentangmu yang juga sepertiku

tentangku yang cuma bisa berpuisi
jika ini benar disebut puisi

jika saja kau lihat pelangiku
indah di luar
jika kau lihat pelangiku
saat kau ada di diriku
buram

seperti fatamorgana
pelepas dahaga semu para musafir
saat mereka meminumnya tidak terasa apa-apa
tawarpun tidak

ini tentangku
tentangku yang pura-pura tidak tahu
menjalani hidup sebagaimana

sebagaimana semut kecil
sebagaimana rumput liar
yang terselip di bibir, sebagaimana dinyanyikan penyair

jika kuteruskan sebagaimana
tidak akan terbilang banyaknya
pada siapa atau apa ku bisa berguru
berguru untuk menyayat kepuraan ini
perlahan, perlahan, sangat perlahan
pelan, pe..la..n
lebih pelan…

dan

ssst.. ini tentangku

Sampai Terlelap

Saat itu tetesan hujan pertama di bulan Oktober
setetes demi setetes turun menuju gorong-gorong
satu persatu kemungkinan datang
melalui ventilasi kamarku

Aku mematikan lampu kamarku
mengintip hujan membelai daun bunga Kenanga
dan mendengarkan angin yang berkisah dengan ilalang

Suara guntur dan gemuruh hujan terasa begitu menenangkan
dan petir menghadirkan bayang-bayang sebuah cerita perang
yang selalu dimenangkan oleh…
dan akhir bahagia yang selalu aku inginkan

Kemungkinan itu terus berhembus
satu, dua, tiga,….
aku menghitungnya

aku menghitungnya
aku menghitungnya
sampai aku terlelap.

Ibunya Tersenyum

“Aku tidak akan tersenyum lagi!” pemuda itu berkata kepada ibunya

ibunya tersenyum,

“Kenapa ibu tersenyum?” tak ada jawaban yang keluar dari mulut ibunya

ibunya tersenyum,

“Ibu,”

“Senyum membuat mereka marah!”

“Senyum membuat mereka gila!”

“Senyum membuat mereka besar kepala!”

“Senyum membuat aku sesak!”

“Senyum membuat aku miris!”

“Senyum membuat aku menangis!”

Ibunya tersenyum,

“Kenapa Ibu masih tersenyum?”

Ibunya tersenyum dan menjawab,

“Ibu tidak akan menangis lagi!”

Suatu saat

Suatu saat kepingan waktuku yang terakhir akan terbang menjauh ke dalam ruang masa lalu, dan semuanya akan menjadi kenangan bagi sebagian orang yang berlalu lalang

Sunyi saat dia melayang membawa pasir kenangan yang tak pernah terhitung, melintas begitu cepat dalam kilasan-kilasan gambar masa lalu dan suara-suara yang masih berputar-putar mencari muaranya

Suatu saat aku akan kembali ke bumi

Suatu saat aku akan kembali ke bumi

Suatu saat aku akan kembali ke bumi

Suatu waktu aku akan kembali ke bumi, dengan alamat sebuah nisan berukir nama ku.

Belum

Aku tidak tahu,
bagaimana gambar terakhir dari cerita kehidupanku.

Kertas coretanku ada beberapa lembar
dan di dalamnya ada beberapa daftar tunggu
yang harus aku kerjakan

Menit menitku kadang berlalu dari lembar satu ke lembar yang lain

Hanya berpindah-pindah tergantung isu kekinian,
atau hanya pengalihan dari satu ke yang lainnya untuk menenangkan hatiku

Karena saat ini ada beberapa hal yang tidak bisa menunggu,
Kertas coretanku harus ku tinggal satu
yang lainnya biar menjadi abu
tapi rasanya sayang, dan aku masih bingung
yang mana harus kupilih satu

Ini bukanlah sesuatu yang harus dipilihkan oleh ibu
tentulah ia akan memilih yang paling kecil
itu sudah tentu,
Karena aku bocah kecilnya selalu

jadi semua tergantung padaku,
bukan banyaknya kancing bajuku
juga bukan tentang takdir yang akan menjemputku
tapi tentang aku yang mendatanginya

Hujan

Aku mendegar suara hujan
itu selalu indah
itu selalu menyenangkan
dan selalu sama kapan dan di manapun
pada hujan kutitipkan kenangan untuk disimpan
tidak hanya tentang mu, tentang mereka, tentang dia, tapi juga tentang ku

Jika kau lihat aku berdiri di depan pintu atau duduk di belakang jendela,
menatap bisu hujan yang turun, tolong jangan ganggu aku
aku sedang menikmatinya
saat itu mungkin kau akan melihat ku meneteskan air mata,
atau tertawa

Jika kau tidak melihatku di sana berarti ada kenangan yang sedang aku simpan
tidak hanya tentang mu, tentang mereka, tentang dia, tapi juga tentang ku

Aku mendegar suara hujan
itu selalu indah
itu selalu menyenangkan
di sini atau di sana
sekarang atau esok
masih dan akan selalu sama

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: