This Is A Song For You Mom From Your Son

 

Far and far away from home
Stronger and stronger I feel the bond
Dreams and hope my destination
Take me out leaving my home

Far and far away I leave the town
Lead me on to the day I was born
Dreams and hope that I’m reaching on
Calling and yelling towards me home Continue reading “This Is A Song For You Mom From Your Son”

Advertisements

It Feels Like

 

It feels like dancing in the rain
It feels like ice tea on July
When I fall in love
When I fall in love

It feels like flower in the spring
It feels like noodle in the winter
When I fall in love
When I fall in love

It feels like I’m falling in love
It feels like I’m falling in love
When I dance in the rain
When I dance in the rain

It feels like I’m falling in ……… love

Recently

 

I realize that recently
I miss you so endlessly
I think that I finally
I want you to be with me

I want you to be with me
I want you to be with me
I want you to be with me

Why do we have to wait
Why do we have to wait
Why do we have to wait

Percakapan di Peron 3

“Aneh rasanya kita harus bertemu di sini.” Aku kembali memulai percakapan mencoba menghilangkan rasa kantuk dan dingin yang menyerang bertubi-tubi setelah kami berbicara tentang banyak hal, ini dan itu sejak bertemu di halaman Bajrakli, seperti yang biasa dibicarakan oleh dua orang yang tidak saling kenal dan harus duduk bersebelahan di atas kendaraan umum yang melakukan perjalanan panjang. Sementara itu, penumpang di sebelahnya akan menjadi orang terdekat selama perjalanan tersebut dan kadang kita tidak bisa memilihnya, sehingga mau tidak mau terpaksa harus berinteraksi setidaknya dengan menyunggingkan sedikit senyum. Aku telah bercerita tentang Beograd dan dia rasanya juga telah mengkhatamkan cerita tentang Podgorica. Dia juga telah selesai bercerita tentang Bukittinggi, bagaimana dia setiap hari bisa melihat Jam Gadang dari jendela kamarnya, mungkin saja aku pernah melewati rumahnya dalam salah satu kunjunganku ke Bukittinggi, mungkin saja kita pernah berpapasan, tapi saat itu, hal tersebut mungkin bukanlah sesuatu yang menarik, hanya sesuatu yang biasa, sangat biasa, bertemu orang Indonesia di Indonesia, tidak ada yang istimewa, sehingga kalaupun papasan itu terjadi tidak akan ada alasan untuk bercakap-cakap, bahkan melempar pandangan saja mungkin tidak. Aku juga telah selesai bercerita tentang kotaku yang…yah…tidak banyak yang bisa diceritakan, dari dulu kotaku sepertinya begitu-begitu saja. Cerita-cerita yang membuat orang cepat bosan, cerita-cerita yang tak bisa membuat mata untuk tetap terjaga.

“Sekarang katakan bagaimana kau bisa mengenaliku sebagai orang Indonesia?”

“Bagaimana denganmu, kenapa kau langsung mengenaliku sebagai orang Indonesia?” Continue reading “Percakapan di Peron 3”

With A Do

So, now it’s up to you
You wanna go or you don’t
Oh dear what would you do
You wanna run Oh.. I hope you don’t

Oh dear I think it must a go
You have to start it with a do

Take the microphone
And tell it the whole town
That you don’t stop at the halftone
That you don’t stop at the halftone
And you’re ready on your own
And you’re ready on your own

 

Circadian Rhythm

Rindu Rinda

“Sibuk? Boleh cerita sesuatu?” Aku meneruskan melukis, bilang tidak pun dia tetap akan masuk ke kamarku dan bercerita selama berjam-jam. Kadang aku berfikir tidak ada salahnya, dia bisa sibuk dengan ceritanya dan aku dengan lukisanku. Akan tetapi pada saat-saat tertentu sering merasa kesal juga, apalagi saat dia tiba-tiba bertanya disaat aku sedang tidak ingin berbicara.

Aku: Kabarnya baik kan?

Dia: Dita?!! Random amat hahahah, kabar baik nih sangat baik, semuanya selesai sesuai deadline, kamu apa kabar?

“Begitu kira-kira pesannya,..” Dita tiduran telentang di Continue reading “Rindu Rinda”

Peckish

I am feeling peckish
Are You?
I am, come on spill the beans
a a not
not a sausage
hm.. no not a sausage
ah that’s long
it is

Melankoli Meloni

Meloni sungguh begitu
Melankoli mu berliku

Mabuk angan angan
Main sembarangan

Sembunyi melankoli
Sembunyikan meloni

Just For A While

 

Someday that I’m waiting for
is really far away
Someday I would never meet
if I’m giving up today

take me out to see the world
if it could encourage me
leave me in a deep dark where
nothing I can see

so I’m not gonna be the one who turn my back
when something hard for me
I’m not gonna be the one who lose his faith
when they show their back to me

and leave me
don’t you ever dare to wait me
and leave me
if you ever really love me

I’m gonna find my only journey
I’m gonna find my self a way
I’m gonna get my arms in ready
I’m gonna keep my head in cool

Just for a while
Just for a while
Just for a while
Just for a while….

you’re gonna leave me
you’re gonna leave me
you’re gonna leave me
leave me
leave me

Just for a while
Just for a while

Someday that I’m waiting for
is full of misery
Someday that I’m waiting for
it hides inside of me

“Percayalah Bu”

“Percayalah Ibu…”
“Dia dulu tidak seperti ini”
“Dia dulu tidak seperti itu”
“Ayolah Bu…”
“Dia dulu tidak begini dan begitu”
“Dia…..”
“Dia berubah”
“Anakku, percayalah….kamu sekarang lebih mengenalnya”

Untuk Kamu

Kamu senyum padaku
Begitu dekat
Duduk di dekatku
Begitu dekat
Kenapa tidak di sana
Begitu dekat
Kamu
Begitu dekat
Di sana ada bangku kosong
Begitu dekat
Aku bisa mencium wangi rambutmu
Begitu dekat
Semua tertawa dengan leluconmu
Begitu dekat
Aku tidak bisa tertawa pun berkata
Begitu dekat
Senyum yang
Begitu dekat, begitu dekat
Wangi yang
Begitu dekat, begitu dekat, begitu dekat
Menyitaku
Begitu dekat, begitu dekat, begitu dekat, begitu dekat
Kamu pakai sampo apa?

Zdravo

Zdravo, Beograd

Zdravo…!!! That’s one of the ways how people say “Hello” in Serbian and this is my answer to this week’s photo challenge.

Read

I wish I read more in anyway

Tentang Dia Yang Datang

Saat itu aku berharap waktu membeku saja.

“Terima kasih ya…” tanpa kusadari, kita sudah sampai di depan gerbang hijau. Selama dalam perjalanan kami, aku terlalu sibuk memilah gambar-gambar yang ingin aku simpan dalam memoriku. Aku terlalu sibuk memikirkan kata-kata, kalimat-kalimat dan paragraf-paragraf apa yang akan kutuliskan dalam jurnal harianku yang password-nya adalah nama dia, seperti password email-ku, password komputerku. Aku terlalu sibuk memikirkan siapa yang akan memerankannya nanti, siapa yang akan memerankanku nantinya, siapa yang akan memerankan teman-temanku sebagai pemeran pembantu dalam film-filmku, yang transkripnya tak pernah/belum sempat kutuliskan. Aku terlalu sibuk berharap dan berdoa agar saat itu waktu membeku saja, saat aku bersama dia.

“Ya.”

Waktu mencair begitu saja.

Okay,…sampai jumpa.” Tidak berani Continue reading “Tentang Dia Yang Datang”

A Good Match, weekly photo challenge

A Good Match, Yugoslavia

A Good Match, made in Yugoslavia

 

Pakt

Pohon cemara
kenapa kamu menangis?
bukankah dingin sudah berlalu,

bukankah kau ingin bercerita padaku mengenai siapa yang mendapatkan cintamu?
akankah kau tunda lagi?
dan kembali berkisah tentang barat dan timur yang bertemu di utara?
aku sudah bosan dengan itu.

Aku ingin mendengar ceritamu,
bagaimana kau mencoba berkelakar beberapa tahun ini,
apakah kau berhasil?

ketika kau datang dan pulang kembali
seperti yang Tuhan katakan
aku Continue reading “Pakt”

Dialogue dan Rivai.

2:36 pm, koridor Gedung D.

Dia   : Besok apa..?

Lo     : Medan, kontrol..

Gue : Oh.. Laplace…, tadi Matek, kalian gimana?

Lo     : C+, cukuplah.

Dia   : B, Cuma satu soal ga selesai.

Lo     : Nanti malam, di tempat lo?!!

Gue : Boleh, lo?

Dia   : Pukul tujuh?

Gue : Okay!

Lo     : Sip!!

8:17 pm, kosan Gue. Continue reading “Dialogue dan Rivai.”

In response to The Daily Post’s weekly photo challenge: “Creepy.”

IMG_3511

In response to The Daily Post’s weekly photo challenge: “Beneath Your Feet.”

Beneath my Feet

Dulu kepikiran, sekarang beneran ikutan WPC, gara-gara lihat Gara dan Ami 😀 mudah-mudahan bisa konsisten. I was lying on the floor when I looked at my feet, and it was a really great view 🙂

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: