(Hanya)

Di suatu masa, hiduplah seorang pemuda. Pemuda tersebut mempunyai seorang pujaan hati dan telah berniat dalam waktu dekat untuk melamar kemudian menikahinya. Selama ini hubungan mereka berjalan dengan baik, tidak pernah satu kalipun mereka bertengkar ataupun bersedih.

pexels-photo-189349.jpeg

Suatu waktu sebelum menyampaikan niatnya, pemuda tersebut ditugaskan oleh atasannya berangkat ke negeri lain untuk mengurus barang dagang dan beberapa urusan dagang lainnya sebagai wakil atasannya tersebut. Sebelum berangkat sang pujaan hati berpesan kepada pemuda tersebut agar dibawakan dua buah cindera mata dari negeri yang akan dituju si pemuda, satu untuk dia dan satu untuk sahabatnya. Permintaan sang pujaan hatipun dengan tanpa pikir diiyakan.

Tidak dimintapun pasti akan kubawakan sayang, batin sang pemuda. Namun ia tidak menyampaikan hal tersebut kepada sang pujaan hati.

Manusia memang tempatnya lupa, kepada siapapun janji dijanjikan tidak menutup kemungkinan janji tersebut terlupa. Sang pemuda baru ingat janjinya setelah kapal yang akan membawanya berlayar pulang ke negerinya mengangkat sauh. Continue reading “(Hanya)”

Advertisements

Percakapan di Peron 3

“Aneh rasanya kita harus bertemu di sini.” Aku kembali memulai percakapan mencoba menghilangkan rasa kantuk dan dingin yang menyerang bertubi-tubi setelah kami berbicara tentang banyak hal, ini dan itu sejak bertemu di halaman Bajrakli, seperti yang biasa dibicarakan oleh dua orang yang tidak saling kenal dan harus duduk bersebelahan di atas kendaraan umum yang melakukan perjalanan panjang. Sementara itu, penumpang di sebelahnya akan menjadi orang terdekat selama perjalanan tersebut dan kadang kita tidak bisa memilihnya, sehingga mau tidak mau terpaksa harus berinteraksi setidaknya dengan menyunggingkan sedikit senyum. Aku telah bercerita tentang Beograd dan dia rasanya juga telah mengkhatamkan cerita tentang Podgorica. Dia juga telah selesai bercerita tentang Bukittinggi, bagaimana dia setiap hari bisa melihat Jam Gadang dari jendela kamarnya, mungkin saja aku pernah melewati rumahnya dalam salah satu kunjunganku ke Bukittinggi, mungkin saja kita pernah berpapasan, tapi saat itu, hal tersebut mungkin bukanlah sesuatu yang menarik, hanya sesuatu yang biasa, sangat biasa, bertemu orang Indonesia di Indonesia, tidak ada yang istimewa, sehingga kalaupun papasan itu terjadi tidak akan ada alasan untuk bercakap-cakap, bahkan melempar pandangan saja mungkin tidak. Aku juga telah selesai bercerita tentang kotaku yang…yah…tidak banyak yang bisa diceritakan, dari dulu kotaku sepertinya begitu-begitu saja. Cerita-cerita yang membuat orang cepat bosan, cerita-cerita yang tak bisa membuat mata untuk tetap terjaga.

“Sekarang katakan bagaimana kau bisa mengenaliku sebagai orang Indonesia?”

“Bagaimana denganmu, kenapa kau langsung mengenaliku sebagai orang Indonesia?” Continue reading “Percakapan di Peron 3”

Prasangka semangka

Si Ibu bukan tokoh sebenarnya, Penjual Semangka bukan tokoh sebenarnya, saya bukan tokoh sebenarnya, semangka tokoh sebenarnya…harga semangka bukan harga sebenarnya.

“Berapaan semangkanya Bang?” Saya datang hampir bersamaan dengan si Ibu yang langsung bertanya kepada Penjual Semangka di pinggir jalan.

“Dua ribu sekilonya Buk.” Continue reading “Prasangka semangka”

Rindu Rinda

“Sibuk? Boleh cerita sesuatu?” Aku meneruskan melukis, bilang tidak pun dia tetap akan masuk ke kamarku dan bercerita selama berjam-jam. Kadang aku berfikir tidak ada salahnya, dia bisa sibuk dengan ceritanya dan aku dengan lukisanku. Akan tetapi pada saat-saat tertentu sering merasa kesal juga, apalagi saat dia tiba-tiba bertanya disaat aku sedang tidak ingin berbicara.

Aku: Kabarnya baik kan?

Dia: Dita?!! Random amat hahahah, kabar baik nih sangat baik, semuanya selesai sesuai deadline, kamu apa kabar?

“Begitu kira-kira pesannya,..” Dita tiduran telentang di Continue reading “Rindu Rinda”

Tentang Dia Yang Datang

Saat itu aku berharap waktu membeku saja.

“Terima kasih ya…” tanpa kusadari, kita sudah sampai di depan gerbang hijau. Selama dalam perjalanan kami, aku terlalu sibuk memilah gambar-gambar yang ingin aku simpan dalam memoriku. Aku terlalu sibuk memikirkan kata-kata, kalimat-kalimat dan paragraf-paragraf apa yang akan kutuliskan dalam jurnal harianku yang password-nya adalah nama dia, seperti password email-ku, password komputerku. Aku terlalu sibuk memikirkan siapa yang akan memerankannya nanti, siapa yang akan memerankanku nantinya, siapa yang akan memerankan teman-temanku sebagai pemeran pembantu dalam film-filmku, yang transkripnya tak pernah/belum sempat kutuliskan. Aku terlalu sibuk berharap dan berdoa agar saat itu waktu membeku saja, saat aku bersama dia.

“Ya.”

Waktu mencair begitu saja.

Okay,…sampai jumpa.” Tidak berani Continue reading “Tentang Dia Yang Datang”

Dialogue dan Rivai.

2:36 pm, koridor Gedung D.

Dia   : Besok apa..?

Lo     : Medan, kontrol..

Gue : Oh.. Laplace…, tadi Matek, kalian gimana?

Lo     : C+, cukuplah.

Dia   : B, Cuma satu soal ga selesai.

Lo     : Nanti malam, di tempat lo?!!

Gue : Boleh, lo?

Dia   : Pukul tujuh?

Gue : Okay!

Lo     : Sip!!

8:17 pm, kosan Gue. Continue reading “Dialogue dan Rivai.”

ALS

“Jadi kau menyukainya?”

“Siapa?”

“Kenapa kau berpikir kalau aku bertanya tentang seseorang?”

“Ayolah Bu, jangan mempermainkanku lagi.”

“Baiklah, jadi benar kau sedang memikirkan dia.” Continue reading “ALS”

Dr. Asrul, M.Sc.

Ceritanya begini, alkisah hiduplah seorang pemuda bernama Asrul. Dia adalah seorang supir bus antar kota di Sumatera Barat. Suatu hari, bus yang dikendarainya di tumpangi oleh seorang camat yang waktu itu berangkat tugas dinas ke kota Padang.

Asrul adalah pemuda yang sopan, tidak seperti sebagian besar supir bus lain dia mengnedari bus tidak ugal-ugalan, selalu ramah kepada setiap penumpang dan tidak segan menghardik kondektur yang ikut bersamanya jika ia mendapati kondektur tersebut berlaku tidak sopan atau berbicara kasar di dalam bus. Si Bapak Camat ini senang dengan prilaku Asrul oleh karena itu setiap dia ada tugas ke Padang dia selalu menunggu bus Asrul.

“Waang nio baok oto den Srul 1?” Suatu hari bapak itu bertanya kepada Asrul sekembalinya dari Padang.

“Waden alun abeh baok oto lai doh, malakik den lanca, ang tolong lah maanta-antaan den lu. Baa gak ati2?”

“Jadih Pak3.” Asrul langsung menjawab tanpa berpikir panjang.

***

Sampailah akhirnya berakhir masa jabatan bapak itu sebagai Camat karena dia diangkat jadi Walikota.

“Awak sanang bakarajo jo Apak, tapi ado taraso di hati nandak mancubo parantauan6.” Itulah kalimat terakhir yang keluar dari mulut Asrul saat berpamitan sebelum berangkat merantau ke Jakarta.

Dia merasa gajinya yang sekarang memang sudah lebih dari cukup untuk dirinya sendiri, dan tentunya akan lebih besar jika dia menjadi supir walikota. Akan tetapi adiknya yang paling kecil dan yang paling besar sebentar lagi akan duduk di bangku smp dan kuliah dan itu akan membutuhkan lebih banyak biaya. Sementara penghasilan bapaknya perbulan hanya cukup untuk dapur. Oleh karena itu dia memutuskan untuk merantau ke Jakarta, dengan harapan untuk penghasilan yang lebih baik.

Kuli, kaki lima, toko semipermanen, toko permanen sampai mempunyai bebecara toko permanen. Berkat kegigihannya semua tahap tersebut dilalui oleh Asrul dalam jangka waktu lima tahun dan di tahun keenam dia berencana akan mempersunting seorang gadis Minang yang saat itu sedang kuliah di Jakarta dan sedang di semester akhir.

Bulan yang di nanti akhirnya datang, si gadis selesai kuliah dan siap untuk menikah. Asrul segera memberi kabar ke kampung.

“Jadi, Amak jo Abak jo nan ka barangkek nyo? Adiak-adiak ndak nio ka mari?5

“Jo sia jawi ka ditinggaan6?” Bapaknya menjawab singkat pertanyaan Asrul tersebut, saat dia menelpon ke kampung.

***

“Lah di ma Abak? lah di Tabiang7?”

“Alah8.”

***

Asrul tinggal di salah satu komplek perumahan dosen di Depok. Semenjak masuk komplek perumahan tersebut Abaknya tidak henti-hentinya membaca satu-persatu nama yang tertera di depan pintu masing-masing rumah tersebut. Dan Amaknya selalu bertanya jika rumahnya masih jauh karena dia masih merasa aneh setelah turun dari pesawat dan ingin tidur atau berbaring sejenak. Akhirnya mereka sampai di sebuah rumah bercat putih dengan pintu bercat coklat tua, di bagian depan rumah tertera nama Dr. Asrul, M.Sc.

Amak dan Abaknya terkejut melihat hal tersebut.

“Yuang, baa kok ndak pernah ang bacarito kalau waang sikola di siko9?” Amaknya bertanya.

“Tapi, kalau dotor ko lamo sikolanyo mah, waang den ituang-ituang baru anam tahun di siko10?!” Abaknya berkata dengan bingung.

Pages: 1 2

Senyum Jamil

Hari segera mengamit lengan Nam setelah Jamil menjauh dan berada di tempat di mana dia tidak akan bisa mendengarkan pembicaraan mereka.

“Aku tahu, aku telah berjanji untuk membalas budimu, tapi bukankah menurutmu kau bisa menggunakan kesempatan tersebut untuk hal yang lebih baik…? Penting..?!”

“Aku juga tidak begitu yakin, tapi aku ingin bertaruh dengannya saat ini.” Nam berkata dengan lesu.

“Kenapa apakah ini masih tentang idemu, bahwa setiap orang bisa berubah?”

“Bukankah kau salah satu buktinya?”

“Nam, saat itu aku terpuruk baru sebatas mata kakiku, ingat? Dia..?! Continue reading “Senyum Jamil”

Pawai

Aku perlahan bergerak menuju tempat dimulainya sekaligus tempat berakhirnya pawai. Menatap setiap wajah yang bisa kutangkap dengan mataku. Berharap tidak melihat wajah adikku.

“Bang.!!”

Orang-orang melihat semua ke arah vespaku Continue reading “Pawai”

Media Tidak Membalasnya

Pikiranku kembali berputar-putar di masa lalu, ketika itu kami masih sama-sama pengurus BEM Fakultas Kedokteran. Aku sama sekali tak pernah bisa menjelaskan kenapa setiap bergabung dengan organisasi apapun semenjak di sekolah menengah pertama selalu kebagian menjadi anggota seksi perlengkapan, kesekretariatan atau departemen atau bagian yang berhubungan dengan salah satu dari dua hal tersebut. Dari dulu, selalu saja berakhir di sana.

***

Lebih jauh melihat kebelakang, tiga tahun sebelumnya. Saat itu malam “operasi” malam keakrabannya fakultas setelah kita diospek selama kurang lebih enam bulan. Mulai dari malam itu kami semua boleh menggunakan nama kami yang telah tertulis di akte kelahiran kami lagi. Saat ospek hanya kami berdua yang diberi label nama yang sama “alien” dia alien satu dan aku alien dua, selebihnya mempumyai nama yang berbeda satu dengan yang lainnya.

Menurutnya aku plin-plan, ragu-ragu Continue reading “Media Tidak Membalasnya”

Pria Yang Di Bawah Matanya Ada Lingkar Hitam

Pria itu hitam legam, sehari-hari dia bekerja sebagai penjaga perpustakaan daerah di kota ini.

Nenekku mulai bercerita.

Setiap aku berangkat ke sekolah aku selalu bertemu dengan pria hitam itu dan setiap itu pula terlintas dalam pikiranku apa maksud Tuhan menciptakan dia dengan warna kulit seperti itu di negeri kami yang semuanya berkulit kuning langsat dan kalau pun hitam, itu tidak legam seperti Continue reading “Pria Yang Di Bawah Matanya Ada Lingkar Hitam”

Pensil 2B

“Aku bersyukur dan menyukai pekerjaan ini.” Katanya.

“Aku bersyukur mempunyai pekerjaan, bukan karena banyak orang yang tak mempunyai pekerjaan.” Tambahnya.

“Apa maksudmu berkata begitu?” tanyaku.

“Tidak ada maksud apa-apa.”Jawabnya.

“Lalu sekarang apa yang akan kaulakukan?”

“Makan, aku lapar.” Dia menarik-narik benang dari tali sepatunya yang hampir putus.

“Bukan itu jawaban yang kuinginkan.” Ucapku kesal.

“Kenapa jawabanku harus sesuai dengan keinginanmu?” Dia berhenti menarik benang tersebut dan memandangku dengan tajam.

“Kita tidak membicarakan tentang apa yang akan kau lakukan setelah ini, setelah kita pergi dari tempat ini.” Sanggahku.

“Bukankah kau sudah punya jawaban yang kau inginkan?”

“Aku memang menginginkan suatu jawaban, benar-benar jawaban, bukan sesuatu yang tiba-tiba saja ada dipikiranmu dan hal itu sama sekali bukan berarti aku punya jawaban.”

“Lalu bagaimana seharusnya aku menjawab pertanyaanmu?”

“Ah lagi-lagi, sekarang kau mencoba menjebakku!!”

Dia diam, tapi kemudian berkata,

“Sebenarnya selama ini……”

Dia tidak melanjutkan kalimatnya melainkan cuma diam dan tersenyum. Senyuman yang sama seperti beberapa waktu yang lalu saat aku baru mengenalnya. Dia kemudian bersandar merebahkan badannya ke pohon yang ada di belakangnya. Aku sedikitpun tidak mau memalingkan pandanganku dari wajahnya, untuk tiga tahun ke depan mungkin hanya beberapa hari lagi aku bisa menikmati wajahnya seperti saat ini di hadapanku.

***

Aku adalah orang yang berharap kisah cintaku seperti dalam roman-roman. Pertemuan-pertemuan yang tidak disengaja, kebetulan-kebetulan yang indah, atau kejadian-kejadian yang aneh yang akan mempertemukanku dengan seseorang yang nanti akan menjadi sebuah cerita cintaku. Akan tetapi hal seperti itu agaknya enggan menghampiriku. Aku terus menunggu, terus berharap suatu saat aku akan menemui hari tersebut, tapi tetap tidak ada yang terjadi.

Lalu aku berfikir untuk menciptakan kebetulan-kebetulan, ketidaksengajaan, seperti dalam roman-roman yang pernah kubaca, atau film-film yang pernah kulihat, tidak ada salahnya. Walaupun kisahnya tidak akan sempurna, setidaknya setelah babak pertama aku reka, aku akan membiarkan babak selanjutnya berjalan sendiri tanpa naskah.

Sepuluh bulan yang lalu, saat mengikuti tes di sebuah perusahaan, di sana aku pertama kali melihatnya. Hari pertama, kedua, ketiga, tidak ada yang terjadi. Akan tetapi pada hari keempat juga tidak ada yang terjadi, hari itu berlalu seperti hari sebelumnya. Kemudian pada hari kelima juga sama dengan hari sebelumnya tidak ada yang terjadi. Sepertinya Tuhan tidak mau memberikan satupun kesempatan untukku berkenalan dengannya. Saat itu, tidak ada buku catatan yang tercecer, tidak ada dompet yang ketinggalan, tidak ada handphone yang terjatuh, padahal aku sudah mengawasi dia dengan setia dan selalu siap kalau saja salah satu hal itu terjadi atau hal lainnya sebagai alasan aku bisa berkenalan dengannya.

Tidak ada jalan lain, akulah yang harus menciptakan kesempatan itu. Hari keenam, seperti biasa aku duduk di belakangnya. Saat panitia tes memberikan waktu untuk ke belakang, hampir sebagian peserta tes keluar dan dia salah satunya. Setelah dia keluar dan aku benar-benar yakin tidak ada yang memperhatikan bangkunya, wshh…!!! Secepat kilat aku menyambar pensil di mejanya. Lalu aku keluar, aku membuangnya ke tempat sampah.

Selanjutnya mungkin kau sudah bisa menebak bagaimana jalan ceritanya.

Sepuluh hari yang lalu kami menikah, dan tiga hari lagi dia harus pergi selama tiga tahun, tanpa ada kemungkinan kami bisa bertemu sebelum tiga tahun itu selesai.

***

“Ah…” Dia tidak melanjutkan kalimatnya yang tadi terputus, melainkan melemparkan sebuah bungkusan.

Dia tersenyum, aku tidak tahu apakah itu sebuah senyuman sinis, atau senyuman seperti biasa yang selama ini selalu dia tunjukkan padaku, aku tidak bisa membedakannya karena begitu kaget setelah membuka bungkusan itu dan melihat sebuah pensil, sebuah pensil. Pensil 2B yang dulu kupinjamkan kepadanya.

“Dulu ada seseorang yang berbaik hati meminjamkan pensil itu kepadaku, disaat aku kehilangan pensilku.” Dia berucap tanpa mengalihkan sedikitpun pandangannya dari mataku. Aku mencoba untuk tersenyum

“Dan sebagai imbalan atas kebaikannya dia memintaku menuliskan nomor telfonku, dan menyimpan pensil itu. Sekarang aku ingin memberikan pensil itu kepada seseorang dan berharap dia tidak menghilangkan pensil itu seperti dulu bagaimana dia telah menghilangkan pensilku.”

“Bukan begitu sayang?” Aku diam, tidak tahu apa yang harus kukatakan. Saat aku mulai ingin berbicara kurasakan bibirku bergetar hebat. Sempat ada keinginan untuk mengelak, untuk menyimpan rahasia itu sedikit lebih lama. Dia terus memandangku, memacu jantung ini berdebar lebih kencang lagi. Dia mengetahuinya entah bagaimana sekarang,aku menjelaskan semuanya kepadanya.

“Yah,……”Akhirnya hanya itu yang keluar dari mulutku. Aku cuma menghirup nafasku dalam-dalam dan menghembuskannya keluar. Tidak ada yang perlu disanggah atau dijelaskan lagi, dia sudah mengetahui semuanya.

“Kau tahu…? Kenapa baru sekarang? Kenapa dulu kau mau saja…..? ”

“Aku juga tak ingin membiarkanmu berlalu begitu saja.” Jawabnya sambil tersenyum.

“Kau gila!”

“Tidak, aku hanya lapar.”

Payung

“Ingat, ini payung kakek yang ketiga jangan sampai seperti kemarin-kemarin lagi!” Ucapnya sambil membenarkan seragamku. Aku memegang payung itu, sepertinya payung ini lebih berat dari payung-payung yang sebelumnya kuhilangkan, dan ada kesat bekas goresan di gagangnya.

“Baik kep.” Jawabku sambil tersenyum.

Sekarang sedang musim hujan, tidak hanya di Padang tapi hampir di seluruh wilayah Indonesia. Oleh karena itu hampir tiap hari aku disuruh kakek membawa payung ke sekolah.

“Assalammu ‘alaikum.”

“Wa ‘alaikum salam.” Jawab kakek.

Pagi ini hujan belum turun, langit sudah gelap dan suhu kota padang mulai dingin. Aku menyukai saat berjalan kaki dari rumah menuju pemberhentian bus melewati jalan Veteran, kemudian belok kiri melalui jalan Ahmad Yani, walaupun ada jalan lain melalui sisi belakang rumah kakek yang lebih dekat jaraknya. Aku sendiri tidak tahu alasannya kenapa, tapi aku menyukai jika melewati  kedua tempat ini dengan berjalan kaki, apalagi jika saat itu sedang gerimis.

***

Meskipun jam sudah menunjukkan pukul setengah Continue reading “Payung”

Kisah Gilang dan Gilung

Penduduk Desa Sudahadasejaklama tinggal di lereng-lereng gunung. Rumah mereka berupa lubang-lubang menyerupai gua yang mereka buat bersama-sama dengan melobangi gunung. Hanya perangkat-perangkat desa yang tinggal di gua-gua asli. Jika anda sempat berjalan-jalan ke desa tersebut, anda akan melihat pada bagian atas lubang-lubang tersebut ada nama keluarga mereka yang hanya terdiri dari dua piku (huruf) seperti NG (baca ge en), NY (baya  en ye), VB (baca be ve). Nama keluarga tersebut dibaca berdasarkan piku pertama yang muncul dalam bejaad (abjdad mereka). Lalu bagaimana jika nama keluarga mereka BV? Apakah nama keluarga mereka juga be ve? Tidak, jika urutannya sudah benar maka nama keluarga mereka koku BV (memang be ve). Begitulah aturannya saat itu.

Kisah ini tentang keluarga NG (kok en ge kan sudah dibilang tadi bacanya ge en, diulang ya…..)

Kisah ini tentang keluarga NG (Lha kok masih ada yang bilang en ge?!!  Ayo sekali lagi)

Kisah ini tentang keluarga NG (Nah…. Gitu dong…baru bener) yang tinggal di lubang bagian utara paling bawah Gunung Ldertgu (ledertegu).

Desa Sudahadasejaklama, di situlah keluarga NG menetap. Desa ini merupakan sebuah desa dari sebuah Republik Yangnamanyadulubukanindonesia. Kisah ini terjadi pada zaman dahulusaja.

***

“Pakurang….Pakurang… gedo q bingka, Makurang sen caplos… Continue reading “Kisah Gilang dan Gilung”

Tidak Lebih Baik

“Pak Hurbi adalah tetangga baru kami. Dia membeli rumah  keluarga pak Kor beberapa bulan yang lalu. Setelah melakukan perbaikan di sana-sini, akhirnya minggu lalu dia mulai menempati rumah yang baru dibelinya tersebut. Aku hanya berharap dia tidak seperti pak Kor. “

“Pak Kor adalah seorang pensiunan tentara, dia orang yang merasa dirinya hebat dan suka perintah-perintah. Siapapun yang pernah bertemu dengannya pasti pernah diperintahnya. Tidak hanya itu semua yang diperintahkan harus dikerjakan sesuai dengan petunjuknya. Jika saja seseorang yang diperintahnya untuk melakukan sesuatu itu diketahuinya tidak melakukan sesuai instruksinya walaupun yang dikerjakannya itu hasilnya sama, sepanjang hari dia akan mengomel tanpa henti tapi bukan kepada orang itu. Atau dia hanya diam menghirup nafas dalam-dalam kemudian memandang menerawang jauh entah kemana, dan dari ekspresi wajahnya aku bisa mendengar dia berkata tidak ada yang bisa diandalkan dari orang-orang bodoh ini. Kemudian memandang mereka dengan tatapan menjijikan yang membuatku ingin menonjok mukanya. “

“Dulu aku mengiyakan untuk menjadi pembantu di rumahnya walaupun ada tawaran dengan gaji yang lebih menarik untuk bekerja di tempat lain, karena kupikir dia orang tua yang menyenangkan yang kusimpulkan dari beberapa percakapan kami saat dia baru beberapa hari menjadi tetanggaku. Saat itu aku juga berpikir hitung-hitung bisa beramal. Ternyata aku tidak memerlukan tiga hari untuk mengetahui tabiatnya. Dia sangat berbeda sekali dengan apa yang dia tampilkan di depan orang banyak. Bahkan sampai sekarangpun orang-orang tidak mengetahuinya, dan mereka iri padaku karena mereka berpikir aku mempunyai majikan yang begitu menyenangkan. Aku hanya dapat tersenyum kecut dalam hatiku. Andai saja mereka tahu kalau dia selalu punya komentar-komentar jelek tentang mereka setelah berbicara dengan mereka yang selalu dikatakannya kepadaku.”

“Tidak hanya tetangga-tetangga kami yang dijelekannya bahkan temannya sendiri, si A makan seperti sapi, si B terlalu pelit, si C inilah. Aku mungkin bisa menerima komentar-komentarnya jika saja dia tidak seperti itu. Akan tetapi kenyataannya dia tidak lebih baik dari pada orang yang dibicarakannya. Aku sebenarnya tidak tahan lagi, tapi apa boleh buat gajiku buat setahun sudah dibayarkan kepada ibuku, sehingga aku harus menyelesaikan kerja yang gajinya sudah diterima, karena pada saat itu adikku butuh uang buat masuk ke perguruan tinggi, dan dia mau membayar satu tahun gajiku asal dikorting. Aku bahkan telah bicara pada ibuku tentang ketidaknyamananku bekerja dengan dia. Bahkan aku mulai mencari pinjaman untuk mengganti uangnya kemudian berhenti bekerja dengan dia setelah aku mengembalikan uangnya, tapi ibuku melarang. Jika ibu sudah melarang untuk berhenti, aku tidak bisa apa-apa lagi.”

“Menurutmu aku harus bagaimana?” Akhirnya aku bertanya pada Lusi setelah bercerita panjang lebar.

“Mir, aku juga belum bisa memberikan masukan padamu.” Aku tahu Lusi cuma menghiburku dengan kata-kata belum bisa padahal aku tahu sebenarnya jawabannya tidak bisa.

“Beberapa minggu ini kau selalu datang ke tempatku dan menceritakan hal yang sama, kenapa kau tidak menerimanya saja? Kenapa kau tidak menerima saja kenyataan bahwa memang dia……..”

“Kau tidak suka aku datang ke tempatmu?” potongku.

“Bukan, kenapa kau tidak menerima saja kenyataan bahwa dia memang seperti itu? Dan kenapa tidak kau coba untuk berbicara dengannya? Bukankah selama ini dia hanya bercerita kepadamu?”

“Mudah bagimu berbicara seperti itu, bagaimana kalau kau sendiri yang mengalami hal tersebut? Kau pasti…?”

“Tapi kau datang ke sini kan Mir?” Bukankah kau minta pendapatku?”

“Aku belum selesai bicara!” ucapku.

“Baik, teruskan.”

“Aku sudah selesai .” Ucapku kesal, berharap bisa membalas Lusi yang tiba-tiba memotong ucapanku tadi.

“Baik, kau selalu datang ke sini setiap kau kesal, kau selalu menceritakan hal yang sama, bertanya apa yang harus aku lakukan, mengeluh aku harus bagaimana, dan ketika kucoba untuk memberimu saran kata-kata seperti itu yang kau berikan kepadaku. Kau tahu, kau mulai seperti dia, setiap datang ke sini kau selalu menceritakan kejelekan-kejelekannya, merasa kau lebih benar, merasa kau lebih baik dari dia dan………”

“Praaakkk.” Aku pergi setelah membanting pintu rumah Lusi, aku masih mendengar dia meneriakan sesuatu kepadaku, aku tidak peduli.

 

 

 

Jendela

“Apa yang sedang kau risaukan kawanku?” Aku kembali teringat percakapanku beberapa tahun yang lalu dengan Natan.

“Hei, sedang terbang ke awan rupanya kawanku ini..“ Dia kemudian menghirup kopi dari gelasnya setelah melontarkan pernyataan ini tanpa melihat ke arahku. Aku menoleh ke arahnya tapi dia tidak menoleh ke arahku, dia hanya melihatku dari sudut mata kirinya. Aku menggoyang-goyangkan kakiku dari jendela kamar kos ku ini. Jendela ini menjadi tempat pengakuan dosa kami, tempat keluh kesah kami berdua, tempat berbagi senang dan duka, tanpa pernah kami sepakati. Semua terjadi begitu saja, jika salah satu diantara kami merasa senang, sedih, atau bercerita tentang apapun di sinilah kami biasa saling bercerita. Semua sesak kami berlalu dari jendela ini, seperti bau apek kamar kami yang selalu berlalu jika jendela ini dibuka.

“Menurutmu kebaikan itu apa?” aku melontarkan hal yang ada di kepalaku saat ini kepadanya.

Dia tidak langsung menjawab pertanyaanku, dia menggoyang-goyangkan gelas kopinya, dan melihat kedalam gelas yang tinggal ampas kopi tersebut.

“Kurasa kopiku sudah habis.” Dia pergi ke dapur menambah kopinya.  Kemudian duduk di tempat semula.

“Ha, aneh kawanku ini, kenapa harus kau risaukan pula kebaikan?”

“Aku tak ingin pertanyaanmu atas pertanyaanku, aku ingin jawabanmu atas pertanyaanku.”

“Kawanku, jika dibandingkan denganmu pendidikanku tidak ada apa-apanya, seharusnya akulah yang bertanya padamu tentang hal itu.”

“Memang,” aku berhenti sejenak dan menghela nafasku dengan panjang. Memang begini biasanya kalau bicara dengan Natan berputar-putar. Tapi aku suka pendapat-pendapatnya, kadang-kadang aku merasa dia lebih bijak dari diriku.Walaupun pendidikannya cuma sampai sekolah dasar.

“Akan tetapi kau lebih dulu terjun ke dunia.”Sementara aku masih mengorek dari dompet kedua orangtuaku, dia sudah berjuang sendiri untuk menghidupi dirinya. Dan itu belasan tahun yang lalu sebelum kami berpisah. Dan takdir mempertemukan kami kembali di sini di kota ini.

“Entahlah kawanku, kurasa aku tidak punya pendapat mengenai arti kebaikan. Hanya saja…”

“Apa ?” potongku tidak sabar.

“Ketika aku tidak jadi melakukan sesuatu dan aku menyesal tidak melakukannya, kukira itulah hal yang kau maksud.”

“Aku kemarin menyesal tidak jadi menjaili Suli, apakah aku tidak melakukan kebaikan dengan menjailinya karena dia begitu kasar kepadamu.”

“Tidak, bukan begitu maksudku. Penyesalannya datang jauh dari dalam sini.” Dia menunjuk dadanya, kemudian melanjutkan,

“Di sini terasa begitu menyempit, jika aku tidak jadi melakukannya, dan jika aku melakukannya terasa begitu lapang, berat badanku seolah menjadi ringan. Aku merasa seperti bisa dihembuskan oleh angin.”

***

Aku terdiam, sebenarnya aku sering merasakannya, hanya saja aku sering mengabaikannya. Aku melakukan apa yang kupikir baik, bukan yang kurasa dan kupikir baik. Begitu banyak hal yang kulakukan dan sebenarnya aku merasa sangat menyesal melakukannya. Dan malam ini aku merasakannya lagi.

“Eh, lu jangan bengong, Keburu pagi nih!!” bisikan Bang Suta mengagetkanku.

“Iya bang” ucapku sambil berbisik.

“Kenapa jendelanya lu buka?”

“Biar gampang kabur bang, biar nggak kayak kemaren.” Aku mencari alasan.

“Tumben pinter lu.” Pujinya

“Kan abang yang ngajarin.” Aku mulai muak memujinya tidak seperti yang biasa kulakukan, tapi tetap kupaksakan.

“Eh, bener-bener.”Ucapnya sambil garuk-garuk kepala.

“Prankkkkk………”

“SIAPA DI SANA…..!!!”

Piring pajangan itu sengaja aku jatuhkan karena itu satu-satunya cara agar niat kami batal. Sebuah suara terdengar dari dalam kamar, aku segera kabur. Di depanku Suta kelihatan lari pontang-panting, dia kelihatannya tidak memikirkan diriku, dia lari sendiri menyelamatkan dirinya. Aku mengikutinya kabur dari rumah yang akan kami maling melalui jendela yang telah kubuka sebelummya. Dia berbelok ke kanan ke arah kami datang tadi. Aku memilih berbelok ke kiri, aku tidak ingin mengikutinya lagi. Aku tidak peduli, gerombolannya akan mencariku, Aku tidak peduli jika besok aku dikarungkan oleh. Akan kuterima semua itu.

Benar kawanku terasa sangat lapang sekali, aku seperti bisa terbang, kejahatan itu menguap dari tubuhku, aku seperti tidak menginjak bumi, seperti katamu. Dan seperti yang kita sepakati dahulu, dari balik jendela kebaikan yang kecil akan kita tanam dan akan tumbuh menjadi pohon-pohon harapan bagi semua,  dan kita uapkan kejahatan ke angkasa berapapun beratnya, biar menjadi suci dan turun sebagai kebaikan bagi semua.

Ceritanya Panjang

“Ceritanya panjang, hehehehe..”

Ludi, begitu orang kampungku memanggil laki-laki gila itu. Ludi hanya dua tahun lebih tua dariku. Dia dulunya adalah kakak kelasku. Ludi menamatkan sekolah dasarnya tahun 1995, walaupun bukan juara kelas Ludi merupakan pemilik NEM tertinggi se-kabupaten pada tahun tersebut. Sejak saat itu dia menjadi idolaku, aku ingin seperti dia. Walaupun kami tidak pernah berbicara satu sama lain.

Dia melanjutkan SMP-nya di SMP unggulan. Pada tahun pertama caturwulan I, dan caturwulan II dia selalu ada di tiga besar. Aku mengetahui ini semua dari kakakku yang satu sekolah dengan dia, tetapi tidak satu lokal, dia ada di lokal unggulan sedang kakakku tidak. Dia hanya dua caturwulan berada di SMP tersebut, setelah itu dia pindah keluar kota. Tidak ada yang tahu alasan dia pindah ke kota lain, tentu saja pihak sekolah tahu alasan kepindahannya.  Akan tetapi sepertinya dirahasiakan, karena tidak ada satupun murid yang tahu kenapa dia pindah. Dia sendiripun tidak bercerita dengan teman-temannya.

Beberapa minggu sebelum kepindahannya aku sempat bertemu dengannya dan memperkenalkan diriku sebagai adik kelasnya. Saat itu aku bertanya kepadanya bagaimana caranya agar bisa pintar seperti dia, bagaimana cara belajarnya, apa saja yang dilakukannya, berapa lama dia belajar dalam sehari. Namun dia hanya menjawab,

“ceritanya panjang, hehehehe..”

Aku tidak tahu apa yang terjadi denganku saat itu. Aku hanya anak kecil saat itu, dan aku begitu mengidolakan dia. Awalnya aku merasa kehilangan seolah-olah aku tidak bisa melihat siapa yang harus aku ikuti. Namun itu semua menyalakan api dalam diriku, sehingga aku bisa melihat jalan setapak yang akan kulalui.

Aku yang dulunya begitu pemalas, sejak saat itu aku mulai belajar gila-gilaan. Aku belajar seperti orang yang dikejar-kejar sesuatu. Semangatku begitu menggebu-gebu, tidur setiap malam selalu jam satu, tak terkecuali Sabtu dan Minggu. Awalnya ini semua terasa berat bagiku namun setelah melaluinya beberapa minggu, semua terasa biasa.

Orang tuaku khawatir dengan cara belajarku seperti ini, namun segala kecemasan mereka tertimpa oleh rasa senang saat aku menerima rapor pada caturwulan ke tiga. Sejak saat itu orang tuaku menjadi orang tua paling bahagia diantara orang tua teman-teman sekelasku. Berbagai lomba mata pelajaran yang kuikuti selalu meraih juara, gelar murid teladan juga tiap tahun kuperoleh selama di SMP, dan aku selalu menjadi juara kelas sampai semester terakhir di SMA unggulan di Provinsiku. Semua formulir PMDK yang ku lamar di terima, dan itu semua di institut dan universitas terbaik di negri ini. Beberapa beasiswa untuk kuliah di luar negripun hanya tinggal satu tes terakhir, tes kesehatan. Tapi aku memutuskan untuk tidak kuliah.

Sekarang sudah empat tahun aku tamat SMA. Aku sekarang berkebun di kampungku. Satu tahun yang lalu Ludi dan ibunya kembali lagi ke kampung kami. Setiap pulang dari kebun aku selalu berhenti sejenak di depan rumahnya untuk melihatnya. Aku merasa kasihan dengannya karena sekarang dia gila. Ibunya tidak mau bercerita kepadaku, dan ayahnya, sejak mereka kembali ke kampung entah darimana, aku tidak pernah melihatnya. Saudara-saudaranyapun tidak ada yang mau bercerita kepada orang-orang di kampung. Namun bagaimanapun orang-orang di kampung tetap menerima mereka sekeluarga dengan baik.

Walaupun dia gila kurasa saat ini dia mengenalku dengan baik, karena hapir setiap hari aku berhenti di depan rumahnya, setiap kali aku berhenti di depan rumahnya dia selalu berdiri di belakang jendelanya yang berjeruji dan berkata

“Ceritanya panjang hehehehe,” lalu tertawa terkekeh-kekeh, kemudian menghilang dari balik jendela.

“Oi..gila…gila…gila, “ aku melihat anak-anak SD yang baru pulang sekolah bersorak-sorak.

“Huss..nggak boleh gangguin orang, sana-sana pergi…!!” Pak Karman penjaga sekolahku, yang dari dulu sampai sekarang belum tergantikan, kebetulan lewat kemudian mengusir anak-anak tersebut.

Dia kemudian mengeluarkan enam buah permen yang harganya lima ratus perak tiga dari kantongnya. Aku cepat-cepat merebut permen tersebut dari tangannya. Kemudian dia berkata,

“sekarang pulang ya,” sambil mengusap-usap punggungku.

Aku tersenyum, kemudian berlari-lari pulang. “Gila” itu panggilan lainku, dan kurasa itu nama yang bagus.

Kau tahu kenapa aku Gila?

“Ceritanya panjang hehehehe.”

Surat Untuk Judith (tamat)

sebelumnya

“Heehhhh!!!” tidak ada lagi suara desisan tawa yang tersisa, mereka bertiga kaget dengan suaraku.

“Emangnya kenapa da?” kali ini Judith balik menayaiku setelah aku menanyakan di mana buram skripsinya tadi.

“Eh, nggak apa-apa.” Aku berusaha menenangkan diriku tapi tidak bisa, senyum yang kupaksakan terasa aneh. Akan tetapi akan lebih aneh lagi rasanya kalau surat itu ketahuan oleh pembimbingku, kemudian dosen lain, pegawai jurusan, fakultas, kampus, seterusnya dan seterusnya semua orang akan tahu.

Aku segera berlari menuju ruangan dosen di lantai dua. Sepertinya setiap orang yang kulewati sudah membaca surat itu, dan mulai menertawakanku. Semua perasaan aneh itu sudah mulai merayapiku perlahan-lahan. Menimbulkan khayalan-khayalan yang bisa dijadikan satu episode sinetron dengan durasi dua jam. Continue reading “Surat Untuk Judith (tamat)”

Surat Untuk Judith (2)

Cerita sebelumnya

Surat itu kuselipkan hati-hati dalam buram skripsi Judith yang kemaren diserahkan oleh pembimbingku. Aku disuruh dosen pembimbingku untuk mempelajari laporannya karena ada beberapa hal yang nantinya dapat digunakan sebagai acuan dalam skripsiku. Setelah itu buram skripsi ini harus diserahkan lagi ke Judith.

Wajah yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga. Aku menghampirinya, semua mata kelihatan menoleh ke arahku, aku menoleh kiri dan kanan mau membalas tatapan itu, tapi ternyata tidak ada yang memperhatikanku ternyata hanya perasaan saja.

“Yud, ini laporannya.”

Aku menyerahkannya dengan hati-hati agar surat itu tidak terjatuh dan Continue reading “Surat Untuk Judith (2)”

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: