Bulan Tujuh Kembali

Waktu-waktu itu sudah berjamur

“kubuang semua” aku mengeraskan suaraku supaya tidak ada yang bertanya lagi

Bulan dua belas,

aku menegakkan kepalaku berleherkan gumaman kecilku

di depan cermin bulat di kamar mandi

di saat aku memegang daguku

sambil berfikir

apakah aku harus keluar dari kamar mandi sekarang

atau

setelah kucukur Continue reading “Bulan Tujuh Kembali”

Ssst…Ini tentangku

Bumiku tak lagi sepi
walau hari telah berganti

Bumiku tak lagi lapang
walau hari terus berbilang

Siang yang dinikmati
malam yang menentramkan hati
tak lagi mudah ditemui

semua penuh dengan caci maki
berdalih menyerukan yang hakiki
agar jadi terpuji

tapi tak pernah tahu diri sendiri
bicara tentang hati tapi tak punya

ini tentangku
ini memang tentangku
tak tersirat sedikitpun tentangmu

ini tentangmu
tentangmu yang juga sepertiku

tentangku yang cuma bisa berpuisi
jika ini benar disebut puisi

jika saja kau lihat pelangiku
indah di luar
jika kau lihat pelangiku
saat kau ada di diriku
buram

seperti fatamorgana
pelepas dahaga semu para musafir
saat mereka meminumnya tidak terasa apa-apa
tawarpun tidak

ini tentangku
tentangku yang pura-pura tidak tahu
menjalani hidup sebagaimana

sebagaimana semut kecil
sebagaimana rumput liar
yang terselip di bibir, sebagaimana dinyanyikan penyair

jika kuteruskan sebagaimana
tidak akan terbilang banyaknya
pada siapa atau apa ku bisa berguru
berguru untuk menyayat kepuraan ini
perlahan, perlahan, sangat perlahan
pelan, pe..la..n
lebih pelan…

dan

ssst.. ini tentangku

Ibunya Tersenyum

“Aku tidak akan tersenyum lagi!” pemuda itu berkata kepada ibunya

ibunya tersenyum,

“Kenapa ibu tersenyum?” tak ada jawaban yang keluar dari mulut ibunya

ibunya tersenyum,

“Ibu,”

“Senyum membuat mereka marah!”

“Senyum membuat mereka gila!”

“Senyum membuat mereka besar kepala!”

“Senyum membuat aku sesak!”

“Senyum membuat aku miris!”

“Senyum membuat aku menangis!”

Ibunya tersenyum,

“Kenapa Ibu masih tersenyum?”

Ibunya tersenyum dan menjawab,

“Ibu tidak akan menangis lagi!”

Suatu saat

Suatu saat kepingan waktuku yang terakhir akan terbang menjauh ke dalam ruang masa lalu, dan semuanya akan menjadi kenangan bagi sebagian orang yang berlalu lalang

Sunyi saat dia melayang membawa pasir kenangan yang tak pernah terhitung, melintas begitu cepat dalam kilasan-kilasan gambar masa lalu dan suara-suara yang masih berputar-putar mencari muaranya

Suatu saat aku akan kembali ke bumi

Suatu saat aku akan kembali ke bumi

Suatu saat aku akan kembali ke bumi

Suatu waktu aku akan kembali ke bumi, dengan alamat sebuah nisan berukir nama ku.

Belum

Aku tidak tahu,
bagaimana gambar terakhir dari cerita kehidupanku.

