Prasangka semangka

Si Ibu bukan tokoh sebenarnya, Penjual Semangka bukan tokoh sebenarnya, saya bukan tokoh sebenarnya, semangka tokoh sebenarnya…harga semangka bukan harga sebenarnya.

“Berapaan semangkanya Bang?” Saya datang hampir bersamaan dengan si Ibu yang langsung bertanya kepada Penjual Semangka di pinggir jalan.

“Dua ribu sekilonya Buk.” Continue reading “Prasangka semangka”

Advertisements

Rindu Rinda

“Sibuk? Boleh cerita sesuatu?” Aku meneruskan melukis, bilang tidak pun dia tetap akan masuk ke kamarku dan bercerita selama berjam-jam. Kadang aku berfikir tidak ada salahnya, dia bisa sibuk dengan ceritanya dan aku dengan lukisanku. Akan tetapi pada saat-saat tertentu sering merasa kesal juga, apalagi saat dia tiba-tiba bertanya disaat aku sedang tidak ingin berbicara.

Aku: Kabarnya baik kan?

Dia: Dita?!! Random amat hahahah, kabar baik nih sangat baik, semuanya selesai sesuai deadline, kamu apa kabar?

“Begitu kira-kira pesannya,..” Dita tiduran telentang di Continue reading “Rindu Rinda”

Tentang Dia Yang Datang

Saat itu aku berharap waktu membeku saja.

“Terima kasih ya…” tanpa kusadari, kita sudah sampai di depan gerbang hijau. Selama dalam perjalanan kami, aku terlalu sibuk memilah gambar-gambar yang ingin aku simpan dalam memoriku. Aku terlalu sibuk memikirkan kata-kata, kalimat-kalimat dan paragraf-paragraf apa yang akan kutuliskan dalam jurnal harianku yang password-nya adalah nama dia, seperti password email-ku, password komputerku. Aku terlalu sibuk memikirkan siapa yang akan memerankannya nanti, siapa yang akan memerankanku nantinya, siapa yang akan memerankan teman-temanku sebagai pemeran pembantu dalam film-filmku, yang transkripnya tak pernah/belum sempat kutuliskan. Aku terlalu sibuk berharap dan berdoa agar saat itu waktu membeku saja, saat aku bersama dia.

“Ya.”

Waktu mencair begitu saja.

Okay,…sampai jumpa.” Tidak berani Continue reading “Tentang Dia Yang Datang”

Dialogue dan Rivai.

2:36 pm, koridor Gedung D.

Dia   : Besok apa..?

Lo     : Medan, kontrol..

Gue : Oh.. Laplace…, tadi Matek, kalian gimana?

Lo     : C+, cukuplah.

Dia   : B, Cuma satu soal ga selesai.

Lo     : Nanti malam, di tempat lo?!!

Gue : Boleh, lo?

Dia   : Pukul tujuh?

Gue : Okay!

Lo     : Sip!!

8:17 pm, kosan Gue. Continue reading “Dialogue dan Rivai.”

ALS

“Jadi kau menyukainya?”

“Siapa?”

“Kenapa kau berpikir kalau aku bertanya tentang seseorang?”

“Ayolah Bu, jangan mempermainkanku lagi.”

“Baiklah, jadi benar kau sedang memikirkan dia.” Continue reading “ALS”

Dr. Asrul, M.Sc.

Ceritanya begini, alkisah hiduplah seorang pemuda bernama Asrul. Dia adalah seorang supir bus antar kota di Sumatera Barat. Suatu hari, bus yang dikendarainya di tumpangi oleh seorang camat yang waktu itu berangkat tugas dinas ke kota Padang.

Asrul adalah pemuda yang sopan, tidak seperti sebagian besar supir bus lain dia mengnedari bus tidak ugal-ugalan, selalu ramah kepada setiap penumpang dan tidak segan menghardik kondektur yang ikut bersamanya jika ia mendapati kondektur tersebut berlaku tidak sopan atau berbicara kasar di dalam bus. Si Bapak Camat ini senang dengan prilaku Asrul oleh karena itu setiap dia ada tugas ke Padang dia selalu menunggu bus Asrul.

“Waang nio baok oto den Srul 1?” Suatu hari bapak itu bertanya kepada Asrul sekembalinya dari Padang.

“Waden alun abeh baok oto lai doh, malakik den lanca, ang tolong lah maanta-antaan den lu. Baa gak ati2?”

“Jadih Pak3.” Asrul langsung menjawab tanpa berpikir panjang.

***

Sampailah akhirnya berakhir masa jabatan bapak itu sebagai Camat karena dia diangkat jadi Walikota.

“Awak sanang bakarajo jo Apak, tapi ado taraso di hati nandak mancubo parantauan6.” Itulah kalimat terakhir yang keluar dari mulut Asrul saat berpamitan sebelum berangkat merantau ke Jakarta.

Dia merasa gajinya yang sekarang memang sudah lebih dari cukup untuk dirinya sendiri, dan tentunya akan lebih besar jika dia menjadi supir walikota. Akan tetapi adiknya yang paling kecil dan yang paling besar sebentar lagi akan duduk di bangku smp dan kuliah dan itu akan membutuhkan lebih banyak biaya. Sementara penghasilan bapaknya perbulan hanya cukup untuk dapur. Oleh karena itu dia memutuskan untuk merantau ke Jakarta, dengan harapan untuk penghasilan yang lebih baik.

Kuli, kaki lima, toko semipermanen, toko permanen sampai mempunyai bebecara toko permanen. Berkat kegigihannya semua tahap tersebut dilalui oleh Asrul dalam jangka waktu lima tahun dan di tahun keenam dia berencana akan mempersunting seorang gadis Minang yang saat itu sedang kuliah di Jakarta dan sedang di semester akhir.

Bulan yang di nanti akhirnya datang, si gadis selesai kuliah dan siap untuk menikah. Asrul segera memberi kabar ke kampung.

“Jadi, Amak jo Abak jo nan ka barangkek nyo? Adiak-adiak ndak nio ka mari?5

“Jo sia jawi ka ditinggaan6?” Bapaknya menjawab singkat pertanyaan Asrul tersebut, saat dia menelpon ke kampung.

***

“Lah di ma Abak? lah di Tabiang7?”

“Alah8.”

***

Asrul tinggal di salah satu komplek perumahan dosen di Depok. Semenjak masuk komplek perumahan tersebut Abaknya tidak henti-hentinya membaca satu-persatu nama yang tertera di depan pintu masing-masing rumah tersebut. Dan Amaknya selalu bertanya jika rumahnya masih jauh karena dia masih merasa aneh setelah turun dari pesawat dan ingin tidur atau berbaring sejenak. Akhirnya mereka sampai di sebuah rumah bercat putih dengan pintu bercat coklat tua, di bagian depan rumah tertera nama Dr. Asrul, M.Sc.

Amak dan Abaknya terkejut melihat hal tersebut.

“Yuang, baa kok ndak pernah ang bacarito kalau waang sikola di siko9?” Amaknya bertanya.

“Tapi, kalau dotor ko lamo sikolanyo mah, waang den ituang-ituang baru anam tahun di siko10?!” Abaknya berkata dengan bingung.

Senyum Jamil

Hari segera mengamit lengan Nam setelah Jamil menjauh dan berada di tempat di mana dia tidak akan bisa mendengarkan pembicaraan mereka.

“Aku tahu, aku telah berjanji untuk membalas budimu, tapi bukankah menurutmu kau bisa menggunakan kesempatan tersebut untuk hal yang lebih baik…? Penting..?!”

“Aku juga tidak begitu yakin, tapi aku ingin bertaruh dengannya saat ini.” Nam berkata dengan lesu.

“Kenapa apakah ini masih tentang idemu, bahwa setiap orang bisa berubah?”

“Bukankah kau salah satu buktinya?”

“Nam, saat itu aku terpuruk baru sebatas mata kakiku, ingat? Dia..?! Continue reading “Senyum Jamil”

Pawai

Aku perlahan bergerak menuju tempat dimulainya sekaligus tempat berakhirnya pawai. Menatap setiap wajah yang bisa kutangkap dengan mataku. Berharap tidak melihat wajah adikku.

“Bang.!!”

Orang-orang melihat semua ke arah vespaku Continue reading “Pawai”

Media Tidak Membalasnya

Pikiranku kembali berputar-putar di masa lalu, ketika itu kami masih sama-sama pengurus BEM Fakultas Kedokteran. Aku sama sekali tak pernah bisa menjelaskan kenapa setiap bergabung dengan organisasi apapun semenjak di sekolah menengah pertama selalu kebagian menjadi anggota seksi perlengkapan, kesekretariatan atau departemen atau bagian yang berhubungan dengan salah satu dari dua hal tersebut. Dari dulu, selalu saja berakhir di sana.

***

Lebih jauh melihat kebelakang, tiga tahun sebelumnya. Saat itu malam “operasi” malam keakrabannya fakultas setelah kita diospek selama kurang lebih enam bulan. Mulai dari malam itu kami semua boleh menggunakan nama kami yang telah tertulis di akte kelahiran kami lagi. Saat ospek hanya kami berdua yang diberi label nama yang sama “alien” dia alien satu dan aku alien dua, selebihnya mempumyai nama yang berbeda satu dengan yang lainnya.

Menurutnya aku plin-plan, ragu-ragu Continue reading “Media Tidak Membalasnya”