Tentang Dia Yang Datang

Saat itu aku berharap waktu membeku saja.

“Terima kasih ya…” tanpa kusadari, kita sudah sampai di depan gerbang hijau. Selama dalam perjalanan kami, aku terlalu sibuk memilah gambar-gambar yang ingin aku simpan dalam memoriku. Aku terlalu sibuk memikirkan kata-kata, kalimat-kalimat dan paragraf-paragraf apa yang akan kutuliskan dalam jurnal harianku yang password-nya adalah nama dia, seperti password email-ku, password komputerku. Aku terlalu sibuk memikirkan siapa yang akan memerankannya nanti, siapa yang akan memerankanku nantinya, siapa yang akan memerankan teman-temanku sebagai pemeran pembantu dalam film-filmku, yang transkripnya tak pernah/belum sempat kutuliskan. Aku terlalu sibuk berharap dan berdoa agar saat itu waktu membeku saja, saat aku bersama dia.

“Ya.”

Waktu mencair begitu saja.

Okay,…sampai jumpa.” Tidak berani, egoku begitu tinggi untuk menoleh kebelakang setelah dia berlalu, tapi aku ingin tahu apakah dia menoleh ke belakang, aku mencari-cari sesuatu yang bisa memantulkan sosoknya di depanku sehingga aku tidak harus menoleh ke belakang untuk melihatnya sampai titik terkecil bayangannya, tapi tidak ada, dia berlalu dan waktu mencair begitu saja, saat aku bersama dia.

Orang-orang datang dan pergi.

“Hei…” Max menyapaku, orang-orang datang dan pergi, ke dan dari kehidupanku. Aku juga datang dan pergi, ke, dari kehidupan orang lain. Aku kembali ingat, Max datang dalam kehidupanku di halte bus ini, datang dan pergi, aku menyebutnya begitu. Banyak yang seperti Max, tapi dia tidak, dia tidak datang dan pergi. Dia bagian dari orang yang datang saja, diantara orang-orang yang datang dan pergi.

Tentang dia yang datang.

“Bagaimana hari ini?” Jari-jariku otakku bersahut-sahutan menulis tentang dia. Begitu sulit rasanya untuk menuliskan cerita tentang dia, agar orang-orang seperti Max tidak tahu, agar hanya dia yang tahu kalau ini bukan dan orang seperti Max akan berpikiran ini fiksi. Aku berhati-hati, diam-diam, sembunyi-sembunyi seperti seorang penjahat. Meletakan beberapa ranjau kata, pada paragraf-paragraf, halaman-halaman tertentu, sehingga dia terperangkap saat membacanya, apakah ini tentang dia…atau…aku memainkannya sedikit dan oh ternyata tidak. Mari berputar lagi di sana aku letakkan ranjaunya lagi, iya….tidak….iya….tidak. Terperangkap antara iya dan tidak, benarkah itu Tentang dia? Dia bertanya dalam hatinya.

Biarkan saja aku begitu.

“Nihil.” Kau tahu, apa yang terjadi setelah dia terperangkap dalam ranjau-ranjau itu…? Oh…aku tidak tahu,…aku juga,….aku belum tahu,… menurutku, aku biarkan saja aku begitu dan biarkan saja aku begitu.

Oh.

“Oh.”

Advertisements

9 thoughts on “Tentang Dia Yang Datang

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s