(Hanya)

Di suatu masa, hiduplah seorang pemuda. Pemuda tersebut mempunyai seorang pujaan hati dan telah berniat dalam waktu dekat untuk melamar kemudian menikahinya. Selama ini hubungan mereka berjalan dengan baik, tidak pernah satu kalipun mereka bertengkar ataupun bersedih.

 

Suatu waktu sebelum menyampaikan niatnya, pemuda tersebut ditugaskan oleh atasannya berangkat ke negeri lain untuk mengurus barang dagang dan beberapa urusan dagang lainnya sebagai wakil atasannya tersebut. Sebelum berangkat sang pujaan hati berpesan kepada pemuda tersebut agar dibawakan dua buah cindera mata dari negeri yang akan dituju si pemuda, satu untuk dia dan satu untuk sahabatnya. Permintaan sang pujaan hatipun dengan tanpa pikir diiyakan.

Tidak dimintapun pasti akan kubawakan sayang, batin sang pemuda. Namun ia tidak menyampaikan hal tersebut kepada sang pujaan hati.

Manusia memang tempatnya lupa, kepada siapapun janji dijanjikan tidak menutup kemungkinan janji tersebut terlupa. Sang pemuda baru ingat janjinya setelah kapal yang akan membawanya berlayar pulang ke negerinya mengangkat sauh.

Setelah penat meracau dan memaki dirinya sendiri, pemuda berwajah bulat tersebut akhirnya hanya berdiri termenung di buritan kapal, menatap buih dari baling-baling kapal yang menjauh kemudian menghilang. Selama ini belum pernah dia mengecewakan hati sang pujaan hati, apapun permintaannya selalu bisa ia penuhi. Namun mungkin sekaranglah saatnya bagi hal tersebut untuk terjadi, bagaimanapun, cepat lambat, mau tidak, akan terjadi juga kedua hal yang berpasang-pasangan di dunia ini, gelap terang, hidup mati, sedih bahagia dan sebanyak hal yang mungkin bisa ia pikirkan setelah itu.

Pemuda berbadan sedang tersebut tiba-tiba teringat cerita-cerita yang pernah dibacanya, biasanya dalam dongeng-dongeng pada saat seperti ini akan datang keajaiban dan keajaiban tersebut harus dibawakan oleh seorang kakek tua, bukan karena tidak bisa datang sendiri, melainkan karena Tuhan masih sayang kepada manusia. Ia berdiri berharap menunggu di antara delapan puluh persen rasa percaya dan sepuluh persen tidak percaya, sepuluh persen lagi tidak tahu ia membahasakannya. Ia pun terus dan kemudian berdoa, memanjat-manjatkan harapan agar hal tersebut memang benar adanya serta bisa terjadi padanya saat itu juga.

Ketika masih sibuk dengan pikirannya dan tentang apa yang akan disampaikannya nanti kepada sang pujaan hatinya, sang pemuda melihat dari sudut matanya seorang wanita yang menurutnya berumur paling tidak diakhir dua puluhan berjalan mendekati tempat ia berdiri namun bukan ke arahnya. Wanita tersebut berhenti di bagian kanan buritan kapal sementara itu ia berada tepat di ujung buritan. Mungkin kakek tua itu sekarang berubah menjadi seorang wanita batinnya.

Setelah memperhatikan dengan seksama, sang pemuda berambut keriting tersebut baru menyadari ternyata wanita itu menggendong bayi di punggungnya yang semula ia kira hanyalah tas punggung. Wanita itu melihat ke arahnya dan kemudian meneteskan air matanya. Ia merasa kikuk diperlakukan begitu oleh wanita yang baru pertama kali dilihatnya. Ia memandang berkeliling, tidak dilihatnya ada penumpang lain yang benar-benar dekat dengan mereka berdua. Hal tersebut dilakukannya hanya sekedar meyakinkan diri kalau tidak ada yang akan meyangka bahwa ia telah melakukan sesuatu terhadap wanita tersebut sehingga si wanita menangis, sekaligus juga berharap ada seseorang yang akan bertanya kepada wanita tersebut, ‘ada apa’ Kemudian bersedia membantu wanita tersebut karena ia sendiri merasa tidak perlu melibatkan diri dengan masalah wanita itu, ia merasa satu kepalanya saja tidak cukup untuk masalahnya sendiri.

Akhirnya yang menjadi orang yang menanyakan ‘ada apa’ kepada wanita itu adalah si pemuda sendiri. Ia merasa dirinya harus melakukan hal tersebut karena wanita itu tidak berhenti menatapnya, sementara itu air matanya terus mengalir dan dia mulai sesekali sesenggukan.

“Ada apa?” Pemuda tersebut membuka suara sembari berusaha sebisa mungkin terdengar wajar. Wanita tersebut tidak menjawab, melainkan memindahkan bayinya dari punggungnya, menggendong dari depan kemudian menciumi bayi mungilnya sambil sesekali melihat ke pemuda tersebut.

“Ada apa?” Pemuda tersebut kembali bertanya. Kali ini mulai terdengar suara tangisan.

“Saya telah kehilangan semuanya.” Ucapnya terbata-bata.”………Saya tadi setengah berharap ini semua hanyalah mimpi, berita subuh tadi bahwa suami saya telah meninggal hanyalah mimpi, saya berada di atas kapal ini hanyalah mimpi dan beberapa saat lagi saya akan terbangun, tidak ada kapal ini, tidak ada laut ini dan tidak akan ada Anda.”

“Tapi akhirnya saya sadar bahwa inilah kenyataan yang sebenarnya dan saya rasanya telah bisa berdamai dengan diri saya sendiri, sampai saya melihat Anda……ternyata saya belum sepenuhnya bisa menerima kenyataan yang ada.”

Wanita tersebut menceritakan perihal musibah yang menimpanya, sang suami tercinta baru saja pulang menghadap Tuhan Yang Maha Esa, sementara itu sang bayi belum pernah merasakan pelukan Bapaknya.

“Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.” Si pemuda kemudian teringat masalahnya dan kenapa tadi ia begitu kalap dengan masalah kecil yang menimpanya.

“Di antara manusia, dia adalah segalanya bagiku dan Anda kembali mengingatkan kepada saya semua tentang dia, Anda begitu mirip dengan dia, kalian seperti dua saudara kembar.” Mereka berdua akhirnya bercerita selama beberapa saat dan kemudian wanita itu mengeluarkan telefon genggamnya dan memperlihatkan beberapa foto suaminya kepada pemuda tersebut. Si pemuda terlihat tidak percaya karena dia merasa seperti melihat fotonya sendiri ketika melihat foto suami wanita tersebut.

“Bersediakah Anda menggendong bayi ini dan kita bertiga berfoto? Demi bayinya? Saya tidak akan bilang Anda atau orang yang difoto nantinya adalah bapak bayi saya, melainkan ini hanyalah untuk kenang-kenangan saja, untuk bayi saya….??” Si wanita menunggu dengan kerut kening berharap sambil mendongak ke pemuda yang jauh lebih tinggi darinya tersebut.

“Baiklah.” Si pemuda terus menepis prasangka-prasangka buruk yang berganti-gantian muncul di hatinya.

“Terima kasih.” Si wanita berkata sambil mengambil telefon genggamnya dari tangan seseorang yang sebelumnya dia minta tolong untuk mengambil foto mereka bertiga. “Ini untuk Anda.” Ia memberikan sebuah bingkisan kecil dari tasnya kepada sang pemuda tersebut dan memaksa si pemuda yang masih belum mengulurkan tangannya untuk menerima bingkisan tersebut. “Bukan sesuatu yang istimewa, saya yakin Anda sudah memiliki banyak di dalam tas Anda oleh-oleh seperti ini, tapi saya mohon terimalah ini, tidak ada maksud apa-apa, hanya sebagai rasa terima kasih saya.” Sang pemuda tersebut membisu, gagu, kelu, walaupun sudah ada di depan mata, walaupun hanya tinggal mengulurkan tangannya untuk menerima keajaiban yang ia nanti, ia masih saja belum sepenuhnya percaya. Ia akhirnya mengambil bingkisan tersebut sambil berujar syukur dalam hatinya, sambil mengingat wajah pujaan hatinya.

“Alhamdulillah, tidak, sama sekali bukan tidak istimewa, ini adalah sesuatu yang sangat istimewa, ini istimewa, sangat,… istimewa bagi saya, terima kasih, saya sangat menghargai pemberian Anda.”

Setelah si wanita pergi, dan meyakinkan dirinya bahwa wanita itu tidak dalam posisi bisa melihat apa yang akan ia lakukan, ia mulai membuka bingkisan tersebut. Namun ia membatalkannya karena masih merasa belum nyaman. Selanjutnya ia bergegas menuju ke toilet terdekat dan membuka bingkisan tersebut. Isi bingkisan tersebut berisi kalung perak dengan liontin daun semanggi berkelopak empat dengan bagian tengah dihiasi batu bening kehijau-hijauan, persis seperti yang sebelumnya dilihatnya dan ingin dibelinya saat pertama kali sampai di kota tersebut.

“Ah cuma satu.” Ia kembali teringat pesan sang pujaan hati, dua ya!

Si pemuda kemudian keluar dari toilet dengan sebuah ide di kepalanya, ia merasa senang bisa mendapatkan ide tersebut. Kalung dengan liontin tersebut ia rencanakan untuk diberikan kepada sahabat sang pujaan hati sementara itu untuk sang pujaan hati sendiri ia mempunyai rencana lain yang saat itu dipikirnya adalah sebuah ide yang sangat brilian.

Setelah kapal berlabuh, ia langsung menuju ke kantornya untuk menyelesaikan segala urusan yang berkaitan dengan pekerjaannya. Ia kemudian diperbolehkan untuk pulang oleh atasannya walaupun jam kerja kantor saat itu belum selesai. Ia sendiri kemudian memutuskan untuk langsung menuju ke tempat sang pujaan hati. Di dalam perjalanan ke sana ia bertemu dengan sahabat sang pujaan hati. Tanpa pikir panjang hadiah tersebut ia berikan kepadanya.

“Ini untukmu, pesan dari dia.” Kata si pemuda sambil tersenyum.

“Oh, ini bagus sekali, aku baru saja dari tempatnya, Aku tidak bisa menunggumu, sebenarnya dia memaksaku untuk tinggal beberapa saat lagi karena kau akan datang dan membawakan oleh-oleh untukku. Aku, wah…..ini bagus sekali, aku tidak berharap akan mendapatkan oleh-oleh sebagus ini, dia sangat beruntung dan dia tentunya akan mendapatkan sesuatu yang lebih bagus dari ini.” Si sahabat sang pujaan hati terlihat sangat senang, mungkin saat itu dia telah membayangkan dirinya dengan kalung itu menggantung di lehernya.

“Ya, tentu saja, kau tahu betapa…..kau tahu aku sangat..…ya itu.”

“Hahahaha, iya aku tahu, kupikir kau tak perlu malu untuk mengatakannya di depanku, tapi baiklah, terima kasih, ini benar-benar sangat bagus sekali.” Dia kembali memajang kalung itu di telapak tangannya. ”Ayo, cepat sana hahahaha, kupikir dia sudah tidak sabar untuk bertemu denganmu.”

“Apa yang akan dia berikan kepada sang pujaan hatinya kemudian?” Adikku menyela dan bertanya tidak sabar.

“Bukankah sudah kukakatan, kamu harus mendengarkan sampai menjelang akhir dan coba menebak bagaimana akhir ceritaku sebelum aku mengakhirinya.”

“Ah iya, maaf, kalimat itu terlontar begitu saja dari mulutku.” Ia berucap dengan tulus.

“Hei.”

“Hai!”

Si pemuda akhirnya bertemu dengan sang pujaan hati

“Aku tahu yang akan kau berikan padaku.” Sang pujaan hati memulai pembicaraaan. Sementara si pemuda mulai merasa tidak enak, segala angan-angan dan harapan mengenai ide cemerlangnya mulai pudar kontra dengan wajah sang pujaan hati yang semakin berseri-seri.

“Tidak, kau tidak tahu, sungguh kau tidak tahu apa yang kubawakan untukmu.” Ia berusaha sekuat hati untuk terlihat meyakinkan.

“Baiklah, jadi apa yang kau bawakan untukku?” Sang pujaan hati tersenyum, berharap-harap dan menebak-nebak dalam hatinya tentunya lebih bagus dari apa yang telah diperlihatkan oleh sahabatnya kepadanya.

“Hatiku.” Si pemuda akhirnya berkata dengan suara dijantan-jantankan begitu pikirnya dalam hatinya.

“Hahahahaha, ayolah kau bukanlah orang yang akan bercanda seperti itu dan kau bukanlah orang yang akan bisa mengucapkan itu dengan serius, wajahmu tidak bisa mewakili mulutmu saat mengucapkan itu.” Walaupun berkata seperti itu, ucapan si pemuda tersebut sepertinya cukup membuat matanya berair karena tertawa, dia belum tahu saat itu si pemuda benar-benar serius dengan perkataannya. “Tidak lucu tahu!!” Kemudian ia berhenti tertawa.

“Aku serius.” Si pemuda menjawab singkat. Air muka sang pujaan hati mulai berubah, baru kali ini si pemuda melihat wajahnya seperti itu, nyali si pemuda mulai menciut, dia diam saja saat pujaan hati merebut tasnya dan membongkar isinya.

“Ayolah, ini benar-benar tidak lucu.” Ucap sang pujaan hati setelah tidak menemukan apapun dalam tas yang dibongkarnya tersebut. Ia kemudian melihat ke saku celana dan baju si pemuda. Seolah mengerti si pemuda mengeluarkan isi saku celana dan membiarkan saku-saku itu terjulur keluar.

Sang pujaan hati melemparkan tas ke arah si pemuda, kemudian berlari ke dalam rumahnya. Semua yang sebelumnya ia bayangkan saat ia keluar dari toilet di kapal tidak terjadi, kecuali tawa sang pujaan hati yang sebentar saja, karena menganggap ia bercanda. Tidak ada hati sang pujaan hati yang terenyuh mendengar perkataannya, semuanya berlawanan dengan yang diharapkannya.

Belasan detik kemudian si pemuda menerima pesan dari pujaan hati.

“Kenapa kau lebih mendahulukan dia daripada aku?” Nada pesannya terasa getir bagi si pemuda.

Setelah upaya yang tidak berhasil untuk mendapatkan hadiah yang lebih baik atau paling tidak sama dengan yang ia berikan kepada sahabat sang pujaan hati, si pemuda akhirnya menemui sahabat sang pujaan hati dan menceritakan semuanya.

“Wah…” Satu kata tersebut yang keluar dari mulut sahabat sang pujaan hati yang kemudian melepaskan kalung tersebut dari lehernya dan menyerahkannya ke tangan si pemuda.

“Ini, kau bisa bilang kalau kau hanya bercanda saat itu, kita…! Iya, bilang kita bercanda.” Si pemuda mengamatinya, tidak sedikitpun terlihat ada rasa kecewa di wajah sahabat sang pujaan hati namun ia tetap percaya wanita itu sangat pintar menyembunyikan perasaannya. Pun tidak pernah terpikir dia akan melakukan hal tersebut.

“Kenapa? Kau merasa tidak enak hati?” Percayalah, dia mengingatku untuk oleh-oleh ini saja sebenarnya sudah sesuatu yang sangat berarti untukku.”

“Nah, menurutmu bagaimana akhir dari cerita ini?” Adikku tiba-tiba terkejut diberi pertanyaan tersebut.

“Err… Aku lebih menyukai akhirnya seperti ini,” dia berhenti sejenak “si pemuda akhirnya memberikan kalung tersebut kepada sang pujaan hati namun kemudian ia mengambil keputusan untuk melupakan sang pujaan hati dan melamar sahabat sang pujaan hati, menikah, hidup bahagia setelahnya dan tentu saja juga dengan pertengkaran-pertengkaran kecil dalam kehidupan rumah tangga mereka tapi entah kenapa aku ingin si wanita dengan bayi yang memberikan kalung tersebut mempunyai suatu hubungan dengan…tidak dekat tidak jauh juga dengan sahabat sang pujaan hati yang selanjutnya memberikan kalung yang sama terhadap sahabat sang pujaan hati si pemuda tersebut.”

“Ya, aku juga menginginkan akhirnya akan, kurang lebih seperti  itu, namun tidak demikian, si pemuda itu menulis ceritanya sendiri, ia tetap melamar dan menikahi sang pujaan hati, begitulah kenyataannya dan ini bukan cerita yang kubuat.”

“An……!!”

“Ah, maaf kami tidak mendengarmu, mau kopi?” Jika ingat cerita ini aku selalu tenggelam kembali ke masa itu, aku bahkan tidak menyadari suamiku yang telah masuk ke rumah dan sekarang sudah ada di teras belakang bersama aku dan adikku.

“Iya sayang, makasih ya.”

“Eh, Li udah lama? Apa Kabar?” Dari dapur terdengar suamiku dan adikku mulai bercakap-cakap dan aku sama sekali tidak bisa mendengar dengan jelas apa yang mereka bicarakan.

“Aku baru saja bercerita tentang kisah seorang pemuda yang lupa membawakan hadiah kepada sang pujaan hatinya.” Aku meletakkan secangkir kopi tanpa tatakan di meja kecil di sebelah suamiku.

“Benarkah?” Dia mengalihkan pandangannya kepada adikku

“Iya, aku cuma merasa sedikit kecewa dengan cerita itu, pemuda itu, menurutku bodoh sekali dan sang pujaan hatinya mestinya tak seberuntung itu yang akhirnya menikah dengan pemuda itu, kupikir sahabat sang pujaan hatilah yang seharusnya mendapatkan suami seperti pemuda tersebut. Bahkan rasanya aku ingin menjadikan dia teman hidupku, sahabat sang pujaan hati tersebut kalau saja kami hidup di zaman yang sama dan aku berkesempatan bertemu dengannya.

“Hahaha, Li..! Kamu harus berhati-hati dengan ucapanmu.” Suamiku memandangku, dia agaknya menginginkan agar aku yang melanjutkan ucapannya. ”Aku mau mandi dulu.” Dia meninggalkan kami dan kopinya yang baru seteguk diseruputnya.

“Apa maksud suamimu?”

“Jika kamu mau menunggu sebentar lagi, mungkin kamu akan bisa bertemu langsung dengan sahabat sang pujaan hati.”

“Benarkah? Dia keluarga kita? Temanmu? Lalu bagaimana dengan si pemuda dan sang pujaan hati? Siapa mereka?””Aku menarik nafas panjang.

“Kamu sepertinya belum juga menyadari bahwa kamu sebenarnya tahu si pemuda dan sang pujaan hati.” adikku hanya terlihat kebingungan dan tidak percaya dengan kalimat terakhirku sambil berusaha mencerna kalimat tersebut kembali dengan baik.

“Ah, aku sekarang tidak tahu, maaf…..”

“Tidak, kamu tidak perlu minta maaf, begitulah aku dulu.”

“Jadi siapa dia?”

“Siapa temanku yang diam-diam dan paling sering kamu perhatikan, yang kalau di depannya kamu selalu berlagak sok? berlagak wah?”

“Tidak ada, tidak satupun, tidak pernah, jangan mengada-ada?” Aku kembali merasakan suasana menjadi biasa antara aku dan adikku.

 

Telefon genggamku berbunyi, panggilan dari Hanya, aku sengaja mengeraskan suaraku agar adikku bisa mendengarnya.

“Iya, masuk aja Nya, aku di rumah kok.” Sementara di depanku adikku kelihatan salah tingkah, walaupun bukan bocah kecil lagi namun sungguh lucu melihatnya. Dia kemudian membereskan barang-barangnya dan bergegas pergi.

“Kamu kok kabur?” Aku terus menggodanya

“Hai Li!” “Hallo mbak Hanya.” Mereka berpapasan di ruang tengah rumahku.

“Li..!! Jadi bagaimana…..?” Aku masih berusaha menggodanya.

“Terserah kamu mbak…!!” Selanjutnya aku hanya mendengar bunyi motor yang semakin lama semakin menghilang.

“Jadi yang kemaren bagaimana?” Hanya sudah berada di depanku.

“Coret, dia tidak ingin Ibu tinggal bersama kita setelah menikah nanti, dia inginnya kita sesekali saja menengok ibu, Ibuku kan harus ada yang merawatnya dan aku anak satu-satunya, jadi tidak usah sajalah.”

“Ya sudah, aku tahu kamu tidak sedih, jadi tidak perlu dihibur ya.”Aku mengedipkan mataku, kemudian menyerangnya dengan sebuah pertanyaan.

“Eh, Nya, kalau Li bagaimana menurutmu?”

Akhirnya sahabat baikku dan adikku menikah, mereka berbahagia dan kadang kadang juga ada tidak bahagianya.

2 thoughts on “(Hanya)

Add yours

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: