Getting away

How was my holiday? I am afraid still haven’t had a proper one yet.

Holiday for me means getting away for my routines. I don’t have to be somewhere else or to go to some other places. There are a lot of activities that I could do in that getting away phase. I could be at home in my holiday watching films, reading books, reading articles, writing all the words, sentences, that I should have said, learning how to cook new recipes or learning new other things that broaden my horizons.

Being with a lot of people or with anyone that I don’t really like often drains me out. I’d be like dead on my feet. So being alone or chitchat with someone that I like could also means a holiday for me, let alone travelling with them, it would be super holiday.

Well, writing this short reply for BEC’s challenge….which is a bit far from the topic, I could say it’s a mini-holiday for me 😀

Summer Sun

IMG_8614 Morning on the bridge in the summer sun (Novi Pazar, Serbia)

 

IMG_8815
Gardening, maybe? (Becmen, Serbia)

 

Rindu Rinda

“Sibuk? Boleh cerita sesuatu?” Aku meneruskan melukis, bilang tidak pun dia tetap akan masuk ke kamarku dan bercerita selama berjam-jam. Kadang aku berfikir tidak ada salahnya, dia bisa sibuk dengan ceritanya dan aku dengan lukisanku. Akan tetapi pada saat-saat tertentu sering merasa kesal juga, apalagi saat dia tiba-tiba bertanya disaat aku sedang tidak ingin berbicara.

Aku: Kabarnya baik kan?

Dia: Dita?!! Random amat hahahah, kabar baik nih sangat baik, semuanya selesai sesuai deadline, kamu apa kabar?

“Begitu kira-kira pesannya,..” Dita tiduran telentang di tempat tidurku, berbicara dari balik bantal yang dipakainya untuk menutup wajahnya, kemudian tidak ada suara yang kudengar selama beberapa kali sapuan kuas di atas kanvas di hadapanku.

“Oh Rinda apa yang harus aku lakukan?”.

“Rinda!!!”

“Ah,..sialan.” Desisku, tanganku terlonjak, hampir saja sapuan terakhir mengacaukan lukisanku. Aku kemudian menyesali mulutku dan mengumpat diriku sendiri dalam hati sambil berharap dia tidak mendengarnya. Dia diam. Aku meninggalkan sudut kamarku dan membiarkan lukisan setengah jadi tersebut terbuka dan menghadap sudut kamar. Memang lebih nyaman rasanya melukis di sana, karena jika ada yang memasuki kamarku apa yang sedang kulukis tidak ada yang bisa melihatnya. Bukannya aku tidak mau lukisanku dilihat tapi melihat lukisan setengah jadi menurutku seperti mencicipi masakan yang belum jadi, rasanya aneh. Aku mengambil cangkir kopiku dan duduk di lantai bersandar di bagian samping tempat tidur, masih ada setengah cangkir sisa kopi semalam, meneguknya.

“Baiklah, maafkan aku, bisa kau ceritakan lagi?”

“Kau pikir aku tidak mendengarnya?”

***

“Pertama, kenapa kau memulainya?”

“Aku juga tidak tahu, dua malam lalu aku bermimpi dengannya, terbangun kemudian bermimpi lagi, segera setelah mimpi kedua, yang mana itu pukul lima pagi, tanganku refleks mengambil telefon genggamku dan mengirim pesan tersebut.”

“Aku menyesal melakukan hal tersebut.” Aku bangkit dan menatapnya.

“Tidak, kau tidak terlihat menyesalkan hal tersebut sama sekali.”

“Ah…aku juga ragu apakah benar aku menyesal atau tidak.”

“Apakah kau membalasnya?”

“Itu dia masalahnya, pada satu sisi aku tidak ingin, tapi di bagian lain aku ingin membalasnya, aku tidak ingin dia berpikiran aku kasar dengan mendiamkannya begitu saja, aku juga tidak ingin hal yang kuanggap memalukan ini berlanjut dan sekarang sudah dua hari sejak dia membalas pesanku. Oh…apa yang telah kulakukan.”

“Kenapa kau selalu memikirkannya.” Aku tahu komentarku ini tidak akan membantu tapi hanya itu yang terluncur dari mulutku.

“Terpikirkan.” Potongnya.

“Dan itu sangat berbeda sekali dengan memikirkan.”

“Kenapa kau tidak berterus terang kalau kau menyukainya? Kau takut tanggapannya akan mengubah apa yang kau rasakan tentangnya?”

“Tidak, tentu saja tidak, bagaimanapun sikapnya tidak akan mempengaruhi perasaanku, hanya saja dia pantangan bagi seluruh kehidupanku, jika tidak, apapun akan kulakukan dan itu pun sudah dari jauh-jauh sebelumnya.”

“Menurutku, kau memang sengaja menunggu-nunggu kesempatan untuk menghubunginya dan menjadikan mimpimu sebagai dalih untuk menghubunginya, sehingga hal tersebut bisa jadi alasanmu, jika saja dikemudian hari dia atau seseorang bertanya apa niatmu dibalik pesan yang telah kau kirim tersebut, mungkin saja dia sudah mengerti maksudmu melalui pesan tersebut.” Dia terlihat sependapat denganku.

“Mungkin kau benar, mungkin aku terlalu mencari-cari alasan untuk menghubunginya, lalu apa yang harus kuperbuat?” Aku menengadahkan kepalaku menatap langit-langit kamarku.

“Kau tahu maksudku.” Dia bergumam, kemudian berbicara mengenai lukisanku.

“Lukisanmu tidak indah juga tidak jelek. Aku tidak mengerti, lukisanmu sepertinya ragu-ragu, kenapa kau tidak berhenti saja melukis, jika kau tidak bisa bersamanya? Oh tidak, lupakanlah semuanya, aku juga akan melupakan apa yang baru keluar dari mulutku.”

“Mungkin kau harus membiarkannya saja.” Aku berusaha untuk menahan diri mendengar komentarnya mengenai lukisanku dan menjawab pertanyaannya yang sebelumnya.

“Mungkin cinta kita jatuh di tempat yang salah.” Terdengar nada pasrah dalam kalimatnya. Tapi…kita? Sekarang aku benar-benar tidak ingin berbicara dengannya. Setelah menghina lukisanku lantas menyuruhku melupakan semua yang dia katakan. Setelah itu dia juga mencap aku sama dengan dirinya. Sungguh aku tidak ingin berbicara lagi dengannya.

“Kelak kau akan menyesali ucapanmu dan sebaiknya sekarang kau pergi. Aku ingin ke fakultas” Tidak ada suara, aku menunggu dan akhirnya menoleh ke belakang. Ternyata dia sudah tidak ada lagi.

***

Aku duduk di bangku paling belakang mengintip dari jendela bus, setelah mendengar cerita Dita aku merasa rindu kepada bapak, sudah lama aku tidak menghubungi dan berbicara dengannya. Tiba-tiba banyangan Bapak hilang begitu saja saat seorang pria melompat masuk ke depan wajahku melalui pintu bus yang hampir tertutup dan kemudian jatuh tersandar ke pintu bus yang sudah tertutup sambil memegang drafting tube yang sebelumnya kuletakan tegak lurus di depanku. Mungkin dia pikir itu adalah tiang pegangan bus, dia menyerahkan drafting tube-ku sambil meringis malu.  Dia kemudian berjalan ke bangku kosong yang berada agak di depan, dia berjalan pelan sambil beberapa kali menoleh ke belakang, mungkin dia menyesali melewatkan kesempatan untuk, mungkin berbicara denganku. Beberapa kali mata kami beradu, dia selalu kalah setelah sepersekian detik, aku terus menantangnya, mau apa? Dasar lelaki.. Setelah dia duduk aku kembali menoleh ke luar bus, namun aku tidak melepaskan sudut mataku darinya, dia terlihat gelisah sambil sesekali melihat ke samping, aku yakin dia mengawasiku, apakah aku masih ada di sini sambil berfikir bagaimana caranya untuk memulai pembicaraan denganku. Aku tidak mengacuhkannya sudah ratusan kali hal ini terjadi, aka tidak sedang ingin mengerjainya sebagaimana yang kulakukan dua hari lalu pada seorang pria, aku meloncat turun saat bus berhenti walaupun itu bukan tempat pemberhentianku. Seandainya ada Dita di sini, aku yakin kejadian tadi bisa jadi salah satu adengan dalam fiksinya, bahkan dia pernah di salah satu novelnya menjadikan lelaki yang pernah mengecewakannya sebagai tokoh yang paling dibenci pembacanya, aku sendiri juga ikut membenci orangnya walaupun pada kenyataannya dia tidaklah seburuk itu.

“Pak, Rinda pulang ya?” Aku menyerobot begitu saja saat mendengar suara bapak.

“Bapak apa kabar? Sehat?”

***

“Tante sedang menggambar apa?”

Aku teringat saat itu, aku bertanya kepada Ibu apa yang sedang digambarnya. Kemudian dia bertanya padaku “Maksudmu apa yang sedang Ibu lukis?”

“Maksud Kvin apa Continue reading “Rindu Rinda”

WPC : Delta

Delta
Delta

 

Sosok dan Gerangan

apakah hanya aku saja yang terlalu sibuk sendiri
bertanya tanya
menebak nebak
mencari cari
menanti nanti
dimana pada akhirnya
aku hanyalah salah satu bagian dari sesuatu yang acak
diantara bagian-bagian lain sekehendaknya
dan lagi aku salah menerjemahkan jemarinya
meneteskan air mata untuk tangisnya
tersenyum untuk bahagianya
dan lagi aku hanyalah daun yang terbawa terbang
ikut terbawa bersama daun daun musim gugur lainnya
bukan telaga impian musafir di sahara
bukan pula perapian di kutub utara
lalu kenapa juga aku mengingat mimpi mimpi itu
seolah itu bukan tidurku
membayangkan dia mencari sosokku
seperti aku mencari gerangannya

Peckish

I am feeling peckish
Are You?
I am, come on spill the beans
a a not
not a sausage
hm.. no not a sausage
ah that’s long
it is

Jet

Transient

Jet

Melankoli Meloni

Meloni sungguh begitu
Melankoli mu berliku

Mabuk angan angan
Main sembarangan

Sembunyi melankoli
Sembunyikan meloni

Focus

You are
IMG_9075Out of focus

You ended up
IMG_9071.jpg dMaking an order of a buy new one