Senyum Jamil

Hari segera mengamit lengan Nam setelah Jamil menjauh dan berada di tempat di mana dia tidak akan bisa mendengarkan pembicaraan mereka.

“Aku tahu, aku telah berjanji untuk membalas budimu, tapi bukankah menurutmu kau bisa menggunakan kesempatan tersebut untuk hal yang lebih baik…? Penting..?!”

“Aku juga tidak begitu yakin, tapi aku ingin bertaruh dengannya saat ini.” Nam berkata dengan lesu.

“Kenapa apakah ini masih tentang idemu, bahwa setiap orang bisa berubah?”

“Bukankah kau salah satu buktinya?”

“Nam, saat itu aku terpuruk baru sebatas mata kakiku, ingat? Dia..?! Lumpur telah menenggelamkannya sampai ke mulutnya, dia beruntung masih bisa bernafas saat ini!!”

Nam hanya menatap bibir Hari yang bergetar hebat kemudian menatap jauh kematanya seolah mencari dukungan dari sana.

“Ok, baiklah, aku menyerah. Aku tahu sekali kau membuat keputusan, kau akan memdiamkanku sampai aku mengatakan iya atau mengikuti keninginanmu. Sekali-kali berikan aku alasan agar kau bisa meluluhkanku!!”

“Kau tahu aku tidak bisa begitu dan kurasa yang selama ini kulakukan sudah cukup meluluhkanmu, aku masih belum perlu beranjak ke tingkat selanjutnya.” Nam tersenyum.

***

Bertahun-tahun yang lalu Hari merupakan bayangan Jamil, tangan kanan pertama Jamil saat kelompok itu masih berjumlah dua orang. Di mana ada Jamil, Hari selalu berada di belakangnya. Saat itu mereka masih bocah tanggung tiga belas tahun yang setiap hari berkeluyuran hilir mudik. Dan mulailah telur, ayam dan panen penduduk desa tersebut hilang sedikit demi sedikit. Awalnya cuma di desa mereka namun lama kelamaan beranjak menjadi lebih luas.

Jamil adalah seorang anak yang pintar, entah bagaimana dia merencanakan perbuatan mereka, mereka tidak pernah tertangkap sekalipun. Itu semua berlangsung selama satu tahun. Akan tetapi malam itu Nam yang sedang dalam liburan sekolah dan menginap di Restoran yang telah turun temurun dimiliki oleh keluarganya, membuat rencana mereka berantakan.

Nam sebenarnya tidak bisa tidur karena saking senangnya membayangkan apa yang akan dia lakukan besok, bagaimana dia akan kelihatan, apakah seperti selama ini dia melihat bagaimana pegawai restoran yang cekatan melayani pelanggan? Koki yang handal di dapur? Itu semua sudah menjadi cita-citanya sejak kecil, bapaknya dan kakeknya kelihatan begitu hebat saat berada di restoran itu. Besok..ya besok adalah hari pertama dia diizinkan bapaknya untuk mulai membantu walaupun belum tahu apa tepatnya yang akan dikerjakannya besok. Akan tetapi saat matanya mulai berat dan mematikan lampu kamar tidur yang ada di ruangan tersebut, dia mendengar suara halus berbisik namun masih bisa di dengar dengan jelas.

“Sudah kubilang kau diam di sana!!”

“Tapi, kupikir ini sudah….” Suara itu ragu sejenak.

“……………terlalu berbahaya, bagaimana kalau kita ketahuan?”

“Kau gila!! sudah kubilang sesuai rencana! Kau kembali lagi ke sana, biar aku yang di sini!!”

“Tapi…..”

“Ah….asem, di otakmu cuma ayam, ayam, ayam…, lihat kau sekarang sudah seperti ayam!!”

“Tapi Mil…”

“Kuperingatkan kau, jangan sekali-kali menyebut nama…cam kan itu!!!” saat itu suara tersebut terdengar tinggi tidak seperti sebelumnya. Namun kemudian terdengar tenang lagi.

“Ini sudah di luar rencana……” Seketika suara itu berhenti saat cahaya remang-remang memasuki toko perhiasan tersebut setelah Nam menyalakan seluruh lampu di restorannya.

Nam memutuskan untuk menunggu, satu jam berlalu dan tak sedikitpun suara mencurigakan terdengar lagi. Dia mulai mengantuk

“Ah mungkin bukan apa-apa.” Ucapnya ragu sambil menguap.

“Klik.” saklar berbunyi dan gelap seketika di Restoran tersebut.

Seketika itu juga Hari yang diam tak berkutik melemaskan tangannya dengan ceroboh dan menyenggol lengan Jamil yang dari tadi menahan pintu etalase perhiasan. Pintu itupun terlepas berdebum ke bawah setelah senggolan kecil itu membuat Jamil kaget sehingga pintu itu terlepas. Sekilas Hari melihat dia tersenyum kemudian langsung bisa menguasai dirinya, dalam beberapa detik dia sudah berada di luar toko perhisaan tersebut dan meninggalkan Hari yang kebingungan. Hari yang panik ikut berlari tanpa tahu arah. Meja besi bundar yang ada di tengah toko tersebut menghentikan langkahnya dan membuatnya tersungkur ke lantai tidak bergerak sambil menahan sakit akibat benturan perutnya dengan meja tersebut.

Toko itu kemudian menjadi remang-remang lebih terang dari sebelumnya setelah lampu di depan restoran juga dinyalakan oleh Nam. Hari melihat bayangan bocah seumurannya berdiri di depan pintu yang terbuka di depannya sedang memegang penggorengan baja sebesar kepalanya. Hari yang masih terkulai lemah hanya pasrah tidak mencoba untuk melakukan apapun walaupun bayangan tentang polisi menari-nari di kepalanya.

Nam mengubah posisi tangannya, penggorengan tadi tidak lagi dalam keadaan siap untuk memukul. Kemudian memapah Hari keluar menuju ke restorannya. Setelah itu menutup kembali rapat-rapat pintu toko perhiasan tersebut. Dia kemudian mendudukkan Hari di salah satu kursi setelah itu mengikat tangan dan kakinya ke kursi. Hari yang masih lemah tidak melawan sedikitpun.

Nam membawakan Hari segelas air.

“Jika kau mau bercerita dan berjanji tidak akan mencuri lagi, aku tidak akan memanggil polisi.”

“Biasanya aku selalu mengikuti apa yang dikatakannya dan kita selalu berhasil, namun malam ini…”

“Jamil orang yang pintar.” Hari menutup ceritanya.

***

“Naaammm…!!”

Hari terbangun setelah mendengar seseorang memanggil Nam sambil memasuki restoran tersebut.

“Siapa kamu??!…Apa-apaan ini?”

“Saya…eh…?” Nam muncul dari arah belakang restoran dan masih kelihatan kusut.

“Saya temannya Nam,…Eh iya…?” Hari memandang Nam dengan ragu-ragu.

“Ini…ini…”

“Oh itu, kami semalam…dia kalah main kartu Pak, sebagai hukumannya…er itu adalah hukumannya.” Nam mendesah lega karena berhasil menyelesaikan kalimatnya.

“Hash….ayo cepat, semuanya sudah harus rapi dalam setengah jam.”

Nam segera menuju dapur, sementara itu Bapaknya Nam melepaskan ikatan Hari.

“Kalian…leluconnya semakin keterlaluan!!”

“Oya, siapa nama temanmu?” Hari mendengar lelaki separuh baya itu berbicara dengan Nam di dapur selagi dia menurunkan kursi restoran dari atas meja. Dia sendiri juga tidak tahu kenapa dia melakukan hal tersebut.

“Saya Hari Pak..!!”

“Saya teman TK-nya Nam, sekarang sedang liburan sekolah, jadi liburan ke sini.” Bapak Nam mendengarkan dengan acuh tak acuh sambil mengeluarkan peralatan memasak dari dalam lemari.

“Baiklah… siapa tadi…Hari, oh ya Hari, kau harus membantu kami terlebih dahulu karena sudah membuat Nam terlambat bangun, nanti kau juga boleh sarapan di sini bersama kami sebelum pulang.

“Baik Pak.”

Nam mendekati Hari dan berbicara setengah berbisik.

“Aku tidak pernah TK, Hari TEMANKU!!”

“Oh…”

***

Dua puluh tujuh tahun di penjara tidak mengikis sedikitpun kemampuan otak Jamil. Dengan mudah dia beradaptasi dengan pekerjaannya sekarang di bengkel mobil milik Hari. Hari terus memperhatikan lelaki berumur tersebut bekerja dengan cekatan dan mengerti dengan mudah setiap hal yang dijelaskan kepadanya.

***

Satu tahun berlalu, Hari tidak lagi memperhatikan Jamil yang sedang bekerja dari jauh, sekarang dia ada di sebelahnya, asistennya. Jamil sama sekali tidak menjadi sesuatu seperti yang selalu ditakutkannya dahulu namun sebaliknya.

“Kau benar Nam.” Ucapnya suatu sore.

“Entahlah, semua kelihatan begitu sempurna sekarang. Biasanya sesuatu yang buruk terjadi setelah hari yang tenang.”

“Apa maksudmu?”

“Aku juga tidak mengerti, apa mungkin karena aku sudah tua? Aku kadang suka membayangkan hal-hal yang buruk.”

“Aku tidak mengerti, semuanya baik-baik saja.” Hari berujar mantap.

“Aku harap juga begitu.”

***

“Nam, aku tidak bisa lama-lama.” Jamil menyalakan motor bekas yang dibelinya tiga bulan lalu. Nam melongo bingung, tiga menit lalu Jamil datang ke tempatnya dan berkata harus pergi, benar-benar pergi. Dia hanya mengatakan itu dan sekarang akan pergi, benar-benar pergi. Tanpa memberikan kesempatan kepada Nam untuk berbicara sedikitpun.

Setelah duduk di motornya, dia diam sejenak kemudian berbalik lagi, memeluk Nam, erat sekali.

“Terima kasih dan maaf, karena kau sudah percaya padaku.” Dia tersenyum, senyum seperti dulu yang membuat Nam berani bertaruh untuknya. Nam hanya memperhatikannya menjadi sebuah titik yang semakin lama mengecil dan menghilang dari pandangannya.

***

Nam memasuki kantor Hari, di sana hari menghadap ke jendela sedang marah-marah memaki-maki kepada bayangannya sendiri. Nam merasa sayang sekali ruangan indah itu harus di isi dengan caci maki, dan wajah-wajah anak, istri dan pegawai Hari yang pucat dan ketakutan.

“Kau lihat?” Segera setelah menyadari kedatangannya Hari berkata gusar.

Nam meminta kepada istri, anak-anak, dan pegawai Hari untuk meninggalkan mereka berdua. Mereka semua keluar satu persatu dan Nam memperhatikan mereka yang kelihatan senang lega karena tidak harus mendengar kata-kata kasar Hari lagi.

“Dino! Tolong kau bawakan kami air minum.” Nam berkata kepada anak tertua Hari tetapi yang dipanggil namanya terus berjalan keluar ruangan dengan wajah pucat.

“Biar Heni saja om Nam.” Heni yang berada lebih dekat dengan Nam segera berkata, bergegas keluar sambil menyusul Dino dan berbisik kepadanya. Dino kemudian menoleh ke arah Nam dengan tatapan bertanya-tanya. Akan tetapi Nam memberinya isyarat bahwa semuanya sudah beres, tidak ada apa-apa lagi.

Nam duduk, hari mengikutinya.

“Kau tidak ingin bertanya apa yang terjadi?”

“Tidak, kau akan menceritakannya.”

“Sekali bajingan tetap bajingan.”

“Siapa yang kau maksud?”

“Siapa lagi!!!” Suara Hari meninggi. Heni hampir saja menumpahkan air yang sedang diletakkannya ke atas meja.

“Bukankah, menurutmu dia telah berubah?” Nam teringat percakapan mereka beberapa saat yang lalu.

“Sekarang menurutku tidak.”

“Lalu, apa yang akan kau lakukan sekarang?”

“Aku akan melaporkan kejadian ini ke polisi, bagaimana menurutmu?”

“Aku takut akan percuma, cara itu tidak akan berhasil, kita tahu bagaimana dia.”

“Lalu, menurutmu apa yang harus aku lakukan? Apakah aku akan diam saja setelah dia merampokku?”

“Tidak…maafkan aku…aku tidak tahu…mungkin..tapi ini rasanya tidak seperti dia… sebaiknya…benar…emm…kau harus melaporkannya kepada polisi.” Nam bingung menurut saja kepada Hari. Terkesan ada sesuatu yang menggelisahkannya, tapi dia tidak tahu apa itu.

“Maafkan aku Hari, mungkin itu tindakan yang paling tepat. Kurasa aku merasa kurang enak badan, aku harus pulang sekarang.”

***

“Kau tidak malu menampakkan dirimu di sini?!!” Hari marah sambil menahan emosinya, wajahnya menjadi merah.

“Tolonglah Hari,……”Jamil berusaha menenangkannya.

“Tolong, beri aku waktu tujuh sampai sepuluh menit, aku ingin melihat Nam. Setelah itu aku ingin kau mendengarkan ceritaku cukup satu menit. Kemudian terserah kepadamu, aku rela dengan apa yang akan kau lakukan terhadapku setelah itu, tapi sebelum itu tolong….” Jamil menunjuk pintu kamar rumah sakit di tempat mereka berada tersebut.

“Aku ingin melihat Nam…” Ucap Jamil dengan suara yang agak kelu.

Jamil sudah berada di kamar rumah sakit tersebut lebih dari sepuluh menit. Tidak ada yang bisa dilakukan di dalam sana, kecuali melihat Nam yang semakin hari semakin lemah. Hari menunggu Jamil dengan gelisah di depan pintu.

“Baiklah.” Jamil berkata setelah menutup pintu kamar rawat inap itu dari luar.

“Dino.” Ucapnya singkat

“Kau jangan sembarangan memfitnah!!” Dia menengok ke kiri dan ke kanan berusaha tetap tenang.

“Apa buktinya…? Bagaimana kau tahu?” Lanjut Hari.

“Dia ceroboh, seperti kau, dia tidak mau mendengar ucapanku.” Hari terdiam, dia berpikir keras, dia tahu orang di depannya bukan seorang yang bodoh, bisa saja saat ini dia ingin mempermainkannya, mengacau rumah tangganya.

“Kenapa tidak…..?”

“Kenapa tidak dari dulu?” Jamil memotong dengan cepat.

“Dulu bukan saat yang tepat, keadaan tidak akan berpihak kepadaku mengingat semua hal yang telah aku lakukan. Jika pun saat itu aku bisa membuktikan Dino bersalah, resikonya terlalu besar. Akan terjadi banyak masalah, Dino, keluargamu, mungkin tidak akan seperti sekarang. Aku tidak ingin hal itu terjadi. Aku yakin Nam juga mengerti, makanya dia tidak begitu mempermasalahkannya.”

“Berarti kau mendukung anakku menjadi pencuri.”

“Apakah setelah itu pernah terjadi hal yang serupa?”

“Bukankah setelah itu Dino menjadi banyak berubah, menjadi lebih baik?” Hari menyetujui dalam hati hal tersebut.

“Hari temanku, selama ini aku terus berjaga-jaga untuk kemungkinan terburuk, aku selalu percaya padamu, juga pada anakmu dan aku juga percaya bahwa Nam telah melakukan sesuatu tentang itu.”

Hari terduduk lesu dan bersandar sambil mendesah panjang.

“Apakah…aku rasa kau pantas…perlu, kau tahu, namamu perlu dibersihkan atas masalah ini.”

“Tidak, aku tidak peduli dengan pikiran orang-orang, toh satu titik hitam lagi tidak berarti apa-apa bagi cerita hitamku.” Jamil berusaha meyakinkan Hari.

“Ayolah…Kau dan Nam percaya padaku itu sudah lebih dari cukup untuk membuatku bahagia.”

“Tidak ada yang harus kau lakukan saat ini, percayalah semua yang ada di kepalamu saat ini tidak perlu kau lakukan, ingat!! Jangan pernah mengungkit masalah ini lagi.”

“Kau….? Bagaimana kau..?”

“Aku tahu kau Hari!, makanya kau kutinggalkan malam itu.” Jamil tersenyum kepada Hari.

Senyum yang sama seperti di toko perhiasan dulu.

***

Advertisements

6 thoughts on “Senyum Jamil

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s