Percakapan di Peron 3

“Aneh rasanya kita harus bertemu di sini.” Aku kembali memulai percakapan mencoba menghilangkan rasa kantuk dan dingin yang menyerang bertubi-tubi setelah kami berbicara tentang banyak hal, ini dan itu sejak bertemu di halaman Bajrakli, seperti yang biasa dibicarakan oleh dua orang yang tidak saling kenal dan harus duduk bersebelahan di atas kendaraan umum yang melakukan perjalanan panjang. Sementara itu, penumpang di sebelahnya akan menjadi orang terdekat selama perjalanan tersebut dan kadang kita tidak bisa memilihnya, sehingga mau tidak mau terpaksa harus berinteraksi setidaknya dengan menyunggingkan sedikit senyum. Aku telah bercerita tentang Beograd dan dia rasanya juga telah mengkhatamkan cerita tentang Podgorica. Dia juga telah selesai bercerita tentang Bukittinggi, bagaimana dia setiap hari bisa melihat Jam Gadang dari jendela kamarnya, mungkin saja aku pernah melewati rumahnya dalam salah satu kunjunganku ke Bukittinggi, mungkin saja kita pernah berpapasan, tapi saat itu, hal tersebut mungkin bukanlah sesuatu yang menarik, hanya sesuatu yang biasa, sangat biasa, bertemu orang Indonesia di Indonesia, tidak ada yang istimewa, sehingga kalaupun papasan itu terjadi tidak akan ada alasan untuk bercakap-cakap, bahkan melempar pandangan saja mungkin tidak. Aku juga telah selesai bercerita tentang kotaku yang…yah…tidak banyak yang bisa diceritakan, dari dulu kotaku sepertinya begitu-begitu saja. Cerita-cerita yang membuat orang cepat bosan, cerita-cerita yang tak bisa membuat mata untuk tetap terjaga.

“Sekarang katakan bagaimana kau bisa mengenaliku sebagai orang Indonesia?”

“Bagaimana denganmu, kenapa kau langsung mengenaliku sebagai orang Indonesia?”

“Hahahaha, aku mengenali logatmu walaupun kau berbicara dalam Bahasa Inggris.”

“Benarkah? Sekentara itukah? Padahal kupikir aku telah…maksudku dalam benakku aku merasa telah berbicara seperti orang Inggris yang sedang berbicara dalam Bahasa Inggris, hahahaha.”

“Ya, sepertinya ada bagian-bagian yang tetap melekat yang tidak bisa kita hilangkan, hei, kau belum menjawab pertanyaanku!!”

“Kupikir kau telah melupakannya.”

“Aku tidak melupakannya, hanya saja aku sudah tak bisa lagi menahan diriku untuk tidak berkomentar dan mengatakan bahwa logatmu sangat mencolok, hahaha.”

“Ranselmu, dan gantungan kunci ketupat itu, awalnya tidak begitu yakin tapi karena dua benda itu aku jadi memperhatikannmu dan setelah itu baru aku yakin kau orang Indonesia.”

“Cuma karena itu…? Ah ya, mungkin kau benar, kau tidak akan menemukan ada yang menjual ransel merek Eiger di sini, belum… dan tentu saja tidak ada ketupat.”

“Aku dulu sebenarnya berpikir Eiger itu bukan merek Indonesia dan pernah berkeliling-keliling mencarinya di sini, ternyata setelah membaca sebuah postingan di Kaskus, aku jadi tahu kalau ransel itu ternyata asli Indonesia, setidaknya itulah informasi yang bisa kudapatkan mengenai merek itu sejauh ini.

Kami kembali diam sejenak, larut dalam pikiran masing-masing. Aku melihat ke arah jam gantung di peron tersebut, dia mengikuti pandanganku. Jam tersebut cukup terlihat jelas dari tempat duduk kami, tentu saja jelas, aku mencela diriku sendiri, pastilah saat akan memasangnya mereka telah memperhitungkannya terlebih dahulu, kadang-kadang aku tidak mengerti dengan pikiranku yang kadang-kadang juga bodoh seenaknya.

“Tidak apa-apa, setidaknya saya bisa mengunjungi Om, selama ini saya saya baru mengenal Om melalui cerita-cerita Papa.” Tidak mungkin rasanya kusampaikan bahwa perjalananku ke Podgorica kali ini sebenarnya hanya atas desakan Papa, bukan karena ingin bertemu dengan anak gadisnya.

“Iya anak gadisku itu, hahaha, sejak Om bilang bahwa ada anak teman Om yang akan berkunjung dia sudah mencak-mencak, bilang dijodoh-jodohkan lah, bilang ini bukan zaman Siti Nurbaya lah, padahal kami kan cuma ingin kalian berkenalan, itu saja. Kemudian minggu lalu, saat Om bilang kamu akan datang besok, eh dia malah kabur, ada seminar, ada itu, ini, katanya.” Aku pun sebenarnya juga tidak begitu ingin bertemu, kenapa para orang tua tidak bilang terus terang kalau mereka berniat menjodohkan kami, selalu dengan alasan ‘kenalan’ padahal harapan mereka kami bukan hanya berkenalan. Kenapa tidak bilang saja kami ingin menjodohkan kalian, kalau kalian merasa cocok, lanjut, kalau tidak, ya sudah, lebih gampang kan. Lalu kenapa harus begitu, bilang kenalan dan saat dikenalkan dalam benak kami berdua akan ada pikiran, dia dijodohkan denganku dan rasanya akan ada persaaan canggung nan aneh saat kita bertemu. Inikah dia orangnya? Bagaimana ya.. kalau aku tidak suka dengannya? Bagaimana mengatakannya? Apakah hal tersebut tidak akan menyakiti dia jika ternyata dia suka padaku? Setelah itu, bagaimana kalau kami bertemu lagi, sama-sama belum menikah, atau aku sudah dan dia belum, atau sebaliknya? Mungkin kalau sama-sama telah menikah tentu saja perkenalan yang tidak berhasil untuk berjodoh sebelumnya akan menjadi cerita lucu yang akan ditertawakan bersama. Lalu apa kira-kira yang orangtuanya akan katakan tentangku jika aku tidak suka dengan anak mereka? Bagaimana hubungan mereka dengan orang tuaku nantinya? Akankah tetap seperti sebelumnya? Ahhhh………Apa boleh buat, aku telah kepalang janji dengan Papa setelah beberapa waktu belakangan ini setiap hari dicocor dengan pertanyaan kapan kamu ke Podgorica? Dan minggu lalu aku menjawabnya minggu depan.

Keretaku akan berangkat pukul 21:17, masih sekitar 2 jam lagi namun mataku sudah berkali-kali kalah oleh rasa kantukku, dia sepertinya juga begitu.

“Kau tahu, aku sebenarnya melarikan diri dari Bapakku.” Dia berhenti sejenak  sepertinya menunggu dan menimbang-nimbang apakah akan melanjutkan ceritanya atau tidak.

“Aku tidak begitu paham, maksudmu?” Tentu saja apa yang baru saja keluar dari mulutnya tersebut seketika membakar rasa kantukku. Iya benar, dari tadi aku telah menepis berkali-kali mengenai kemungkinan gadis yang sedang duduk dan berbicara denganku saat ini adalah anak teman Papa yang dijanjikan akan dikenalkan kepadaku, karena walaupun masih ada menurutku sangat kecil sekali kemungkinannya ada dua keluarga dari Bukittinggi yang tinggal di Podgorica. Namun aku tetap berusaha untuk menepisnya dengan berpegang pada kemungkinan yang kecil tersebut.

“Ya…tidak melarikan diri sih, sebenarnya cuma kabur untuk beberapa hari dari rumah dengan alasan menghadiri seminar di Budapest, jelas seminar itu tidak bohong-bohongan, seminar itu memang benar adanya dan memang aku akan menghadirinya, hanya saja tujuanku ke Budapest bukan benar-benar untuk menghadiri seminar tersebut, melainkan karena aku sebenarnya tidak ingin berada di rumah saat ini. Dalam beberapa hari ini akan ada seorang anak teman Bapakku yang berkunjung ke rumah, Bapak dan temannya ingin menjodohkan kami. Tapi sejak dulu aku menolak ide tersebut.” Tidak ada yang salah sebenarnya dengan syal yang kupakai, leherku masih tertutup rapat, angin pun tidak sedang bertiup, tapi tetap saja aku merasa aku harus membenarkannya. Mungkin hal yang baru saja kudengar membuatku terkejut dan aku melakukan sesuatu untuk menyembunyikan keterkejutanku. Sekarang aku yakin seratus per seratus gadis ini sebenarnya adalah gadis yang akan dipertemukan denganku. Walaupun tetap ada, tapi seberapa besarkah kemungkinan ada dua keluarga dari Bukittinggi yang sama-sama berada di Podgorica, dan sekarang ditambah faktor lain yakni mempunyai anak gadis yang hampir seumuran, sedang melakukan perjalanan ke Budapest pada saat yang sama, dengan alasan yang sama juga yaitu untuk menghadiri seminar. Aku yakin siapapun pasti akan berpikiran sama denganku, bahwa kemungkinan tersebut semakin mendekati nol.

“Bukankah itu bukan sesuatu yang buruk?” Suara dalam hatiku masih berperang apakah aku akan mengatakan bahwa orang yang akan dikenalkan itu kemungkinan besar adalah aku.

“Bukan, sama sekali bukan, aku tidak berpikir itu sesuatu yang buruk, hanya saja aku percaya aku akan lebih puas dalam memilih sesuatu jika aku sendiri yang akan memilihnya.

“Kau bisa saja mengatakan tidak atau bukan pilihanmu setelah perkenalan itu,  jika memang tidak sesuai dengan bayangan yang akan menjadi pilihanmu bukan?” Sekalipun setuju dengan pendapatnya tapi aku tetap mencoba untuk membantah pendapatnya karena rasanya perasaan ini sedikit teriris karena orang tersebut adalah diriku sendiri.

“Memang, hal itu akan mudah seandainya kami berdua tidak, bagaimana kalau dia iya? Aku tidak punya hati untuk menolak, itu akan menjadi seusatu yang sulit bagiku, aku tidak akan sanggup melihat matanya dan mengatakan tidak, membayangkan perasaannya, makanya kupikir lebih baik kabur saja. Berkaitan dengan hal tersebut sendiri, aku akan memilih untuk mendekati seseorang yang aku sukai tanpa dia perlu tahu bahwa aku berusaha untuk menjodohkan diriku sendiri dengannya, jika pun akhirnya dia menyukaiku dan aku memutuskan bukan dia, setidaknya harapan itu tidak akan sebegitu besar seperti harapan yang ada saat perkenalan yang diniatkan untuk dijodohkan, apalagi jika orang itu akhirnya menyukaiku…misalnya.” Dia tampak sedikit ragu dengan katanya yang terakhir.

“Bagaimana kalau ternyata dia juga mempunyai pikiran yang sama denganmu? Dan kau bisa saja berada di tempat dia, pada bagian yang menyukai tapi tidak disukai?” Aku memutuskan bahwa aku tidak akan menyampaikan siapa aku.

“Kurasa itu bukan masalah bagiku.”

“Kau yakin?”

“Kurasa aku yakin, entahlah…kenapa aku merasa kau dari tadi seperti mendukung, membela dia?” Pandangannya menyelidik, apakah dia mulai curiga tentang aku? Apakah dia tahu juga? Aku sekali lagi membenarkan syalku.

“Tidak, aku merasa kasihan kepadanya, kamu telah menjadikan dia tokoh ciptaan pikiranmu, mungkin dia tidak begitu, seperti yang ada di pikiranmu. Dia seharusnya juga berhak bukan, untuk menunjukkan dirinya. ” Aku merasa kasihan kepada diriku sendiri.

“Ohh..Kau membuatku merasa bersalah, tapi…entahlah kurasa aku juga mempunyai hak untuk bersikap seperti ini.” Dia terlihat putus asa.

“Hahahaha, sudahlah, kau terlalu serius, terima kasih ya.”

“Untuk apa?”

“Untuk ceritanya, keretamu yang ke Ferencvaros kan? Aku akan berangkat lebih dulu, masih ada waktu satu jam lebih, dan kau punya dua jam lagi sampai pukul 21:50, mau mendengar ceritaku?”

“Hah.. maaf, cerita? Oh okay, baiklah.”

“Kau baik-baik saja?”

“Ah tidak, iya…maksudku tidak apa-apa, apa yang ingin kau ceritakan?”

“Sebenarnya aku tidak begitu yakin, apakah aku ingin bercerita atau tidak tapi baiklah kupikir tidak ada ruginya kalau kusampaikan.”

“Tentang Juliana, tapi tolong kau jangan menyelaku saat aku bercerita, sedikit sulit bagiku untuk bercerita, mungkin akan melompat-lompat tapi kuyakin kau akan bisa menyusun jalan ceritanya.” Aku berhenti sejenak, dia terlihat ingin berbicara namun kemudian mengurungkan niatnya selanjutnya menungguku untuk berbicara kembali dan memang itu yang kulakukan.

“Aku tidak yakin, tapi kurasa aku jatuh hati padanya. Ahh..kenapa aku mulai dari sini, aku belum menjelaskan kepadamu siapa dia. Baik, begini, mari kita panggil dia Juliana, oh.. bodohnya diriku, aku telah menyebutkan namanya tadi baiklah, tentang Juliana.”

“Hahaha, maaf aku menyela aku tidak sabar ingin berkomentar, apapun nama yang kau sebutkan aku tidak akan tahu nama tersebut nama sebenarnya atau bukan, tapi baiklah kita sebut dia Juliana dan aku yakin itu nama orang yang akan kau ceritakan itu dan bulannya lebih tua dariku, hahahaha.”

“Bulan?”

“Tidak, lupakan saja, bukan sesuatu yang penting.”

“Ah ya, baiklah kalau demikian, baik namanya memang Juliana.” Aku kemudian meneruskan bercerita.

“Kau tahu, dulu waktu kecil aku mempunyai kotak kaleng yang ukurannya kira-kira setengah dari kotak sepatu orang dewasa. Aku menyebutnya “kotak harta”, kupikir bukan aku saja yang mempunyai kotak tersebut, anak-anak lain sepertinya juga, namun karena itu “harta” kami, jadi kami, aku dan mereka merahasiakannya sehingga tidak ada yang tahu masing-masing dari kami mempunyai rahasia kecil seperti itu. Di dalam kotak itu aku menyimpan bermacam-macam benda yang saat itu sangat berharga bagiku, seperti tanduk kambing, koin-koin Rupiah lama yang lebih tua dari Ibuku, bulu angsa, kotak korek api dari luar negeri, kaset yang berisi rekaman suaraku, lembaran almanak yang bergambar pemandangan di suatu tempat yang aku tidak tahu di mana itu dan di sana pun tidak dituliskan nama tempat itu. Buku belajar kungfu yang kubeli di penjual buku emperan yang penerbitnya entah dari mana yang kubeli dengan diam-diam, saat itu kupikir aku akan bisa kungfu dengan belajar melalui buku tersebut.” Aku larut sejenak pada gambar diriku saat aku mempelajari gerakan-gerakan dalam buku itu. “Kemudian kelereng yang salah cetak dan bentuknya aneh. Aku tidak ingat lagi apa yang kusimpan di sana. Namun aku bisa mengingat hal terakhir yang kusimpan di sana, jepit rambut.”

“Waktu itu aku kelas enam SD, di kelas kami ada seorang murid perempuan bernama Rosi. Semua murid di kelas selalu ingin dekat dengannya, jika disuruh membentuk kelompok atau mengerjakan tugas berkelompok setiap murid selalu ingin satu kelompok dengan Rosi, kalau ada yang kesulitan dengan pelajaran semua berebutan ingin bertanya kepada Rosi, piket kelaspun ingin bersama Rosi, pokoknya semua Rosi. Guru pun kadang-kadang setelah jam istirahat meminta Rosi untuk memanggil murid laki-laki yang masih berkeliaran di luar kelas untuk masuk, murid-murid di kelas, teman-temanku sepertinya lebih mendengarkan Rosi daripada guru-guru. Aku pun juga kadang-kadang memperhatikannya karena dia adalah sainganku untuk juara kelas, bagiku dia seorang musuh. Suatu kali setelah pelajaran olahraga dia menitipkan jepit rambutnya padaku, aku tidak tahu kenapa dia melakukan itu, yang bisa kuingat saat itu aku mendapatkan tatapan aneh dari teman laki-laki lain yang melihat kejadian itu yang pada akhirnya aku tahu bahwa itu adalah tatapan cemburu. Saat jam pulang sekolah tiba dia tidak memintanya kembali kupikir dia lupa. Jepit rambut itu kemudian kukembalikan padanya. ‘Rosi, kau melupakan jepit rambutmu’.’Oh iya’ ucapnya ‘kenapa tidak disimpan saja’ aku meniru ucapan Rosi semirip mungkin. Aku tidak tahu kenapa aku harus menyimpannya toh tidak akan berguna bagiku. Dia kemudian mengambilnya dari tanganku dan berlalu begitu saja. Setelah kejadian itu, teman-temanku meledekku dan bilang aku bodoh, karena mereka akan menyimpannya sebagai kenang-kenangan dari Rosi. Hal tersebut kemudian menjadi pikiran bagiku, akupun jadi semakin sering memperhatikan dia untuk hari-hari setelah itu tapi kali ini agak berbeda. Selanjutnya hal itu tidak pernah terjadi lagi meskipun aku sangat berharap dia menitipkan lagi jepit rambutnya, lama-lama hal tersebut juga berlalu dari pikiranku.”

“Suatu hari menjelang pelajaran olahraga, kami berdua yang terlambat karena sebelumnya menjadi utusan kelas untuk lomba murid teladan se-kota melewatkan pelajaran pertama dan masuk untuk pelajaran kedua yakni pelajaran olahraga. Kami berdua masih berada di dalam kelas untuk meletakkan tas dan perlengkapan setelah lomba, sementara itu teman teman yang lain sudah berada di pekarangan depan sekolah. Rosi keluar kelas lebih dulu dariku, saat aku keluar kelas dan melewati mejanya aku melihat jepit rambut itu lagi di mejanya tanpa berpikir panjang aku mengambilnya, pada saat yang bersamaan dia masuk kembali ke kelas dan melihatku melakukan hal tersebut, aku malu sekali rasanya. Akan tetapi dia hanya berkata ‘Aku titip ya’. Aku kemudian tidak mengembalikannya lagi, saat pulang sekolah dia juga tidak menanyakannya, jepit rambut tersebut kemudian menjadi barang terakhir yang kusimpan dalam kotak hartaku.” Aku berhenti dan meneguk kopi dingin yang sebelumnya kubeli dari mesin minuman di peron tersebut.

“Aku tidak melihat hubungannya dengan Juliana.” Komentarnya singkat.

“Ah iya, Juliana, sebelumnya aku ingin bertanya kepadamu, apakah kamu akan merasa dijengkelkan apabila seseorang terlalu sering mengirim pesan atau menghubungimu?”

“Tergantung, kenapa?”

“Mungkin sama seperti keluargamu, keluargaku juga terlalu khawatir, menurut mereka aku seharusnya sudah mempunyai teman hidup, menikah. Mereka juga berusaha untuk menjodoh-jodohkanku dengan orang yang mereka anggap cocok denganku. Demikian juga halnya dengan teman-temanku. Bukannya aku belum mau atau apapun itu alasannya, aku sebenarnya juga terus berdoa agar aku secepatnya dipertemukan dengan jodohku, tapi sepertinya belum ada tanda-tanda dari Tuhan. Aku juga terus berusaha mencari namun dari upaya yang kulakukan sepertinya tidak ada yang benar-benar berjodoh denganku, saat aku berpikir aku telah menemukannya selalu saja ada hal-hal yang menahanku, seperti tiba-tiba aku melihat sesuatu hal padanya yang membuatku berpikir tidak, bukanlah suatu hal buruk hanya sesuatu yang tidak sesuai denganku dan beberapa hal lain yang akhirnya membuatku mengambil keputusan bukan dia.”

“Diantara waktu-waktu itulah kami bertemu, sebenarnya kami tidak bisa dikatakan bertemu, kami belum pernah bertemu, baru berkenalan, dikenalkan oleh seorang teman. Temanku memberiku nomor telfonnya dan minta aku menghubunginya dia juga bilang dia telah meminta izin kepada Juliana perihal dia memberikan nomor telfonnya kepadaku. Kemudian aku menghubunginya setelah sempat menunda-nunda beberapa waktu, karena sebelumnya au beranggapan hal tersebut tidak akan berjalan dengan baik, namun aku memutuskan baiklah, aku akan mencobanya. Aku tidak pernah menyangka dari pesanku yang awalnya sekaku es bisa mencair mengalir seperti air dan mengalir kemana-mana. Semenjak itulah segala tentang dia menjadi harta karunku, ikut memenuhi kotak hitam di kepalaku seperti kotak hartaku dulu, isinya terus bertambah, dari nama dia, cerita dia hingga segala sesuatu tentang dia, ada di sana, dalam kotak hitam itu. Aku pernah berpikir mungkinkah jika saat itu atau gadis itu bukan dia apakah juga akan bisa seperti ini, bisa jadi iya, bisa jadi tidak, aku tidak tahu dan tidak pernah bisa menjawab pertanyaan itu hingga saat ini.”

“Hal tersebut terus berlanjut, kami terus berhubungan. Menghubunginya bisa dibilang menjadi candu bagiku walaupun hal tersebut bukanlah hal yang bisa kukatakan adalah hal yang baik, aku merasa senang bisa mencuri-curi waktunya, perhatiannya dan semua itu kemudian kusimpan dalam kotak hitamku.”

“Maaf aku menyelamu, aku aku tidak menyangka akan mendengar cerita seperti ini dari orang yang baru kukenal beberapa jam lalu.” Aku bisa melihat air mukanya yang terkejut mendengar ceritaku dia tidak sedang berbohong menyampaikan itu, aku melanjutkan ceritaku.

“Aku juga tidak meyangka akan menceritakannya seperti ini, hahahaha. Aku seperti orang bodoh atau mungkin memang aku bodoh….”

“Kadang ketika aku teringat dia, rasanya sesak… aku tidak bisa menahan diriku untuk tidak menghubungi dia…..” Aku diam sesaat, apakah itu kalimat yang tepat? Bukankah seharusnya tidak bisa menahan diri untuk menghubungi, tapi aku merasa artinya sama saja, aku benar-benar bingung.

“….dan bukannya hilang, setelah menghubungi dia sesak itu tetap terasa, rasa yang memenuhi rongga dadamu dan ingin berpendar dari tubuhmu tapi tidak bisa kau lepaskan, tidak bisa kau muntahkan dari kerongkonganmu. Salah seorang temanku pernah bilang, aku tidak pernah bercerita tentang Juliana kepada dia, hanya iseng bertanya jika dia menyukai seseorang apakah dia akan menunjukkannya. Dia mengatakan bahwa dia akan tidak menunjukkan terang-terangan kalau dia suka, katanya itu sudah menjadi keharusan, agar tidak terlihat terlalu mengharapkan, agar tidak terlihat lemah. Aku tidak sepenuhnya setuju dengan pendapatnya, kenapa kau tidak ingin menunjukkan kau suka jika memang kau suka, apa salahnya menunjukkan harapanmu, kalaupun nanti tidak sesuai dengan harapanmu, ya itu memang begitu adanya kau mau apa lagi. Tentu saja pikiranku yang seperti ini tidak kusampaikan kepada temanku itu, apalagi dia juga tidak menanyakan hal tersebut padaku.”

“Lalu apa yang kau lakukan?”

“Mungkin aku terlalu berlebihan, memang dia pernah berkata bahwa aku tidak perlu menahan diri untuk menghubunginya, tapi…”

“Kalau dia sudah berkata seperti itu, bukankah itu berarti dia tidak terganggu?”

“Memang, aku juga berpikir seperti itu tapi bukankah menurutmu egois, dia harus terganggu hanya karena aku rindu, tapi ini, tapi itu dan banyak tapi-tapi yang lain dalam kepalaku.”

“Misalnya?, Lainnya?”

“Yah, sejujurnya tapinya tidak sebanyak itu, mungkin aku terlalu berlebihan, namun demikian saat kupikirkan terasa banyak sekali.”

“Lalu apa yang akan kau lakukan?”

“Sebenarnya aku berharap setelah menceritakannya padamu aku bisa mendapatkan pandangan lain atau mungkin aku bisa melihat sesuatu atau menyadari sesuatu saat aku bercerita dan lebih mengerti tentang hal ini, yang kumaksud…..aku tidak tahu bagaimana menjelaskannya. Dulu saat belajar atau di sekolah jika ada yang bertanya tentang sesuatu atau bagian pelajaran yang tidak dimengerti oleh temanku, aku menjelaskannya dengan kata lain bercerita. Saat aku melakukan itu aku menjadi lebih mengerti tentang sesuatu yang ditanyakan itu yang sebelumnya aku juga sudah mengerti. Sementara itu, setelah menjelaskannya aku sering melihat atau menemukan bagian-bagian lain yang sebelumnya tidak pernah terlihat atau terpikirkan olehku, agaknya begitu.”

“Apakah kau sekarang sudah mengerti bagian-bagian yang tidak terlihat itu?”

“Tidak, aku masih bingung, menurutmu apakah aku sudah jatuh hati padanya?”

“Tentu saja aku tidak tahu hal itu, hanya kau dan Tuhan yang tahu hal itu menurutku.” Dia kemudian menambahkan sesuatu.

“Akan tetapi, menurutku saat ini dia selalu ada dipikiranmu.” Aku meneguk tegukan terakhir dari gelas kopi yang ada di tanganku saat dia melanjutkan kata-katanya.

“Apakah kau sudah pernah bercerita kepadanya seperti yang kaulakukan padaku saat ini?” Dia menatapku, aku menatapnya, hanya sesaat tetapi aku rasa tatapan itu terasa seperti beberapa menit lamanya. Aku mengalihkan pandanganku ke langit-langit stasiun.”

“Belum.”

“Kau tahu, aku kadang seperti ini, sebagai seorang perempuan, mungkin tidak semua perempuan seperti ini, apakah dia termasuk pada bagian yang berpikiran sama denganku, mungkin iya, tidak, mungkin tidak dua-duanya. Walaupun senang, aku terkadang tidak bisa percaya begitu saja dengan sesuatu yang kulihat atau sikap yang ditunjukkan seorang lelaki jika dia menyukaiku, aku menuntut mendengar ucapannya, mendengar kata-katanya atas sikap yang ditunjukkannya, jika dia memang menyukaiku. Menurutku, mungkin kau perlu bercerita kepada dia sebagaimana kau bercerita padaku.”

“Apa menurutmu dia akan senang? Apakah itu perlu?”

“Mungkin saja senang,…ya tentu wanita akan senang dan setelah kau menceritakannya bisa jadi kau akan lebih yakin dengan perasaanmu, atau jangan-jangan kau takut mendapatkan  tanggapan yang mungkin buruk bagimu?”

“Mungkin saja iya, tapi rasanya aku tidak terlalu mementingkan tanggapan tersebut, apakah seseorang akan berhenti mencintai sesuatu? Kurasa tidak, kurasa rasa itu akan tetap ada, tidak berhubungan lagi mungkin, bisa saja seperti itu kan? entahlah mungkin saja tidak.” Aku berbicara tanpa nada yakin sedikitpun. Sebaliknya, aku justru khawatir jika dia memberikan tanggapan yang baik yang sama dengan perasaanku, bagaimana jika aku tidak seperti yang dia bayangkan, bukankah itu akan membuatnya kecewa, karena kadang-kadang apa yang terbayang tidak seperti kenyataan.

Terdengar pengumuman bahwa kereta yang akan membawaku ke Podgorica akan berangkat dalam beberapa menit ke depan, penumpang kereta jurusan tersebut telah di minta untuk bersiap-siap. Aku rasanya tidak siap untuk melakukan perjalanan ini entah kenapa aku tiba-tiba merasa harus membatalkan perjalanan ini dan pulang ke rumah dan segera menghubungi Juliana.

“Kurasa aku akan membatalkan perjalananku.”

“Ah tidak, aku akan membatalkan perjalananku.” Ralatku. Mengenai janji yang kubuat dengan Papa, jika aku menjelaskan dengan baik, aku yakin dia akan bisa mengerti dan bukankah tujuan dari perjalananku untuk berangkat ke Podgorica sudah terpenuhi. Berkenalan dengan anaknya teman Papa.

“Kenapa?”

