Tentang Dia Yang Datang

Saat itu aku berharap waktu membeku saja.

“Terima kasih ya…” tanpa kusadari, kita sudah sampai di depan gerbang hijau. Selama dalam perjalanan kami, aku terlalu sibuk memilah gambar-gambar yang ingin aku simpan dalam memoriku. Aku terlalu sibuk memikirkan kata-kata, kalimat-kalimat dan paragraf-paragraf apa yang akan kutuliskan dalam jurnal harianku yang password-nya adalah nama dia, seperti password email-ku, password komputerku. Aku terlalu sibuk memikirkan siapa yang akan memerankannya nanti, siapa yang akan memerankanku nantinya, siapa yang akan memerankan teman-temanku sebagai pemeran pembantu dalam film-filmku, yang transkripnya tak pernah/belum sempat kutuliskan. Aku terlalu sibuk berharap dan berdoa agar saat itu waktu membeku saja, saat aku bersama dia.

“Ya.”

Waktu mencair begitu saja.

Okay,…sampai jumpa.” Tidak berani Continue reading “Tentang Dia Yang Datang”

Hati-hati BW di Bus

Teman-teman yang lahir dan besar di Jakarta sebenarnya akan komplain dengan salah satu kata pada judul ini “Bus”.

“Ngomong lo aneh!” Demikian mereka biasanya berucap.

Sebagai seseorang yang lahir dan besar di Minang, bahasa yang digunakan sehari-hari adalah bahasa Minang dan bahasa Indonesia sangat jarang digunakan, apalagi bahasa Indonesianya penduduk Jakarta. Oleh karena itu saat pertama kali tinggal dan bekerja di Jakarta, instead of bis, telor, kantong, bulpen dari mulut lebih sering keluar bus, telur, saku dan pena.

Sudahlah lupakan itu, di postingan ini sebenarnya bukan itu yang mau dibahas melainkan cuma ingin mengingatkan teman-teman sekalian agar berhati-hati saat blog walking di bus atau kendaraan umum lainnya karena bahaya selalu ada kapanpun dan dimanapun.

Jadi ceritanya begini, seperti biasa pilihan untuk mengisi masa-masa menunggu adalah BW, menunggu bus, menunggu antrian, menunggu di dalam bus sampai halte dekat rumah, meunggu nasi matang, menunggu boker kelar 🙂 dan segala macam bentuk menunggu lainnya.

Kejadian ini terjadi seminggu yang lalu saat sekembalinya dari kelas jam sepuluh malam, dan cuacanya gerimis-gerimis berangin. Beberapa detik Continue reading “Hati-hati BW di Bus”

Dr. Asrul, M.Sc.

Ceritanya begini, alkisah hiduplah seorang pemuda bernama Asrul. Dia adalah seorang supir bus antar kota di Sumatera Barat. Suatu hari, bus yang dikendarainya di tumpangi oleh seorang camat yang waktu itu berangkat tugas dinas ke kota Padang.

Asrul adalah pemuda yang sopan, tidak seperti sebagian besar supir bus lain dia mengnedari bus tidak ugal-ugalan, selalu ramah kepada setiap penumpang dan tidak segan menghardik kondektur yang ikut bersamanya jika ia mendapati kondektur tersebut berlaku tidak sopan atau berbicara kasar di dalam bus. Si Bapak Camat ini senang dengan prilaku Asrul oleh karena itu setiap dia ada tugas ke Padang dia selalu menunggu bus Asrul.

“Waang nio baok oto den Srul 1?” Suatu hari bapak itu bertanya kepada Asrul sekembalinya dari Padang.

“Waden alun abeh baok oto lai doh, malakik den lanca, ang tolong lah maanta-antaan den lu. Baa gak ati2?”

“Jadih Pak3.” Asrul langsung menjawab tanpa berpikir panjang.

***

Sampailah akhirnya berakhir masa jabatan bapak itu sebagai Camat karena dia diangkat jadi Walikota.

“Awak sanang bakarajo jo Apak, tapi ado taraso di hati nandak mancubo parantauan6.” Itulah kalimat terakhir yang keluar dari mulut Asrul saat berpamitan sebelum berangkat merantau ke Jakarta.

Dia merasa gajinya yang sekarang memang sudah lebih dari cukup untuk dirinya sendiri, dan tentunya akan lebih besar jika dia menjadi supir walikota. Akan tetapi adiknya yang paling kecil dan yang paling besar sebentar lagi akan duduk di bangku smp dan kuliah dan itu akan membutuhkan lebih banyak biaya. Sementara penghasilan bapaknya perbulan hanya cukup untuk dapur. Oleh karena itu dia memutuskan untuk merantau ke Jakarta, dengan harapan untuk penghasilan yang lebih baik.

Kuli, kaki lima, toko semipermanen, toko permanen sampai mempunyai bebecara toko permanen. Berkat kegigihannya semua tahap tersebut dilalui oleh Asrul dalam jangka waktu lima tahun dan di tahun keenam dia berencana akan mempersunting seorang gadis Minang yang saat itu sedang kuliah di Jakarta dan sedang di semester akhir.

Bulan yang di nanti akhirnya datang, si gadis selesai kuliah dan siap untuk menikah. Asrul segera memberi kabar ke kampung.

“Jadi, Amak jo Abak jo nan ka barangkek nyo? Adiak-adiak ndak nio ka mari?5

“Jo sia jawi ka ditinggaan6?” Bapaknya menjawab singkat pertanyaan Asrul tersebut, saat dia menelpon ke kampung.

***

“Lah di ma Abak? lah di Tabiang7?”

“Alah8.”

***

Asrul tinggal di salah satu komplek perumahan dosen di Depok. Semenjak masuk komplek perumahan tersebut Abaknya tidak henti-hentinya membaca satu-persatu nama yang tertera di depan pintu masing-masing rumah tersebut. Dan Amaknya selalu bertanya jika rumahnya masih jauh karena dia masih merasa aneh setelah turun dari pesawat dan ingin tidur atau berbaring sejenak. Akhirnya mereka sampai di sebuah rumah bercat putih dengan pintu bercat coklat tua, di bagian depan rumah tertera nama Dr. Asrul, M.Sc.

Amak dan Abaknya terkejut melihat hal tersebut.

“Yuang, baa kok ndak pernah ang bacarito kalau waang sikola di siko9?” Amaknya bertanya.

“Tapi, kalau dotor ko lamo sikolanyo mah, waang den ituang-ituang baru anam tahun di siko10?!” Abaknya berkata dengan bingung.

Pages: 1 2

Senyum Jamil

Hari segera mengamit lengan Nam setelah Jamil menjauh dan berada di tempat di mana dia tidak akan bisa mendengarkan pembicaraan mereka.

“Aku tahu, aku telah berjanji untuk membalas budimu, tapi bukankah menurutmu kau bisa menggunakan kesempatan tersebut untuk hal yang lebih baik…? Penting..?!”

“Aku juga tidak begitu yakin, tapi aku ingin bertaruh dengannya saat ini.” Nam berkata dengan lesu.

“Kenapa apakah ini masih tentang idemu, bahwa setiap orang bisa berubah?”

“Bukankah kau salah satu buktinya?”

“Nam, saat itu aku terpuruk baru sebatas mata kakiku, ingat? Dia..?! Continue reading “Senyum Jamil”

Before They “steal” It

Have you ever felt like someone’s “stolen” your idea? Well, I have.

It happened to me so many times, when I read an article, or when I watch movies. I’ve already had same idea with the story I read or movies I’ve watched. It felt like someone’s already taken something from me and I lose something that should belong to me.

Well, they didn’t really steal it but I was just little bit too late to express my idea…they did it before me!!! It happened because I keep my idea too long in my head and you know what??  ideas don’t want to stay too long in someone head, especially in my head. If they stay too long they will expire and they didn’t want it happen so they move to someone’s head so they can be born.

And that was my own fault, I was too lazy, put something off, waiting for a good time (for God’s sake there’s no such a good time to do something good).

So from now on (I don’t want to promise), I just want to do something   A.S.A-I.H.I *  before they “steal” it.

(hope I can keep my words)

*as soon as I have an Idea

Pensil 2B

“Aku bersyukur dan menyukai pekerjaan ini.” Katanya.

“Aku bersyukur mempunyai pekerjaan, bukan karena banyak orang yang tak mempunyai pekerjaan.” Tambahnya.

“Apa maksudmu berkata begitu?” tanyaku.

“Tidak ada maksud apa-apa.”Jawabnya.

“Lalu sekarang apa yang akan kaulakukan?”

“Makan, aku lapar.” Dia menarik-narik benang dari tali sepatunya yang hampir putus.

“Bukan itu jawaban yang kuinginkan.” Ucapku kesal.

“Kenapa jawabanku harus sesuai dengan keinginanmu?” Dia berhenti menarik benang tersebut dan memandangku dengan tajam.

“Kita tidak membicarakan tentang apa yang akan kau lakukan setelah ini, setelah kita pergi dari tempat ini.” Sanggahku.

“Bukankah kau sudah punya jawaban yang kau inginkan?”

“Aku memang menginginkan suatu jawaban, benar-benar jawaban, bukan sesuatu yang tiba-tiba saja ada dipikiranmu dan hal itu sama sekali bukan berarti aku punya jawaban.”

“Lalu bagaimana seharusnya aku menjawab pertanyaanmu?”

“Ah lagi-lagi, sekarang kau mencoba menjebakku!!”

Dia diam, tapi kemudian berkata,

“Sebenarnya selama ini……”

Dia tidak melanjutkan kalimatnya melainkan cuma diam dan tersenyum. Senyuman yang sama seperti beberapa waktu yang lalu saat aku baru mengenalnya. Dia kemudian bersandar merebahkan badannya ke pohon yang ada di belakangnya. Aku sedikitpun tidak mau memalingkan pandanganku dari wajahnya, untuk tiga tahun ke depan mungkin hanya beberapa hari lagi aku bisa menikmati wajahnya seperti saat ini di hadapanku.

***

Aku adalah orang yang berharap kisah cintaku seperti dalam roman-roman. Pertemuan-pertemuan yang tidak disengaja, kebetulan-kebetulan yang indah, atau kejadian-kejadian yang aneh yang akan mempertemukanku dengan seseorang yang nanti akan menjadi sebuah cerita cintaku. Akan tetapi hal seperti itu agaknya enggan menghampiriku. Aku terus menunggu, terus berharap suatu saat aku akan menemui hari tersebut, tapi tetap tidak ada yang terjadi.

Lalu aku berfikir untuk menciptakan kebetulan-kebetulan, ketidaksengajaan, seperti dalam roman-roman yang pernah kubaca, atau film-film yang pernah kulihat, tidak ada salahnya. Walaupun kisahnya tidak akan sempurna, setidaknya setelah babak pertama aku reka, aku akan membiarkan babak selanjutnya berjalan sendiri tanpa naskah.

Sepuluh bulan yang lalu, saat mengikuti tes di sebuah perusahaan, di sana aku pertama kali melihatnya. Hari pertama, kedua, ketiga, tidak ada yang terjadi. Akan tetapi pada hari keempat juga tidak ada yang terjadi, hari itu berlalu seperti hari sebelumnya. Kemudian pada hari kelima juga sama dengan hari sebelumnya tidak ada yang terjadi. Sepertinya Tuhan tidak mau memberikan satupun kesempatan untukku berkenalan dengannya. Saat itu, tidak ada buku catatan yang tercecer, tidak ada dompet yang ketinggalan, tidak ada handphone yang terjatuh, padahal aku sudah mengawasi dia dengan setia dan selalu siap kalau saja salah satu hal itu terjadi atau hal lainnya sebagai alasan aku bisa berkenalan dengannya.

Tidak ada jalan lain, akulah yang harus menciptakan kesempatan itu. Hari keenam, seperti biasa aku duduk di belakangnya. Saat panitia tes memberikan waktu untuk ke belakang, hampir sebagian peserta tes keluar dan dia salah satunya. Setelah dia keluar dan aku benar-benar yakin tidak ada yang memperhatikan bangkunya, wshh…!!! Secepat kilat aku menyambar pensil di mejanya. Lalu aku keluar, aku membuangnya ke tempat sampah.

Selanjutnya mungkin kau sudah bisa menebak bagaimana jalan ceritanya.

Sepuluh hari yang lalu kami menikah, dan tiga hari lagi dia harus pergi selama tiga tahun, tanpa ada kemungkinan kami bisa bertemu sebelum tiga tahun itu selesai.

***

“Ah…” Dia tidak melanjutkan kalimatnya yang tadi terputus, melainkan melemparkan sebuah bungkusan.

Dia tersenyum, aku tidak tahu apakah itu sebuah senyuman sinis, atau senyuman seperti biasa yang selama ini selalu dia tunjukkan padaku, aku tidak bisa membedakannya karena begitu kaget setelah membuka bungkusan itu dan melihat sebuah pensil, sebuah pensil. Pensil 2B yang dulu kupinjamkan kepadanya.

“Dulu ada seseorang yang berbaik hati meminjamkan pensil itu kepadaku, disaat aku kehilangan pensilku.” Dia berucap tanpa mengalihkan sedikitpun pandangannya dari mataku. Aku mencoba untuk tersenyum

“Dan sebagai imbalan atas kebaikannya dia memintaku menuliskan nomor telfonku, dan menyimpan pensil itu. Sekarang aku ingin memberikan pensil itu kepada seseorang dan berharap dia tidak menghilangkan pensil itu seperti dulu bagaimana dia telah menghilangkan pensilku.”

“Bukan begitu sayang?” Aku diam, tidak tahu apa yang harus kukatakan. Saat aku mulai ingin berbicara kurasakan bibirku bergetar hebat. Sempat ada keinginan untuk mengelak, untuk menyimpan rahasia itu sedikit lebih lama. Dia terus memandangku, memacu jantung ini berdebar lebih kencang lagi. Dia mengetahuinya entah bagaimana sekarang,aku menjelaskan semuanya kepadanya.

“Yah,……”Akhirnya hanya itu yang keluar dari mulutku. Aku cuma menghirup nafasku dalam-dalam dan menghembuskannya keluar. Tidak ada yang perlu disanggah atau dijelaskan lagi, dia sudah mengetahui semuanya.

“Kau tahu…? Kenapa baru sekarang? Kenapa dulu kau mau saja…..? ”

“Aku juga tak ingin membiarkanmu berlalu begitu saja.” Jawabnya sambil tersenyum.

“Kau gila!”

“Tidak, aku hanya lapar.”

Kisah Gilang dan Gilung

Penduduk Desa Sudahadasejaklama tinggal di lereng-lereng gunung. Rumah mereka berupa lubang-lubang menyerupai gua yang mereka buat bersama-sama dengan melobangi gunung. Hanya perangkat-perangkat desa yang tinggal di gua-gua asli. Jika anda sempat berjalan-jalan ke desa tersebut, anda akan melihat pada bagian atas lubang-lubang tersebut ada nama keluarga mereka yang hanya terdiri dari dua piku (huruf) seperti NG (baca ge en), NY (baya  en ye), VB (baca be ve). Nama keluarga tersebut dibaca berdasarkan piku pertama yang muncul dalam bejaad (abjdad mereka). Lalu bagaimana jika nama keluarga mereka BV? Apakah nama keluarga mereka juga be ve? Tidak, jika urutannya sudah benar maka nama keluarga mereka koku BV (memang be ve). Begitulah aturannya saat itu.

Kisah ini tentang keluarga NG (kok en ge kan sudah dibilang tadi bacanya ge en, diulang ya…..)

Kisah ini tentang keluarga NG (Lha kok masih ada yang bilang en ge?!!  Ayo sekali lagi)

Kisah ini tentang keluarga NG (Nah…. Gitu dong…baru bener) yang tinggal di lubang bagian utara paling bawah Gunung Ldertgu (ledertegu).

Desa Sudahadasejaklama, di situlah keluarga NG menetap. Desa ini merupakan sebuah desa dari sebuah Republik Yangnamanyadulubukanindonesia. Kisah ini terjadi pada zaman dahulusaja.

***

“Pakurang….Pakurang… gedo q bingka, Makurang sen caplos… Continue reading “Kisah Gilang dan Gilung”

Tentang Aku

Tentang Aku

Untuk kemarin, salah seorang guruku pernah berkata bahwa aku adalah seorang yang terlalu banyak keinginan.

Dan banyak yang mengatakan aku pemalas.

Ya, aku menyetujui mereka, memang aku.

 

Tentang Aku.

 

Untuk saat ini, sebenarnya tak ada yang lebih tahu tentang diriku sendiri selain aku, tetapi saat ada seseorang berkata,

“coba ceritakan padaku tentang dirimu.”

Disaat orang lain bercerita tentang tujuan hidupnya, cita-citanya, apa yang telah dilakukannya, apa yang sedang dilakukannya, dan kerja kerasnya, Aku hanya bercerita tentang namaku, umurku, tempat tinggalku, dan beberapa hal lain yang telah tertulis di KTP-ku.

Ingin rasanya seperti seseorang tersebut.

 

Tentang Aku

Untuk esok, jika seseoarang bertanya tentang aku, Aku belum mengetahui ingin melakukan apa, tapi setidaknya saat ini aku tahu beberapa hal yang tidak ingin aku lakukan.

Perempuan Semu

Perempuan semu ku

dia memakai sepatu kets hitam putih kesukaanku

dia menjadi semu saat aku mengenakan putih abu-abu

Kita pernah bertemu

saat di bus dia tertidur, duduk di depanku

mulutnya terbuka

dia menelan ludah, mulutnya bergerak-gerak

bagiku itu sesuatu seperti,

“Apa kabar mu?”

“Baik” jawabku

Mulutnya terbuka lagi, sepertinya dia ingin mengatakan sesuatu

Aku berkata lebih dahulu,

“Di sini tempat perhentianku”

Dia menggoda,”Tidakkah kau mau turun bersamaku?”

Itu adalah tawaran yang ku tunggu-tunggu,

“Tidak” jawabku

“Jalanku di sini, kita akan bertemu”

“Bagaimana kau tahu?”

“Aku hanya ingin, aku tidak tahu”

“Kenapa kau bilang begitu?”

“Kau perempuanku, sampai ketemu”

“Tidakkah kau ingin tahu nama ku?”

“Tidak perlu”

Dia hanya mengangkat bahu.

 

 

 

 

 

Menjadi Tua

Aku tidak pernah berfikir sebelumnya tentang menjadi tua, hal ini tiba-tiba saja melintas dalam benakku

Sore itu ketika melihat ke sebuah rumah , aku melihat seorang Kakek di beranda rumahnya sedang mencukur jambang di pipinya. Dia duduk persis menghadap ke jalan raya tempat kendaraan lalu lalang. Aku memperhatikannya selama beberapa detik, ketika itu dia sedang merapikan jambang di pipi sebelah kirinya yang dagingnya sedah kelihatan menggantung. Kemudian secara tidak sadar aku juga memegang pipi kiri dan daguku yang bekas cukurannya mulai terasa.

Di sepanjang perjalanan pulang aku berfikir, dan membayangkan wajahku akan seperti itu, tidak hanya wajahku mungkin seluruh tubuhku akan seperti itu jika saja aku sempat menjadi tua.

Aku mulai membayangkan wajahku ada di depan sebuah cermin, memegang pisau cukur dan mulai mencukur jambangku, dan sebelum mulai melakukan itu aku harus menarik pipiku terlebih dahulu agar tidak terluka, akan tetapi yang ada di depan cermin itu hanyalah aku yang sekarang bukan aku 30 atau 40 tahun kemudian, aku tidak pernah bisa membayangkan aku akan seperti apa, dan apakah sama rasanya antara saat aku melihat wajahku sekarang dengan saat aku melihat wajah tuaku nanti?

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: