Pawai

Aku perlahan bergerak menuju tempat dimulainya sekaligus tempat berakhirnya pawai. Menatap setiap wajah yang bisa kutangkap dengan mataku. Berharap tidak melihat wajah adikku.

“Bang.!!”

Orang-orang melihat semua ke arah vespaku Continue reading “Pawai”

Media Tidak Membalasnya

Pikiranku kembali berputar-putar di masa lalu, ketika itu kami masih sama-sama pengurus BEM Fakultas Kedokteran. Aku sama sekali tak pernah bisa menjelaskan kenapa setiap bergabung dengan organisasi apapun semenjak di sekolah menengah pertama selalu kebagian menjadi anggota seksi perlengkapan, kesekretariatan atau departemen atau bagian yang berhubungan dengan salah satu dari dua hal tersebut. Dari dulu, selalu saja berakhir di sana.

***

Lebih jauh melihat kebelakang, tiga tahun sebelumnya. Saat itu malam “operasi” malam keakrabannya fakultas setelah kita diospek selama kurang lebih enam bulan. Mulai dari malam itu kami semua boleh menggunakan nama kami yang telah tertulis di akte kelahiran kami lagi. Saat ospek hanya kami berdua yang diberi label nama yang sama “alien” dia alien satu dan aku alien dua, selebihnya mempumyai nama yang berbeda satu dengan yang lainnya.

Menurutnya aku plin-plan, ragu-ragu Continue reading “Media Tidak Membalasnya”

Kisah Gilang dan Gilung

Penduduk Desa Sudahadasejaklama tinggal di lereng-lereng gunung. Rumah mereka berupa lubang-lubang menyerupai gua yang mereka buat bersama-sama dengan melobangi gunung. Hanya perangkat-perangkat desa yang tinggal di gua-gua asli. Jika anda sempat berjalan-jalan ke desa tersebut, anda akan melihat pada bagian atas lubang-lubang tersebut ada nama keluarga mereka yang hanya terdiri dari dua piku (huruf) seperti NG (baca ge en), NY (baya  en ye), VB (baca be ve). Nama keluarga tersebut dibaca berdasarkan piku pertama yang muncul dalam bejaad (abjdad mereka). Lalu bagaimana jika nama keluarga mereka BV? Apakah nama keluarga mereka juga be ve? Tidak, jika urutannya sudah benar maka nama keluarga mereka koku BV (memang be ve). Begitulah aturannya saat itu.

Kisah ini tentang keluarga NG (kok en ge kan sudah dibilang tadi bacanya ge en, diulang ya…..)

Kisah ini tentang keluarga NG (Lha kok masih ada yang bilang en ge?!!  Ayo sekali lagi)

Kisah ini tentang keluarga NG (Nah…. Gitu dong…baru bener) yang tinggal di lubang bagian utara paling bawah Gunung Ldertgu (ledertegu).

Desa Sudahadasejaklama, di situlah keluarga NG menetap. Desa ini merupakan sebuah desa dari sebuah Republik Yangnamanyadulubukanindonesia. Kisah ini terjadi pada zaman dahulusaja.

***

“Pakurang….Pakurang… gedo q bingka, Makurang sen caplos… Continue reading “Kisah Gilang dan Gilung”

Selagi Engkau Bercerita

Selagi engkau bercerita

Aku cuma duduk
melukis-lukis langit dengan awan
mengukir-ngukir tanah dengan telunjuk

Aku cuma diam
memikirkan apa yang sebenarnya aku pikirkan
mencari apa yang sebenarnya aku cari

Siang masih lama
masih banyak yang ingin aku ceritakan padamu, ucapmu

Saat engkau kembali bercerita

Aku cuma tersenyum
berharap matahari lebih cepat pulang dari biasanya
berharap aku bisa terbangun dalam mimpiku

Selagi engkau memelukku

Aku cuma menangis
berharap kau tidak marah karena air mataku membasahi bajumu
berharap esok engkau masih bisa bercerita lagi