“Mungkin kau benar, aku harus bercerita padanya dan aku tidak ingin melakukan hal tersebut saat sedang dalam perjalanan. Lagian tujuanku untuk berangkat ke Podgorica sudah tidak ada lagi.”

“Oh ya?” Dia tampaknya agak sedikit terkejut.

“Iya dan aku ingin menyampaikan pendapatku tentang orang yang akan dipertemukan denganmu oleh Bapakmu, aku yakin dia tidak sepenuhnya bagus dan juga tidak begitu buruk seperti yang kau bayangkan, kurasa dia akan menjadi teman bicara yang menyenangkan untukmu dan kau juga bisa menceritakan rahasiamu kepadanya, dia akan menjaganya. Kurasa hanya itu, aku merasa aku berkewajiban menyampaikan hal tersebut.”

“Ah, aku sekarang merasa sedikit lega.”

“Hahaha, senang mendengarnya.”

“Baiklah sebelum kembali pulang aku akan menemanimu sampai kereta yang akan membawamu ke Budapest datang.”

“Hahaha, baiklah tawaranmu kuterima, terima kasih.”

“…………”

“…………..”

Percakapan di Peron 3 (Love at first talk)

Winter 2017, Budapest.

Halo, Hola, Holo

Dear my friends, do you believe love at first talk?

Apa ini? sudah lama ga posting tiba-tiba ngomongin love-lovean. Hahahaha, baiklah apa kabar kalian? Kabarku baik, kabar kalian baik ya.. mudah-mudahan. Sudah lama nih ga berkunjung ke peraduanku ini. Lama-lama kangen juga ya ternyata dengan kalian teman-teman yang belum pernah kutemui dan entah kapan kita akan bertemu dan bercerita bersama sambil menikmati minuman kesukaan kita masing-masing.

Yap, jadi ceritanya sekarang si Agustina ini sedang di Budapest dalam rangka “melarikan diri” dari “perjodohan” yang dilakukan oleh orang tuanya pada bulan Desemberina ini. Hihihihi bukan seekstrim itu sih, cuma perkenalan yang diatur tapi kalian tahu kan ujung-ujungnya dan aku adalah penentang hal-hal tersebut, kalau saja ada perkumpulannya aku mau mencalonkan diri jadi ketuanya dengan jabatan sampai aku menikah hikss. So, kemaren dalam perjalanan ke Budapest ini si Agustina bertemu dengan seorang cowokina, iya aku belum melupakan ina…ina ku karena aku sendiri Agust ina, please bear with me 😉

Curhat ini ceritanya? Iyaaaa, aku…hehehehe…belum jatuh cinta sih baru jatuh suka kayaknya, lalu kenapa judul postingan ini love at first talk, simple karena like at first talk sepertinya menjual lebih banyak alias lebih banyak diklik 😀 . Dalam pertemuan kami si cowokina ini, sumpah aku tidak tahu namanya, apalagi kontaknya, bisa sampai lupa ya nanyain namanya saking asyiknya ngobrol… lanjut…dia bercerita tentang seorang gadis yang disukainya  dan di saat itulah si Agustina mulai benar-benar memperhatikan si cowokina ini, oh mendengar dan melihat dia bercerita rasanya aku ingin menjadi gadis yang diceritakannya. Ah huhhuuuhu saat kami berpisah hawa musim dingin kemaren rasanya lebih dingin dari angka yang tertera di termometer, baru sekarang rasanya aku mengerti maksud dari real feel pada prakiraan cuaca, atau yang tertera pada aplikasi hp-ku,  jadi suhu yang sebenarnya bisa saja terasa lebih dingin atau lebih panas tergantung perasaan hatimu hahahahha. Baiklah kurasa itu dulu ya yang bisa kuceritakan pada kalian, kupikir aku seharusnya tidak terlalu menye-menye walaupun aku sangat berharap aku bisa bertemu lagi dengan dia dan saat itu dia……hihihihi aku tidak seharusnya berpikir begini, ya sudahlah, beberapa jam lagi aku harus mengikuti seminar yang merupakan alasanku melarikan diri dari rumah.

See you..!!!

(Publish Immediately…”klik”…published…..view post…”klik”……………..”klik” shutdown ….”klik”)

 

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s