Cerpen

CERITANYA PANJANG

“Ceritanya panjang, hehehehe..”

Ludi, begitu orang kampungku memanggil laki-laki gila itu. Ludi hanya dua tahun lebih tua dariku. Dia dulunya adalah kakak kelasku. Ludi menamatkan sekolah dasarnya tahun 1995, walaupun bukan juara kelas Ludi merupakan pemilik NEM tertinggi se-kabupaten pada tahun tersebut. Sejak saat itu dia menjadi idolaku, aku ingin seperti dia. Walaupun kami tidak pernah berbicara satu sama lain.

Dia melanjutkan SMP-nya di SMP unggulan. Pada tahun pertama caturwulan I, dan caturwulan II dia selalu ada di tiga besar. Aku mengetahui ini semua dari kakakku yang satu sekolah dengan dia, tetapi tidak satu lokal, dia ada di lokal unggulan sedang kakakku tidak. Dia hanya dua caturwulan berada di SMP tersebut, setelah itu dia pindah keluar kota. Tidak ada yang tahu alasan dia pindah ke kota lain, tentu saja pihak sekolah tahu alasan kepindahannya.  Akan tetapi sepertinya dirahasiakan, karena tidak ada satupun murid yang tahu kenapa dia pindah. Dia sendiripun tidak bercerita dengan teman-temannya.

Beberapa minggu sebelum kepindahannya aku sempat bertemu dengannya dan memperkenalkan diriku sebagai adik kelasnya. Saat itu aku bertanya kepadanya bagaimana caranya agar bisa pintar seperti dia, bagaimana cara belajarnya, apa saja yang dilakukannya, berapa lama dia belajar dalam sehari. Namun dia hanya menjawab,

“ceritanya panjang, hehehehe..”

Aku tidak tahu apa yang terjadi denganku saat itu. Aku hanya anak kecil saat itu, dan aku begitu mengidolakan dia. Awalnya aku merasa kehilangan seolah-olah aku tidak bisa melihat siapa yang harus aku ikuti. Namun itu semua menyalakan api dalam diriku, sehingga aku bisa melihat jalan setapak yang akan kulalui.

Aku yang dulunya begitu pemalas, sejak saat itu aku mulai belajar gila-gilaan. Aku belajar seperti orang yang dikejar-kejar sesuatu. Semangatku begitu menggebu-gebu, tidur setiap malam selalu jam satu, tak terkecuali Sabtu dan Minggu. Awalnya ini semua terasa berat bagiku namun setelah melaluinya beberapa minggu, semua terasa biasa.

Orang tuaku khawatir dengan cara belajarku seperti ini, namun segala kecemasan mereka tertimpa oleh rasa senang saat aku menerima rapor pada caturwulan ke tiga. Sejak saat itu orang tuaku menjadi orang tua paling bahagia diantara orang tua teman-teman sekelasku. Berbagai lomba mata pelajaran yang kuikuti selalu meraih juara, gelar murid teladan juga tiap tahun kuperoleh selama di SMP, dan aku selalu menjadi juara kelas sampai semester terakhir di SMA unggulan di Provinsiku. Semua formulir PMDK yang ku lamar di terima, dan itu semua di institut dan universitas terbaik di negri ini. Beberapa beasiswa untuk kuliah di luar negripun hanya tinggal satu tes terakhir, tes kesehatan. Tapi aku memutuskan untuk tidak kuliah.

Sekarang sudah empat tahun aku tamat SMA. Aku sekarang berkebun di kampungku. Satu tahun yang lalu Ludi dan ibunya kembali lagi ke kampung kami. Setiap pulang dari kebun aku selalu berhenti sejenak di depan rumahnya untuk melihatnya. Aku merasa kasihan dengannya karena sekarang dia gila. Ibunya tidak mau bercerita kepadaku, dan ayahnya, sejak mereka kembali ke kampung entah darimana, aku tidak pernah melihatnya. Saudara-saudaranyapun tidak ada yang mau bercerita kepada orang-orang di kampung. Namun bagaimanapun orang-orang di kampung tetap menerima mereka sekeluarga dengan baik.

Walaupun dia gila kurasa saat ini dia mengenalku dengan baik, karena hapir setiap hari aku berhenti di depan rumahnya, setiap kali aku berhenti di depan rumahnya dia selalu berdiri di belakang jendelanya yang berjeruji dan berkata

“Ceritanya panjang hehehehe,” lalu tertawa terkekeh-kekeh, kemudian menghilang dari balik jendela.

“Oi..gila…gila…gila, “ aku melihat anak-anak SD yang baru pulang sekolah bersorak-sorak.

“Huss..nggak boleh gangguin orang, sana-sana pergi…!!” Pak Karman penjaga sekolahku, yang dari dulu sampai sekarang belum tergantikan, kebetulan lewat kemudian mengusir anak-anak tersebut.

Dia kemudian mengeluarkan enam buah permen yang harganya lima ratus perak tiga dari kantongnya. Aku cepat-cepat merebut permen tersebut dari tangannya. Kemudian dia berkata,

“sekarang pulang ya,” sambil mengusap-usap punggungku.

Aku tersenyum, kemudian berlari-lari pulang. “Gila” itu panggilan lainku, dan kurasa itu nama yang bagus.

Kau tahu kenapa aku Gila?

“Ceritanya panjang hehehehe.”

Cerpen lain

Advertisements

3 thoughts on “Cerpen

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s