Prasangka semangka

Si Ibu bukan tokoh sebenarnya, Penjual Semangka bukan tokoh sebenarnya, saya bukan tokoh sebenarnya, semangka tokoh sebenarnya…harga semangka bukan harga sebenarnya.

“Berapaan semangkanya Bang?” Saya datang hampir bersamaan dengan si Ibu yang langsung bertanya kepada Penjual Semangka di pinggir jalan.

“Dua ribu sekilonya Buk.”

“Bagus tidak?” Ketika membeli semangka biasanya saya bisa melihat contoh semangka yang sudah dibelah untuk sekedar melihat isinya atau siapa yang mau bisa mencobanya. Namun pada saat itu saya tidak menemukannya di atas meja ataupun di dalam gerobak si Penjual semangka yang kira-kira berisi dua puluhan semangka. Mungkin ia tidak ingin rugi dengan membelah satu buah semangka karena yang dijualnya cuma sedikit, saya berprasangka.

“Bagus Buk.”

“Boleh saya coba?” Saya kemudian meyakinkan diri sekali lagi apakah memang sudah ada semangka yang sudah dibelah untuk dicoba oleh pembeli, karena pertanyaan si Ibu. Tidak, tidak ada. Aduh si Ibu ini tega sekali, saya yakin kalau ia belanja di supermarket yang mempunyai persediaan semangka segudang tidak akan memberikan irisan semangka untuk dicoba, dan si Ibu tidak akan berani untuk memintanya.

Kemudian si Penjual Semangka entah karena sangat yakin akan semangkanya tidak akan mengecewakan lidah si Ibu, atau karena belum ada yang laku dan berharap si Ibu akan membelinya menusukan pisaunya ke bagian tengah semangka dan membentuk tiga garis segitiga yang saling memotong dan mengcongkel potongan segitita itu. Ia menyodorkannya kepada si Ibu, si Ibu menggigitnya dan mengangguk-angguk kecil. Saya bertanya tanya dalam hati apakah itu berarti cocok dan dia akan membelinya, tidak cocok dan dia tidak akan mengambilnya, tidak cocok namun ia akan tetap membelinya atau cocok dan dia akan membelinya. Saya sendiri berkesimpulan bahwa tidak cocok namun berharap ia akan membelinya. Sementara itu, sikap si Ibu menunjukkan bahwa ia berkuasa karena ia adalah pembeli, ia adalah rajanya, raja untuk penjual semangka di pinggir jalan tersebut karena ia tidak akan bisa menjadi raja bagi pedagang besar.

“Baik, berapa kilo satu buah semangka ini?” Saya lega, si Penjual Semangka memasukan sisa potongan gigitan si Ibu tadi hingga semangka tadi terlihat utuh kembali. Dan meninbang semangka itu.

“Tiga belas ribu lima ratus Buk.”

“Tidak tiga belas ribu saja Bang?” Si Ibu menawar, saya sendiri melihat timbangan semangkanya hampir 6,9 kilo yang mana harga semangka tersebut seharusnya 13.900,00 namun si penjual menggenapkannya ke bawah menjadi 6,75 kilo menjadi 13.500,00.

“Tiga belas ribu saja ya Bang?” Jika saja dihitung dengan yang telah dimakan oleh si Ibu tentunya timbangannya akan bertambah lagi, namun si Ibu kembali menawar, apakah dia tidak mempertimbangkan hal itu?

“Baik Bu, mau saya potong atau tidak Buk?” si Penjual semangka tanpa pikir panjang setuju.

Akhirnya tiba giliran saya.

“Saya mau yang ini Bang.” Sambil menepuk-nepuk semangka yang ingin saya beli, saya tidak tahu apa artinya menepuk-nepuk buah semangka, saya sering melihat orang selalu menepuk-nepuk buah semangka saat memilih semangka, maka saya juga melakukan demikian tanpa tahu suara tepukan bagaimana yang menjelaskan mana semangka yang bagus dan sebaliknya. Saya terus melihat si Ibu terus berjalan menjauh sambil berharap si Penjual mengerti dan berbicara mengenai sikap si Ibu itu.

“Tidak semua orang dengan gampang membelanjakan uangnya.” Si Penjual tiba-tiba bicara… tapi kemudian saya berpikir apakah ini tidak berarti saya dan si Penjual Semangka membicarakan si Ibu? Saya hanya memberikan respon senyuman kecil, apakah ini berarti sudah termasuk membicarakan si Ibu?

Saya kemudian diam saja cepat-cepat membayar dan meletakkan semangka ke dalam keranjang depan sepeda sanki. Saya terus mengayuh sepeda saya, menepuk-nepuk semangka dan terus berpikir, apakah si Penjual semangka tidak rugi? Sampai jam berapa si Penjual Semangka akan mangkal di sana? Di mana si Ibu tinggal? Bagaimana ya anak-anaknya? Apa yang ada dalam pikiran si Ibu itu? Mungkinkah saja saat ini dia di rumahnya sedang membicarakan saya yang memandang sinis kepadanya saat dia membeli semangka? Atau tidak? Jika tidak apakah berarti saya lebih buruk dari si Ibu itu? Dimana sebetulnya sah-sah saja kan penjual dan pembeli bersikap seperti yang mereka tadi lakukan. Kenapa denganku?

“Dari tadi kau diam saja, apa prasangkamu semangka?” Aku bertanya kepada Semangka yang dari tadi belum melakukan apa-apa dalam cerita ini, atau memang peranmu hanya seperti ini, wahai Semangka?

Advertisements

8 thoughts on “Prasangka semangka

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s