Rindu Rinda

“Sibuk? Boleh cerita sesuatu?” Aku meneruskan melukis, bilang tidak pun dia tetap akan masuk ke kamarku dan bercerita selama berjam-jam. Kadang aku berfikir tidak ada salahnya, dia bisa sibuk dengan ceritanya dan aku dengan lukisanku. Akan tetapi pada saat-saat tertentu sering merasa kesal juga, apalagi saat dia tiba-tiba bertanya disaat aku sedang tidak ingin berbicara.

Aku: Kabarnya baik kan?

Dia: Dita?!! Random amat hahahah, kabar baik nih sangat baik, semuanya selesai sesuai deadline, kamu apa kabar?

“Begitu kira-kira pesannya,..” Dita tiduran telentang di tempat tidurku, berbicara dari balik bantal yang dipakainya untuk menutup wajahnya, kemudian tidak ada suara yang kudengar selama beberapa kali sapuan kuas di atas kanvas di hadapanku.

“Oh Rinda apa yang harus aku lakukan?”.

“Rinda!!!”

“Ah,..sialan.” Desisku, tanganku terlonjak, hampir saja sapuan terakhir mengacaukan lukisanku. Aku kemudian menyesali mulutku dan mengumpat diriku sendiri dalam hati sambil berharap dia tidak mendengarnya. Dia diam. Aku meninggalkan sudut kamarku dan membiarkan lukisan setengah jadi tersebut terbuka dan menghadap sudut kamar. Memang lebih nyaman rasanya melukis di sana, karena jika ada yang memasuki kamarku apa yang sedang kulukis tidak ada yang bisa melihatnya. Bukannya aku tidak mau lukisanku dilihat tapi melihat lukisan setengah jadi menurutku seperti mencicipi masakan yang belum jadi, rasanya aneh. Aku mengambil cangkir kopiku dan duduk di lantai bersandar di bagian samping tempat tidur, masih ada setengah cangkir sisa kopi semalam, meneguknya.

“Baiklah, maafkan aku, bisa kau ceritakan lagi?”

“Kau pikir aku tidak mendengarnya?”

***

“Pertama, kenapa kau memulainya?”

“Aku juga tidak tahu, dua malam lalu aku bermimpi dengannya, terbangun kemudian bermimpi lagi, segera setelah mimpi kedua, yang mana itu pukul lima pagi, tanganku refleks mengambil telefon genggamku dan mengirim pesan tersebut.”

“Aku menyesal melakukan hal tersebut.” Aku bangkit dan menatapnya.

“Tidak, kau tidak terlihat menyesalkan hal tersebut sama sekali.”

“Ah…aku juga ragu apakah benar aku menyesal atau tidak.”

“Apakah kau membalasnya?”

“Itu dia masalahnya, pada satu sisi aku tidak ingin, tapi di bagian lain aku ingin membalasnya, aku tidak ingin dia berpikiran aku kasar dengan mendiamkannya begitu saja, aku juga tidak ingin hal yang kuanggap memalukan ini berlanjut dan sekarang sudah dua hari sejak dia membalas pesanku. Oh…apa yang telah kulakukan.”

“Kenapa kau selalu memikirkannya.” Aku tahu komentarku ini tidak akan membantu tapi hanya itu yang terluncur dari mulutku.

“Terpikirkan.” Potongnya.

“Dan itu sangat berbeda sekali dengan memikirkan.”

“Kenapa kau tidak berterus terang kalau kau menyukainya? Kau takut tanggapannya akan mengubah apa yang kau rasakan tentangnya?”

“Tidak, tentu saja tidak, bagaimanapun sikapnya tidak akan mempengaruhi perasaanku, hanya saja dia pantangan bagi seluruh kehidupanku, jika tidak, apapun akan kulakukan dan itu pun sudah dari jauh-jauh sebelumnya.”

“Menurutku, kau memang sengaja menunggu-nunggu kesempatan untuk menghubunginya dan menjadikan mimpimu sebagai dalih untuk menghubunginya, sehingga hal tersebut bisa jadi alasanmu, jika saja dikemudian hari dia atau seseorang bertanya apa niatmu dibalik pesan yang telah kau kirim tersebut, mungkin saja dia sudah mengerti maksudmu melalui pesan tersebut.” Dia terlihat sependapat denganku.

“Mungkin kau benar, mungkin aku terlalu mencari-cari alasan untuk menghubunginya, lalu apa yang harus kuperbuat?” Aku menengadahkan kepalaku menatap langit-langit kamarku.

“Kau tahu maksudku.” Dia bergumam, kemudian berbicara mengenai lukisanku.

“Lukisanmu tidak indah juga tidak jelek. Aku tidak mengerti, lukisanmu sepertinya ragu-ragu, kenapa kau tidak berhenti saja melukis, jika kau tidak bisa bersamanya? Oh tidak, lupakanlah semuanya, aku juga akan melupakan apa yang baru keluar dari mulutku.”

“Mungkin kau harus membiarkannya saja.” Aku berusaha untuk menahan diri mendengar komentarnya mengenai lukisanku dan menjawab pertanyaannya yang sebelumnya.

“Mungkin cinta kita jatuh di tempat yang salah.” Terdengar nada pasrah dalam kalimatnya. Tapi…kita? Sekarang aku benar-benar tidak ingin berbicara dengannya. Setelah menghina lukisanku lantas menyuruhku melupakan semua yang dia katakan. Setelah itu dia juga mencap aku sama dengan dirinya. Sungguh aku tidak ingin berbicara lagi dengannya.

“Kelak kau akan menyesali ucapanmu dan sebaiknya sekarang kau pergi. Aku ingin ke fakultas” Tidak ada suara, aku menunggu dan akhirnya menoleh ke belakang. Ternyata dia sudah tidak ada lagi.

***

Aku duduk di bangku paling belakang mengintip dari jendela bus, setelah mendengar cerita Dita aku merasa rindu kepada bapak, sudah lama aku tidak menghubungi dan berbicara dengannya. Tiba-tiba banyangan Bapak hilang begitu saja saat seorang pria melompat masuk ke depan wajahku melalui pintu bus yang hampir tertutup dan kemudian jatuh tersandar ke pintu bus yang sudah tertutup sambil memegang drafting tube yang sebelumnya kuletakan tegak lurus di depanku. Mungkin dia pikir itu adalah tiang pegangan bus, dia menyerahkan drafting tube-ku sambil meringis malu.  Dia kemudian berjalan ke bangku kosong yang berada agak di depan, dia berjalan pelan sambil beberapa kali menoleh ke belakang, mungkin dia menyesali melewatkan kesempatan untuk, mungkin berbicara denganku. Beberapa kali mata kami beradu, dia selalu kalah setelah sepersekian detik, aku terus menantangnya, mau apa? Dasar lelaki.. Setelah dia duduk aku kembali menoleh ke luar bus, namun aku tidak melepaskan sudut mataku darinya, dia terlihat gelisah sambil sesekali melihat ke samping, aku yakin dia mengawasiku, apakah aku masih ada di sini sambil berfikir bagaimana caranya untuk memulai pembicaraan denganku. Aku tidak mengacuhkannya sudah ratusan kali hal ini terjadi, aka tidak sedang ingin mengerjainya sebagaimana yang kulakukan dua hari lalu pada seorang pria, aku meloncat turun saat bus berhenti walaupun itu bukan tempat pemberhentianku. Seandainya ada Dita di sini, aku yakin kejadian tadi bisa jadi salah satu adengan dalam fiksinya, bahkan dia pernah di salah satu novelnya menjadikan lelaki yang pernah mengecewakannya sebagai tokoh yang paling dibenci pembacanya, aku sendiri juga ikut membenci orangnya walaupun pada kenyataannya dia tidaklah seburuk itu.

“Pak, Rinda pulang ya?” Aku menyerobot begitu saja saat mendengar suara bapak.

“Bapak apa kabar? Sehat?”

***

“Tante sedang menggambar apa?”

Aku teringat saat itu, aku bertanya kepada Ibu apa yang sedang digambarnya. Kemudian dia bertanya padaku “Maksudmu apa yang sedang Ibu lukis?”

“Maksud Kvin apa yang sedang Tante lukis?”

“Iya.” Kvin tidak bertanya seperti aku dulu bertanya kepada Ibu, apakah melukis dan menggambar berbeda.

“Tante sedang melukis teman tante, namanya Dita.” Aku mengajaknya duduk dipangkuanku dan memperlihatkan lukisan yang sudah hampir selesai tersebut

“Dia mirip tante.”

“Begitukah menurut Kvin? Banyak orang yang bilang kalau kita berdua memang mirip, mungkin karena itulah kita menjadi begitu dekat.”

“Iya, dan dia cantik sekali.” Aku mengusap rambut ikal Kvin kebelakang, menciumnya kemudian memeluk Kvin

“Kvin, tantemu sedang bekerja jangan ganggu dia..!” Terdengar suara kakakku dari luar kamarku.

“Kvin tidak menggangguku.” Aku mengedipkan mataku ke Kvin yang kemudian tersenyum kepadaku.

***

“Dari rumah sakit?” Aku mendengar bapak bertanya kepada kakakku, hanya gumaman lemah keluar dari mulutnya.

“Mereka akan menjemputnya.”

Beberapa waktu kemudian beberapa orang petugas datang, mereka menyeruhku secara paksa untuk memasuki mobil, aku meronta-ronta berusaha melepaskan genggaman tangan petugas tersebut. Beberapa orang tetangga berkumpul di teras pada salah satu rumah yang tidak begitu jauh dari rumah dan menyaksikan kejadian tersebut dan berbisik-bisik, aku terus berusaha melawan membebaskan diriku dan berteriak sekencang kencangnya yang kemudian mengundang lebih banyak lagi orang. Seorang petugas kelihatan bersiap-siap memberikan obat penenang namun bukan itu akhirnya yang membuatku diam, Kvin, aku melihatnya dari jauh baru saja kembali dari sekolah, aku yang tak ingin Kvin melihatku seperti ini kemudian memasuki mobil rumah sakit tersebut tanpa dipaksa lagi.

***

“Kek, benarkah Tante Rinda gila?”

“Kakek tidak akan bilang seperti itu, menurut kakek tantemu hanya kadang-kadang agak sulit menahan dirinya.”

“Tapi, orang-orang bilang Tante Rinda gila, dan pernah mencelakakan tetangga kita.”

“Kakek mau tanya, apa yang akan Kvin lakukan jika ada yang bilang ibu Kvin jelek?”

“Siapa yang bilang kek?”

“Tidak ada yang bilang begitu, jika saja Kvin mendengar seperti itu, apa yang akan Kvin lakukan?”

“Ibu memang tidak secantik tante Rinda, tapi Kvin tentu tidak akan senang jika ada yang bilang demikian.”

“Dulu Tante Rinda pernah seperti itu, ada yang bilang nenek jelek dan dia marah dan saat itu tidak bisa menahan dirinya, apalagi waktu itu tante Rinda masih sangat bersedih setelah nenek meninggal.”

“Oh…”

“Kakek sedang baca apa? Itu bukunya teman Tante Rinda?”

“Bukan, ini buku tantemu, dia yang menulisnya.”

“Tapi Tante Rinda bilang Dita itu temannya.”

“Begitukah?”

“Benar Kek, Tante Rinda yang bilang ke Kvin.”

“Kvin, Kvin biasanya tidur sama Si Putih kan?”

“Iya.”

“Dia teman Kvin?”

“Iya.”

“Tante Rinda juga punya teman seperti Si Putih, namanya Dita. Karena sayang sama Dita, Tante Rinda menuliskan nama Dita dibukunya, bukan namanya sendiri. Kvin mengerti maksud kakek?”

“Apakah tante Rinda tidak suka namanya?”

Rinda, adalah nama yang pertama kali muncul di benakku saat kau memberitahu kalau kita akan mempunyai seorang anak, Ros. Kemudian anak itu tumbuh dengan rasa bangga atas nama itu, dia orang yang paling senang dengan nama itu dan tidak ingin menukar nama tersebut dengan nama-nama lainnya.

“Apakah Tante Rinda juga tidur bersama Dita? Apakah dia beruang seperti Si Putih juga?”

“Kakek tidak tahu, dia tidak pernah mengenalkannya kepada kakek, katanya dia ada dalam hatinya?”

“Kenapa? Apakah nanti si Putih juga bisa masuk ke dalam hati Kvin?”

“Sekarang kakek tanya, kalau Kvin sekolah, apakah Si Putih juga ikut?”

“Tidak boleh ikut sama Bu Guru.”

“Tapi Kvin selalu ingat kan?”

“Iya.”

“Kalau begitu Si Putih juga sudah masuk ke dalam hati Kvin.”

“Tapi Kvin selalu rindu kalau Kvin tidak bersama si Putih.”

“Tante Rinda juga begitu, dia juga rindu, Kvin nanti tanya sendiri sama tante Rinda ya.”

“Kek, kalau libur sekolah nanti Kvin boleh bertemu dengan tante Rinda?”

“Tentu saja, nanti kita naik motor kakek, Bagaimana?”

“Benarkah?! Apakah papa tidak akan marah kalau Kakek naik motor?”

“Hahaha, papamu tidak pernah marah hanya khawatir.”

***

“Kvin yang nyetir?” Ia melihat ke Bapak memelas agar aku diikutkan ke dalam rahasia mereka berdua.

“Pak?” Aku meminta penjelasan bapak.

“Tan, ini rahasia lho..Jangan bilang Papa yah..”

“Jadi, kenapa? Kvin belum punya SIM kan?”

“Kata kakek itu tidak penting, banyak yang punya tapi ga bisa nyetir, mau nyetir Tan?” Kvin menggodaku.

“Ga ah, capek semalam habis beres-beres .”

“Capek ?!!”

“Iya.”

“Beneran??”

“Iya.”

“Oooo, emang udah bisa nyetir Tan?” Ia terlihat berusaha menggodaku.

“Kviinaa, kapan Tante bilang kalau Tante bisa nyetir?”

“Ga pernah sih.” Ujarnya ragu dan berusaha membolak-balik ingatannya, berusaha mengingat jika saja ia pernah mendengar hal tersebut keluar dari mulutku.

“Udah ah, ayo cepat, jika kamu berpikiran sudah bisa mengolok tantemu, kamu masih jauh, nanti Tante akan kasih tahu bagaimana cara melakukan hal tersebut dengan kata-kata dan kalimat-kalimat yang benar, hihihihi.” Usahanya mengolokku gagal.

***

Rumah sakit itu semakin mengecil, ocehan Kvin terus terdengar sambil mengendarai mobil, kami semakin jauh meninggalkannya. Tidak pernah terbayangkan olehku kalau aku akan bertahun-tahun menjadi penghuni salah satu kamar di sana. Saat berada di sana pun aku tidak ingat apakah aku pernah berpikiran atau terpikirkan olehku untuk keluar dari tempat tersebut. Aku tidak tahu apa yang kurasakan saat ini sambil terus menatap rumah sakit tersebut yang perlahan pudar dibalik kabut petang, aku bisa merasakannya saat meninggalkannya dan yakin akan mengingatnya namun aku belum bisa menemukan pecahan memoriku bagaimana perasaanku saat pertama kali datang ke sini, mungkin semuanya sudah dihancurkan oleh obat-obat antipsikotik, THP, dan pil-pil lainnya yang menjadi rutinitasku dalam bertahun-tahun terakhir

***

Ruang lukis di rumah sekarang terlihat lebih kecil dari biasanya, mungkin karena jumlah lukisan yang ada di dalammnya lebih banyak dua kali lipat dari sebelumnya. Kvin pernah bilang kalau dia melukis kembali semua lukisan yang pernah aku lukis, kupikir dia hanya bergurau, namun sekarang semuanya bisa kusaksikan sendiri. Setiap lukisan bersanding, satu punyaku dan satu lagi milik Kvin, hanya saja aku selalu berhenti lama saat melihat lukisan Kvin yang seolah mengajakku berhenti sejenak untuk melihatnya, sedangkan saat melihat lukisanku aku hanya berlalu begitu saja.

Bapak dan Kvin masih sibuk membereskan barang-barangku dan membawanya ke kamarku. Aku kembali melihatnya satu persatu, merabanya, menatapnya, menikmatinya sendiri. Kvin tidak memakai namanya sendiri di lukisannya, “Putih” hanya itu yang tertulis pada bagian  sudut kanan bawah. Lukisan-lukisan Kvin yang ada di samping lukisanku seperti Kvin sendiri yang selalu datang sesering mungkin menemaniku di rumah sakit. Kvin memang pernah bilang dan dia bisa melihat cahayanya, menangkapnya dengan baik. Akan tetapi tidak pernah terbayangkan olehku akan sebagus ini.

***

“Jadi?”

“Jadi ?” Aku mengulangi pertanyaan Kvin

“Jadi lukisan siapa yang lebih bagus? Ruangan ini milik Kvin sekarang?”

“Tante akan melanjutkan menulis? Oh tidak, itu seharusnya bukan pertanyaan, Tante akan melanjutkan menulis dan Kvin akan melanjutkan melukis.” Dia memutuskan. Aku bergeming Kvin menghampiriku dan memelukku.

“Tante Rinda…”

“Kakek tidak pernah bercerita tapi Kvin sudah baca semua cerita Dita dan itu sudah cukup bagi Kvin untuk mengerti.” Kali ini dia memelukku lebih erat.

“Kalau nenek masih ada, Kvin yakin dia akan setuju kalau Kvin yang menjadi pelukis dalam keluarga kita, eh…?” Dia membujukku, melonggarkan pelukannya, kali ini aku yang menariknya dan memeluknya lebih erat.

“Oh Kvina..” Aku mengguman sesak

***

“Halo, Dita apa kabar?………….Kuharap ini menjadi rahasia ya, Diantara Kita…..”

 

Advertisements

9 thoughts on “Rindu Rinda

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s