Lalu

Lalu kau menyalahkannya
Lalu kau menyalahkan kenapa takdir itu tak pernah bersamamu

bukankah itu yang ingin kau lihat
bukankah cahaya indah itu yang ingin kau lihat
lalu kenapa kau tidak pernah setia bersamanya
kenapa kau merebahkan diri dan tidur saat gelap menerpa cahayamu
kenapa kau tidak setia menjaga api cahaya itu
mengapa kau tidak ada di sana menjaganya dari gelap yang kelam hitam begitu pekat yang membuatnya tenggelam

bukankah hangat itu yang ingin kau rasakan
lalu kenapa kau menjauh pergi saat api itu mulai kedinginan
lalu kenapa kau tidak setia menjaga api itu
kenapa kau tidak bercengkerama dengannya jika kau benar-benar menyayanginya
kenapa tidak kau iringinya layaknya waktu yang selalu mengiringimu
Lalu kenapa tidak kau genggam tangannya hangat dan berjalan dengannya

kenapa kau biarkan padam
lalu kau menyalahkannya
lalu kau menyalahkan kenapa hangat itu tidak pernah bersamamu
lalu kenapa kau menyalahkan kenapa takdir itu tak pernah bersamamu

lalu
dan semuanya berlalu
kapal-kapal berlalu
kau duduk termanggu
sendu

lalu
kau berharap pada waktu
untuk menyelesaikan kesalahanmu
berharap pada kemarin-kemarin dulu
menunggu hari-hari yang telah berlalu

lalu
jemu dan bosan menunggu
kau berharap pada esok-esok yang semu
hah… jika saja kau punya waktu

lalu
lihat itu
berlalu

Menjadi Diri Sendiri

Memang tidak mudah untuk menjadi diri sendiri dalam melakukan sesuatu. Setidaknya ini yang kurasakan saat ini. Seperti halnya saat akan menulis postingan ini aku mencoba untuk menulis seperti si A, si B, Si C, yang tulisan mereka banyak dibaca. Walaupun sebenarnya aku pernah menulis bahwa aku akan menulis tak peduli alasannya apapun, tapi tetap aku merasa tidak tepat jika alasannya seperti itu.

Beberapa waktu yang lalu saat iseng membaca blog……siapa ya? (aku lupa). Di blog tersebut dia menayangkan tulisan yang maksudnya kira-kira begini “ menulislah untuk dirimu sendiri walaupun tak ada yang membaca, dari pada menulis untuk orang lain tapi tidak menjadi diri sendiri.” Aku setuju dengan pernyataan tersebut. Aku akan menulis tentang apa yang ku ketahui dan ku senangi walaupun tak ada yang mengaguminya.

Tapi, apa yang aku tahu?

Tidak Lebih Baik

“Pak Hurbi adalah tetangga baru kami. Dia membeli rumah  keluarga pak Kor beberapa bulan yang lalu. Setelah melakukan perbaikan di sana-sini, akhirnya minggu lalu dia mulai menempati rumah yang baru dibelinya tersebut. Aku hanya berharap dia tidak seperti pak Kor. “

“Pak Kor adalah seorang pensiunan tentara, dia orang yang merasa dirinya hebat dan suka perintah-perintah. Siapapun yang pernah bertemu dengannya pasti pernah diperintahnya. Tidak hanya itu semua yang diperintahkan harus dikerjakan sesuai dengan petunjuknya. Jika saja seseorang yang diperintahnya untuk melakukan sesuatu itu diketahuinya tidak melakukan sesuai instruksinya walaupun yang dikerjakannya itu hasilnya sama, sepanjang hari dia akan mengomel tanpa henti tapi bukan kepada orang itu. Atau dia hanya diam menghirup nafas dalam-dalam kemudian memandang menerawang jauh entah kemana, dan dari ekspresi wajahnya aku bisa mendengar dia berkata tidak ada yang bisa diandalkan dari orang-orang bodoh ini. Kemudian memandang mereka dengan tatapan menjijikan yang membuatku ingin menonjok mukanya. “

“Dulu aku mengiyakan untuk menjadi pembantu di rumahnya walaupun ada tawaran dengan gaji yang lebih menarik untuk bekerja di tempat lain, karena kupikir dia orang tua yang menyenangkan yang kusimpulkan dari beberapa percakapan kami saat dia baru beberapa hari menjadi tetanggaku. Saat itu aku juga berpikir hitung-hitung bisa beramal. Ternyata aku tidak memerlukan tiga hari untuk mengetahui tabiatnya. Dia sangat berbeda sekali dengan apa yang dia tampilkan di depan orang banyak. Bahkan sampai sekarangpun orang-orang tidak mengetahuinya, dan mereka iri padaku karena mereka berpikir aku mempunyai majikan yang begitu menyenangkan. Aku hanya dapat tersenyum kecut dalam hatiku. Andai saja mereka tahu kalau dia selalu punya komentar-komentar jelek tentang mereka setelah berbicara dengan mereka yang selalu dikatakannya kepadaku.”

“Tidak hanya tetangga-tetangga kami yang dijelekannya bahkan temannya sendiri, si A makan seperti sapi, si B terlalu pelit, si C inilah. Aku mungkin bisa menerima komentar-komentarnya jika saja dia tidak seperti itu. Akan tetapi kenyataannya dia tidak lebih baik dari pada orang yang dibicarakannya. Aku sebenarnya tidak tahan lagi, tapi apa boleh buat gajiku buat setahun sudah dibayarkan kepada ibuku, sehingga aku harus menyelesaikan kerja yang gajinya sudah diterima, karena pada saat itu adikku butuh uang buat masuk ke perguruan tinggi, dan dia mau membayar satu tahun gajiku asal dikorting. Aku bahkan telah bicara pada ibuku tentang ketidaknyamananku bekerja dengan dia. Bahkan aku mulai mencari pinjaman untuk mengganti uangnya kemudian berhenti bekerja dengan dia setelah aku mengembalikan uangnya, tapi ibuku melarang. Jika ibu sudah melarang untuk berhenti, aku tidak bisa apa-apa lagi.”

“Menurutmu aku harus bagaimana?” Akhirnya aku bertanya pada Lusi setelah bercerita panjang lebar.

“Mir, aku juga belum bisa memberikan masukan padamu.” Aku tahu Lusi cuma menghiburku dengan kata-kata belum bisa padahal aku tahu sebenarnya jawabannya tidak bisa.

“Beberapa minggu ini kau selalu datang ke tempatku dan menceritakan hal yang sama, kenapa kau tidak menerimanya saja? Kenapa kau tidak menerima saja kenyataan bahwa memang dia……..”

“Kau tidak suka aku datang ke tempatmu?” potongku.

“Bukan, kenapa kau tidak menerima saja kenyataan bahwa dia memang seperti itu? Dan kenapa tidak kau coba untuk berbicara dengannya? Bukankah selama ini dia hanya bercerita kepadamu?”

“Mudah bagimu berbicara seperti itu, bagaimana kalau kau sendiri yang mengalami hal tersebut? Kau pasti…?”

“Tapi kau datang ke sini kan Mir?” Bukankah kau minta pendapatku?”

“Aku belum selesai bicara!” ucapku.

“Baik, teruskan.”

“Aku sudah selesai .” Ucapku kesal, berharap bisa membalas Lusi yang tiba-tiba memotong ucapanku tadi.

“Baik, kau selalu datang ke sini setiap kau kesal, kau selalu menceritakan hal yang sama, bertanya apa yang harus aku lakukan, mengeluh aku harus bagaimana, dan ketika kucoba untuk memberimu saran kata-kata seperti itu yang kau berikan kepadaku. Kau tahu, kau mulai seperti dia, setiap datang ke sini kau selalu menceritakan kejelekan-kejelekannya, merasa kau lebih benar, merasa kau lebih baik dari dia dan………”

“Praaakkk.” Aku pergi setelah membanting pintu rumah Lusi, aku masih mendengar dia meneriakan sesuatu kepadaku, aku tidak peduli.

 

 

 

Hanya Hal Bodoh

 

Yang penting ada tulisan, walaupun itu hanya huruf-huruf yang bersusun seenaknya.

Yang penting ada tulisan, walaupun cuma paragraf-paragraf yang tidak berbaju.

Yang penting  ada tulisan, walaupun “yang penting ada tulisan”nya sudah empat kali.

Yang penting ada tulisan, hal bodoh sekalipun.

Yang penting ada tulisan, walaupun itu tidak mudah.

Yang penting ada tulisan, esensinya masih membicarakan tentang tetap dan terus

Yang penting ada tulisan, hal-hal yang baik akan datang.

Yang penting ada tulisan,

Tulis, tulis, tulis,

 

Tentang Aku

Tentang Aku

Untuk kemarin, salah seorang guruku pernah berkata bahwa aku adalah seorang yang terlalu banyak keinginan.

Dan banyak yang mengatakan aku pemalas.

Ya, aku menyetujui mereka, memang aku.

 

Tentang Aku.

 

Untuk saat ini, sebenarnya tak ada yang lebih tahu tentang diriku sendiri selain aku, tetapi saat ada seseorang berkata,

“coba ceritakan padaku tentang dirimu.”

Disaat orang lain bercerita tentang tujuan hidupnya, cita-citanya, apa yang telah dilakukannya, apa yang sedang dilakukannya, dan kerja kerasnya, Aku hanya bercerita tentang namaku, umurku, tempat tinggalku, dan beberapa hal lain yang telah tertulis di KTP-ku.

Ingin rasanya seperti seseorang tersebut.

 

Tentang Aku

Untuk esok, jika seseoarang bertanya tentang aku, Aku belum mengetahui ingin melakukan apa, tapi setidaknya saat ini aku tahu beberapa hal yang tidak ingin aku lakukan.

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: