Percakapan di Peron 3

“Aneh rasanya kita harus bertemu di sini.” Aku kembali memulai percakapan mencoba menghilangkan rasa kantuk dan dingin yang menyerang bertubi-tubi setelah kami berbicara tentang banyak hal, ini dan itu sejak bertemu di halaman Bajrakli, seperti yang biasa dibicarakan oleh dua orang yang tidak saling kenal dan harus duduk bersebelahan di atas kendaraan umum yang melakukan perjalanan panjang. Sementara itu, penumpang di sebelahnya akan menjadi orang terdekat selama perjalanan tersebut dan kadang kita tidak bisa memilihnya, sehingga mau tidak mau terpaksa harus berinteraksi setidaknya dengan menyunggingkan sedikit senyum. Aku telah bercerita tentang Beograd dan dia rasanya juga telah mengkhatamkan cerita tentang Podgorica. Dia juga telah selesai bercerita tentang Bukittinggi, bagaimana dia setiap hari bisa melihat Jam Gadang dari jendela kamarnya, mungkin saja aku pernah melewati rumahnya dalam salah satu kunjunganku ke Bukittinggi, mungkin saja kita pernah berpapasan, tapi saat itu, hal tersebut mungkin bukanlah sesuatu yang menarik, hanya sesuatu yang biasa, sangat biasa, bertemu orang Indonesia di Indonesia, tidak ada yang istimewa, sehingga kalaupun papasan itu terjadi tidak akan ada alasan untuk bercakap-cakap, bahkan melempar pandangan saja mungkin tidak. Aku juga telah selesai bercerita tentang kotaku yang…yah…tidak banyak yang bisa diceritakan, dari dulu kotaku sepertinya begitu-begitu saja. Cerita-cerita yang membuat orang cepat bosan, cerita-cerita yang tak bisa membuat mata untuk tetap terjaga.

“Sekarang katakan bagaimana kau bisa mengenaliku sebagai orang Indonesia?”

“Bagaimana denganmu, kenapa kau langsung mengenaliku sebagai orang Indonesia?” Continue reading “Percakapan di Peron 3”

Advertisements

Sesuatu (Ketika tidak ingin diganggu)

Ketika tidak ingin diganggu.

“Krigin….krigin….krigin.”
“Halo……” Aku menjawab telefon.
“Ada waktu?”
“Tidak…”
“Hei, aku ingin mengatakan sesuatu.” Suaranya terdengar riang.
“Hei, kau baru saja mengatakannya, klik,.tut…tut…..tut….tut….” Suaraku tidak kalah riang.
“Eh………..”

Circadian Rhythm

Prasangka semangka

Si Ibu bukan tokoh sebenarnya, Penjual Semangka bukan tokoh sebenarnya, saya bukan tokoh sebenarnya, semangka tokoh sebenarnya…harga semangka bukan harga sebenarnya.

“Berapaan semangkanya Bang?” Saya datang hampir bersamaan dengan si Ibu yang langsung bertanya kepada Penjual Semangka di pinggir jalan.

“Dua ribu sekilonya Buk.” Continue reading “Prasangka semangka”

Tentang Dia Yang Datang

Saat itu aku berharap waktu membeku saja.

“Terima kasih ya…” tanpa kusadari, kita sudah sampai di depan gerbang hijau. Selama dalam perjalanan kami, aku terlalu sibuk memilah gambar-gambar yang ingin aku simpan dalam memoriku. Aku terlalu sibuk memikirkan kata-kata, kalimat-kalimat dan paragraf-paragraf apa yang akan kutuliskan dalam jurnal harianku yang password-nya adalah nama dia, seperti password email-ku, password komputerku. Aku terlalu sibuk memikirkan siapa yang akan memerankannya nanti, siapa yang akan memerankanku nantinya, siapa yang akan memerankan teman-temanku sebagai pemeran pembantu dalam film-filmku, yang transkripnya tak pernah/belum sempat kutuliskan. Aku terlalu sibuk berharap dan berdoa agar saat itu waktu membeku saja, saat aku bersama dia.

“Ya.”

Waktu mencair begitu saja.

Okay,…sampai jumpa.” Tidak berani Continue reading “Tentang Dia Yang Datang”

A Good Match

A Good Match, weekly photo challenge

A Good Match, Yugoslavia

A Good Match, made in Yugoslavia