Percakapan di Peron 3

“Aneh rasanya kita harus bertemu di sini.” Aku kembali memulai percakapan mencoba menghilangkan rasa kantuk dan dingin yang menyerang bertubi-tubi setelah kami berbicara tentang banyak hal, ini dan itu sejak bertemu di halaman Bajrakli, seperti yang biasa dibicarakan oleh dua orang yang tidak saling kenal dan harus duduk bersebelahan di atas kendaraan umum yang melakukanContinue reading “Percakapan di Peron 3”

Prasangka semangka

Si Ibu bukan tokoh sebenarnya, Penjual Semangka bukan tokoh sebenarnya, saya bukan tokoh sebenarnya, semangka tokoh sebenarnya…harga semangka bukan harga sebenarnya. “Berapaan semangkanya Bang?” Saya datang hampir bersamaan dengan si Ibu yang langsung bertanya kepada Penjual Semangka di pinggir jalan. “Dua ribu sekilonya Buk.”

Rindu Rinda

“Sibuk? Boleh cerita sesuatu?” Aku meneruskan melukis, bilang tidak pun dia tetap akan masuk ke kamarku dan bercerita selama berjam-jam. Kadang aku berfikir tidak ada salahnya, dia bisa sibuk dengan ceritanya dan aku dengan lukisanku. Akan tetapi pada saat-saat tertentu sering merasa kesal juga, apalagi saat dia tiba-tiba bertanya disaat aku sedang tidak ingin berbicara.Continue reading “Rindu Rinda”

Tentang Dia Yang Datang

Saat itu aku berharap waktu membeku saja. “Terima kasih ya…” tanpa kusadari, kita sudah sampai di depan gerbang hijau. Selama dalam perjalanan kami, aku terlalu sibuk memilah gambar-gambar yang ingin aku simpan dalam memoriku. Aku terlalu sibuk memikirkan kata-kata, kalimat-kalimat dan paragraf-paragraf apa yang akan kutuliskan dalam jurnal harianku yang password-nya adalah nama dia, sepertiContinue reading “Tentang Dia Yang Datang”

Dialogue dan Rivai.

2:36 pm, koridor Gedung D. Dia   : Besok apa..? Lo     : Medan, kontrol.. Gue : Oh.. Laplace…, tadi Matek, kalian gimana? Lo     : C+, cukuplah. Dia   : B, Cuma satu soal ga selesai. Lo     : Nanti malam, di tempat lo?!! Gue : Boleh, lo? Dia   : Pukul tujuh? Gue : Okay! Lo     : Sip!! 8:17Continue reading “Dialogue dan Rivai.”