Kertas coretanku ada beberapa lembar
dan di dalamnya ada beberapa daftar tunggu
yang harus aku kerjakan

Menit menitku kadang berlalu dari lembar satu ke lembar yang lain

Hanya berpindah-pindah tergantung isu kekinian,
atau hanya pengalihan dari satu ke yang lainnya untuk menenangkan hatiku

Karena saat ini ada beberapa hal yang tidak bisa menunggu,
Kertas coretanku harus ku tinggal satu
yang lainnya biar menjadi abu
tapi rasanya sayang, dan aku masih bingung
yang mana harus kupilih satu

Ini bukanlah sesuatu yang harus dipilihkan oleh ibu
tentulah ia akan memilih yang paling kecil
itu sudah tentu,
Karena aku bocah kecilnya selalu

jadi semua tergantung padaku,
bukan banyaknya kancing bajuku
juga bukan tentang takdir yang akan menjemputku
tapi tentang aku yang mendatanginya

Hujan

Aku mendegar suara hujan
itu selalu indah
itu selalu menyenangkan
dan selalu sama kapan dan di manapun
pada hujan kutitipkan kenangan untuk disimpan
tidak hanya tentang mu, tentang mereka, tentang dia, tapi juga tentang ku

Jika kau lihat aku berdiri di depan pintu atau duduk di belakang jendela,
menatap bisu hujan yang turun, tolong jangan ganggu aku
aku sedang menikmatinya
saat itu mungkin kau akan melihat ku meneteskan air mata,
atau tertawa

Jika kau tidak melihatku di sana berarti ada kenangan yang sedang aku simpan
tidak hanya tentang mu, tentang mereka, tentang dia, tapi juga tentang ku

Aku mendegar suara hujan
itu selalu indah
itu selalu menyenangkan
di sini atau di sana
sekarang atau esok
masih dan akan selalu sama

Memiliki Penyesalan

Saat malam menyelimuti gunung dengan awan
Seorang gadis merengkuh malam
Mengantarkan penyesalannya berlayar untuk berlabuh di dermaga-dermaga seluruh dunia
Dia berharap akan menemukan seorang saudagar yang mau dibayar untuk membeli seluruh penyesalannya, walaupun dia telah membelinya dengan harga yang sangat mahal

“Sungguh, sungguh” dia berkata lirih

“Aku tak ingin dia lagi, aku tak ingin dia ada” dia berkata saat tak ada yang mau membelinya dari gadis tersebut.

Isak tangis, air mata, dan sesenggukan berusaha menenangkannya

Penyesalan mulai berbicara

“Kenapa kau begitu membenciku?, bukankah setiap orang memilikiku”

Hei

Hei..

Kau tahu?

Saat lereng merapi diselimuti kabut senja nan putih

Saat kau meninggalkanku pulang,

dan memberiku senyum manismu,

Aku menyimpannya..

Teruskanlah puisinya indah

Puisinya indah
seperti suara klarinet saat menyanyikan “Ode An Die Freude”
membuatku hanyut beberapa centimeter menjauhi bumi
hingga bayangan berpisah dengan tubuhku

Puisinya indah
mengalir ke setiap pori
menyelimuti rasa

Puisinya indah
tidak biasa sebagaimana biasanya
seperti melihat sebuah kota di dalam samudra Hindia

Puisinya indah
menggelitik kakiku
membuatku ingin melompat-lompat

Puisinya indah
mengarungi hatiku dengan kapal makna
meriak-riak darahku dengan dayung syairnya

Puisinya indah
Mendesir-desir jantungku

Puisinya indah…

teruskanlah…

Kesempatan

kesempatan itu datang sekali
bagi yang mengerti

kesempatan itu datang berkali-kali
bagi ku

bukankah matahari terbit setiap pagi?
selama itu

ternyata tidak monoton matahari yang berulang-ulang

selama itu
bumi berputar
jika aku percaya

selama itu
hari berganti
kesempatan terus terbit

kesempatan datang setiap pagi
kesempatan datang setiap penyesalan pergi
kesempatan datang setiap kepala ditengadahkan

hujan akan pulang
panas akan datang

lagi….

bagi tiap keinginan

selama itu
kesempatan bernada

selama di utara dan selatan empat musim berganti
selama bulan masih bersedia bergandengan tangan dengan malam
selama ombak belum jenuh di pantai
selama gunung belum bercita-cita untuk menjadi burung

terdengar melodi-lodi kesempatan
lebih dari enam puluh dalam menit

hanya saja
mati adalah sebuah kotak rahasia
tempat kesempatan itu disimpan
sehingga tidak datang lagi

hanya saja
kapan kotak ku dibuka?
pertanyaan yang tak akan pernah terjawab oleh makhluk
pertanyaan tentang inilah detiknya

hanya saja
jika besok masih bernadi…

ujian itu datang sekali

lagi…

Pakansi

Beristirahat sejenak dari sepi

mencari sinonim-sinonim

antara

aku dan saya

aku dan kamu

aku dan dia

aku dan daftar panjang tentang siapa lagi.

Membalik halaman buku yang pernah ku baca,

mengorek saku celana,

memeriksa lipatan kain,

jika ada recehan atau koin waktu yang tertinggal di sana

yang masih bisa aku gunakan

untuk mengembalikan waktu yang pernah kupinjam.

Aku ingin,

besok sepi lagi,

mengingat lagi

suara-suara

wajah-wajah

yang seharusnya tak bisa dilupakan,

menuliskan

apa-apa yang tak bisa aku lakukan

apa-apa yang tak bisa aku katakan.

Menunggu Hari Kemarin

Gairahkan hayal lamunanku, saat-saat menunggu hari kemarin

langit yang sama dengan hari kemarin, aku kembali memandangnya

suara-suara dari yang lalu, masih lalu lalang, dalam ruang, dalam benak, dalam hati

kakukan sendi di otakku, saat-saat menunggu hari kemarin

senyum senyum pemadam semangat

kenapa hari ini tidak kemarin?

atau

tangis-tangis pembakar jiwa tentang hari ini

tentang adanya aku detik ini

saat-saat menunggu hari kemarin

kemudian kepulan-kepulan awan hari kemarin menjadi hujan hari ini, yang hadirkan tangis senang  dan sedih tawa, saat-saat menunggu hari kemarin.

Nyanyian Abjad

“a b c d e f g h i j k l m n o p q r st u v w x y z“

Mari kita berbaris, membentuk kata-kata”

“Kata-kata yang indah, menari dan bermakna”

“Kata pun bergandengan, kalimat pun tercipta”

“Sungguh elok mereka, menyanyi berirama”

“Berjalan dan berlari, bersama-sama”

“Bentuk satu paragraf, dalam satu arena”

“Paragraf berkuasa, kertaspun tak berdaya”

“Tatap jauh ke sana, lembaran berikutnya”

“Buku-buku tercipta, ceritakan sgalanya“

“Tentang sebuah rahasia, sang pengembara“

“Atau sebuah cerita, tentang khayalnya“

“Bagi sebuah luka, penghilang duka lara“

“Bagi sebuah rasa, agar dunia berwarna“

Sedikit Hiperbolis

Membawa sedikit rasa ke dalam satu majas
saat ini ku tak ingin melihat wajah siapapun
cukup wajah perempuan itu

untuk saat ini
aku menyimpan wajahnya agar tak lupa
dalam memori yang menua

untuk saat ini
aku melihat dan mengingat wajahnya
sedikit demi sedikit
dari jutaan megapixel
kusalin rupanya
berapapun harus kusediakan ruang
kupertaruhkan sebagian yang lain
karena ini agak sedikit penting

ah..dia memang manis
dan hari ini,
aku sedikit agak hiperbolis

Tentang Hari Ini

Aku berhenti berjalan, berhenti di antara utara dan timur

di tengah-tengah taman yang berada dalam jeruji pikiran

menepati janji dengan seorang teman

dengan segelas minuman yang aku racik sendiri dari buah-buahan di taman ini.

Seseorang yang aku senangi

itu membuatku ingin membawakannya sesuatu

senang ketika aku tahu ada seseorang yang mendengarkan ceritaku tentang hari ini.

Aku berhenti berjalan, berhenti di antara utara dan timur

di tengah-tengah taman yang berada dalam jeruji pikiran

menepati janji dengan seorang teman

dengan segelas minuman yang dijanjikannya untukku.

Seseorang yang aku senangi

selalu membawakan sesuatu, walaupun tak ada sesuatupun dariku

senang mendengar ceritanya

Bercerita tentang rahasia langit dan laut yang selalu kelihatan bersama

dan makhluk-makhluk Tuhan yang bersenda dan bergurau di antaraNya.

Aku menyuruhnya untuk mencicipi minuman itu

mungkin tidak enak, ucapku

Tapi dia selalu menghabiskannya seperti

menghabiskan cerita-ceritaku tanpa sisa

Bercerita tentang rahasia langit dan laut yang selalu kelihatan bersama

dan makhluk-makhluk Tuhan yang bersenda dan bergurau di antaranya.

Dia memintaku untuk mencicipi minuman itu

mungkin tidak enak, ucapnya

itu benar, tapi selama itu darinya, aku akan selalu menghabiskannya seperti

menghabiskan cerita-ceritanya dengan lahap

Di antara ceritaku

biasanya aku berhenti sejenak untuk bertanya

apakah ceritanya indah

setelah dia mengangguk dan berkata teruskan

aku akan kembali melanjutkan

Di antara ceritanya

biasanya dia berhenti sejenak untuk bertanya

apakah ceritanya indah

setelah aku mengangguk dan berkata teruskan

dia akan kembali melanjutkan

Kadang aku menawarkannya

untuk mengulangi cerita dulu atau cerita tentang esok, saat kurasa cerita hari ini tidak menggigit.

Dia menolaknya, satu-satunya kesempatannya menolak

Kadang dia menawarkanku

untuk mengulangi cerita dulu atau cerita tentang esok, saat dia rasa cerita hari ini tidak menggigit.

aku menolaknya, satu-satunya hal yang selalu aku tolak

Saat aku selesai bercerita

aku menatap dalam-dalam wajahnya

membaca semua yang tersembunyi dalam matanya

apakah dia mengerti? aku selalu mengajukan pertanyaan dalam hatiku yang tak pernah aku ajukan padanya

kemudian menutup ceritaku dengan kalimat yang selalu sama

mungkin tidak sebagus kemarin,

mungkin esok tidak lebih bagus,

Saat selesai bercerita

dia menatap dalam-dalam wajahku

aku memeperlihatkan semuanya tanpa ada yang kusembunyikan

apakah aku mengerti? dia selalu bertanya-tanya dalam pandangannya

saat demikian aku selalu memberikan jawaban yang tak pernah didengarnya, tidak satupun aku mengerti, selama itu keluar darimu, dengan senang hati aku mendengarkanmu

kemudian menutup ceritanya dengan kalimat yang selalu sama

mungkin tidak sebagus kemarin,

mungkin esok tidak lebih bagus,

setelah itu aku berkata

lebih bagus dari kemarin

besok akan lebih baik

Senang saat ada seseorang

mendengarkanku bercerita

tentang hari ini.

I Just Got Married!!!

Dear Family and Friends

I have a secret that I wish to tell you

I did something to people that hurt me,

I did something to the girl that I love.

People that hurt me, I hung them

The girl that I love, I married her

I hung them in my Poetry

And

I married her in my Novel

 

Di Sela Bibir

Di sela-sela bibir
ada bincang-bincang
mereka di belakang
ada yang mencibir

Di sela-sela kantuk
ada pura-pura
ada pura-pura
di sela-sela batuk

Di antara duduk bersila
di antara benar-benar
aku yang benar
ada sela-menyela

Di sela-sela telinga
ada bisik-bisik
pirik-memirik
dengan kata-kata

Di sela-sela kita
ada hiruk pikuk
mereka merusuk
di antara tulang dada

Di sela-sela kalimat
ada pesan-pesan
ada bualan-bualan
apa yang didapat

Di sela-sela dusta
ada cerita
benar-benar ada
ada dusta-dusta

Di sela-sela waktu
ada yang tertinggal
di atas kapal-kapal
bilangan waktu berlalu

Di sela-sela nya
perlu tak perlu
tentu tak tentu
tentu saja

Di sela-sela siang dan malam
tak perlu
tak tentu
hilang dan tenggelam

Di sela-sela dulu nanti

ada kini

 

 

.

Disorderly

Moony moony shiny night
hand me the light
it’s alright
no one knows that they’re blind
they think they can see
it’s unright
it’s just wave
dissimilar length

starry starry rainy sky
showery
watery
let me dry
I think I’ve got nothing to say

loopy loopy groovy math
let’s play riddles
solve the puzzle
play the kink
convolute
winkle
crumple
till i tangle
cut the rope
here comes your turn

simply madly crazy words
it’s syllabled
between each deep breath
my game will wily
my wit trick tricky
it’s so lame
six words on the dice
past become steam
plunge into the present
disgorged for the future

dismissed!

Dari Hari Ini

Hanya sebuah catatan,yang aku sendiri tidak tahu intinya
Kupikir aku harus menuliskannya jika tak ingin semua terlupa

karena hidup tak sama seperti dulu lagi
dulu saat semua sudah jauh berlari
aku masih tenang menikmati sarapan pagi
tidak ada yang perlu kucemaskan
tidak ada yang perlu kutakutkan
karena aku tahu aku bisa mengejar ketinggalan

Kini rasanya tak seperti dulu
semua memori menghilang seiring dengan rambutku yang mulai berguguran
Aku bahkan harus melawan rasa kantukku untuk bangun dan segera menuliskan sesuatu
jika tak ingin saat pagi kebingungan

aku ingin mengeposkan tulisan ini ke masa lalu
ini lah aku saat ini yang selalu kau tunggu
aku tak tahu apakah kau ingin tetap segera menjadi diriku jika melihat diriku saat ini
atau kau akan menertawakanku
atau kau akan bersedih
karena aku telah melupakan sesuatu
tolong bantu aku,
aku tidak ingat lagi di sudut mana tercecer gelora-gelora itu
hasrat seorang bocah yang ingin menaklukan masa muda dengan semua rencana-rencana
aku hanya berharap saat kau menerima catatan ini semuanya belum tercecer
jika demikian halnya, kumohon untuk menyimpannya dengan baik
dan jangan sampai kau hilangkan
dan aku ingin kau simpan di buku pengingat
agar selalu bisa kulihat jika lupa
jika saja hal yang terjadi sebaliknya
kurasa tidak akan begitu sulit untuk menemukannya kembali

Jika kau bilang aku menyesali semua yang telah terjadi
aku tak punya nyali untuk membantahmu
memang begitulah aku, dan aku terima semua caci makimu
yah,..lalu apa lagi yang bisa aku lakukan

Aku juga ingin mengeposkan catatan ini ke masa depan
tapi sayang aku belum tahu dialamatkan ke mana?
ah…kupikir alamatnya bisa direncanakan dari hari ini.

Tentang Aku

Tentang Aku

Untuk kemarin, salah seorang guruku pernah berkata bahwa aku adalah seorang yang terlalu banyak keinginan.

Dan banyak yang mengatakan aku pemalas.

Ya, aku menyetujui mereka, memang aku.

 

Tentang Aku.

 

Untuk saat ini, sebenarnya tak ada yang lebih tahu tentang diriku sendiri selain aku, tetapi saat ada seseorang berkata,

“coba ceritakan padaku tentang dirimu.”

Disaat orang lain bercerita tentang tujuan hidupnya, cita-citanya, apa yang telah dilakukannya, apa yang sedang dilakukannya, dan kerja kerasnya, Aku hanya bercerita tentang namaku, umurku, tempat tinggalku, dan beberapa hal lain yang telah tertulis di KTP-ku.

Ingin rasanya seperti seseorang tersebut.

 

Tentang Aku

Untuk esok, jika seseoarang bertanya tentang aku, Aku belum mengetahui ingin melakukan apa, tapi setidaknya saat ini aku tahu beberapa hal yang tidak ingin aku lakukan.

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: