ALS

“Jadi kau menyukainya?”

“Siapa?”

“Kenapa kau berpikir kalau aku bertanya tentang seseorang?”

“Ayolah Bu, jangan mempermainkanku lagi.”

“Baiklah, jadi benar kau sedang memikirkan dia.” Ibu menggodaku.

Aku berusaha menyembunyikan wajahku dari pandangan Ibuku, kukeluarkan telefon genggam dari saku jeans-ku.

“Sudah tidak begitu jauh.” Aku menyerahkan telefon genggamku dan menunjukan di mana lokasi kami berada saat ini.

Malam ini pertengahan bulan Maret, kami rencananya akan bertemu dengan Sita. Sebenarnya sudah berkali-kali kukatakan pada Ibuku, mengenai masalah ini agar dia mempercayakannya padaku. Namun melihat aku masih belum mengambil langkah apapun, Ibu berinisiatif untuk mengambil langkah sendiri. Ibu khawatir nanti jika Ibu meninggal lebih dulu tidak akan ada yang mengurusimu, berulang kalimat yang sama ketika kami membahas hal ini.

Sita adalah anak perempuan dari mantan sekretaris Ibuku, sekarang mereka berdua adalah teman baik setelah setelah sama-sama pensiun. Ibu Mirda, wanita yang beberapa tahun terakhir ini sudah seperti Ibuku sendiri. Walaupun demikian, tidak pernah sekalipun dia bercerita tentang Sita, yang juga mestinya akan kuanggap sebagai saudaraku sendiri jika Ibu Mirda sudah kuanggap sebagai ibuku sendiri.

Sita empat tahun lebih muda dariku. Ibu mempertemukanku dengannya pada pertemuan tidak sengaja yang telah direncanakannya dengan Ibu Mirda, dua minggu yang lalu.

Sebenarnya dari dulu aku selalu kesulitan dalam mengambil keputusan, apapun itu. Ibukulah yang selalu menentukan atau mengambilkan keputusan untukku, mulai dari SMP yang akan kudaftari sampai pekerjaan yang akan aku lamar. Dan entah kenapa keputusan Ibu selalu tepat, mungkin dia benar-benar mengerti aku. Walaupun demikian bukan berarti aku menjalani semua dengan tenang. Kehidupanku penuh dengan keengganan-keengganan yang menyulitkanku dalam menjalaninya. Apalagi kalau aku berpikir mungkin saja ada keputusan yang lebih tepat dari keputusan ibuku.

Aku langsung jatuh hati pada pertemuan pertama dengan Sita. Inilah pertama kalinya aku menyetujui keputusan yang dibuat oleh ibu lahir dan bathin.

 “Sepertinya musim semi sedang menuju ke utara.”

“Eehh?!!” Ibuku berbicara sambil menatap melalui kaca jendela mobilku.

“Kita sudah sampai.” Aku tidak menanggapi kalimat ibuku sebelumnya.

Ibuku tampaknya tidak mempermasalahkan hal tersebut,  melainkan terus memperhatikan pintu ATM yang ada di sebelah restoran tempat tujuan kami. Pintu tersebut terus bergoyang-goyang seperti ada sesorang yang terkunci di dalamnya dan berusaha untuk keluar. Tidak lama setelah itu, keluar seorang kakek yang jalannya mengangguk-angguk persis seperti pajangan dashboard mobil berupa kepala anjing yang akan mengangguk-angguk saat mobil bergoyang, seperti itu juga kepala si kakek naik dan turun.

Kami berdua saling berpandangan, aku mengerti pandangan Ibu yang seperti itu. Pandangan yang berkata kalau aku harus melakukan sesuatu. Pandangan yang sama jika kami sedang bepergian dengan bus dan ada seorang tua atau seorang wanita yang tidak mendapatkan tempat duduk di dalam bus. Kemudian, bagian yang paling aku tunggu-tunggu, setelah turun dari bus Ibu akan mengusap kepalaku dan mendekapku ke pinggangnya tanpa berkata apa-apa.

Aku langsung keluar dari mobil dan mengamit lengan kakek tersebut untuk membantunya.  Akan tetapi dia menepis tanganku dan dompetnya terjatuh. Aku mengambil dompet itu beberapa lembar uang seratus ribuan terlihat telah dijejalkan ke dalamnya secara buru-buru. Aku langsung menutup dompet tersebut tanpa memperhatikannya lagi. Ia mengambilnya dengan cepat dan memasukannya ke dalam jaketnya dengan tangannya yang gemetaran.

Dia berjalan dengan normal menjauhiku seperti tidak pernah terjadi apa-apa. Aku hanya bisa menyaksikannnya dengan penuh kebingungan. Namun kira-kira sepuluh meter kemudian ia tersungkur. Aku berlari mengejarnya.

Orang-orang kebingungan melihat kami berdua. Seseorang bapak berumur kira-kira lima puluh tahunan mendekati kami berdua.

“Anda butuh bantuan?” Ucapnya padaku.

“Bapak ini sepertinya butuh bantuan, tapi dia menolak untuk saya bantu.” Aku menjawab pertanyaannya sekaligus menegaskan bahwasanya aku bukan siapa-siapa kakek itu, juga tidak sedang bersamanya.

“Anda ingin saya telponkan seseorang?” Ia bertanya pada kakek itu.

Dia hanya menggeleng. Bapak itu mengangkat bahunya kemudian menuju kerumunan orang yang bertanya-tanya dan dengan senang hati menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi kepada orang-orang yang sedari tadi memperhatikan kami. Si kakek kemudian melintasi jalan dengan berjalan seperti orang yang sepertinya akan tersungkur tetapi tidak, kemudian berjalan lagi seperti orang yang akan terjerembab, tetapi tidak juga. Sementara aku masih berada beberapa meter di belakangnya, seperti orang yang akan mengikutinya, tetapi tidak. Ibu sudah ada di sampingku seperti orang yang ingin berkata menyuruhku untuk mengikutinya, tetapi  tidak.

Sudah hampir setengah jam aku berjalan mengikuti kakek itu, tetapi rasanya aku masih bisa dengan jelas melihat wajah ibuku dari tempatku berdiri sekarang, aku seperti tidak beranjak kemana-mana. Rasanya kami seperti berjalan di atas catwalk kakek itu di depan dan aku di belakangnya berusaha menjaga irama dan jarak langkahku dengan dia. Sementara itu di kiri dan kanan kami banyak orang yang menyaksikan sambil berbisik-bisik seperti ingin mengatakan atau melakukan sesuatu, tetapi tidak.

Advertisements

20 thoughts on “ALS

  1. Haa… endingnya terbuka. Jadi penasaran kan dengan siapa itu si kakek, bagaimana rencana pertemuan si cowok dengan Sita, ataupun si ibu yang juga sama-sama misterius. We want more! We want more! :hihi.

    Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s