Pawai

Aku perlahan bergerak menuju tempat dimulainya sekaligus tempat berakhirnya pawai. Menatap setiap wajah yang bisa kutangkap dengan mataku. Berharap tidak melihat wajah adikku.

“Bang.!!”

Orang-orang melihat semua ke arah vespaku yang sengaja digas kencang biar suara itu hilang ditelan knalpot vespa. Aku terus melaju agak sedikit kencang sementara kopling terus kutekan agar bunyinya semakin nyaring. Walaupun begitu, masih bisa terdengar beberapa kali adikku memanggilku. Di spion dia terlihat membalikkan badan setelah melambaikan tangannya ke arahku beberapa kali, terus ku melaju sambil berharap dia menyangka bahwa suaranya dan dia tidak terdengar dan terlihat olehku.

Akhirnya kutangkap sosok gadis itu, adik kelasku yang sedang kudekati, dalam beberapa detik vespaku sudah terpakir di sampingnya, dengan perasaan bersalah terhadap adikku.

“Mau, kuantar pulang?”

“Hmm..”

“Hmmm.?”

“Aku bisa sendiri.”

“Kenapa?”

“Tidak kenapa-napa.”

“Oh..”

“Di mana adikmu? Bukankah kau katakan dia juga ikut pawai ini? Kau tidak ingin mengenalkannya padaku?”

“Ku rasa aku tidak melihatnya, mungkin dia sudah pulang.”

“Oh, sayang sekali, padahal akan sangat menyenangkan jika bisa berkenalan dengannya.”

“Aku juga ingin kau berkenalan dengannya.”

“Kenapa kau terus melihat ke belakang?”

“Tidak.”

Dia tersenyum sambil berusaha menyembunyikan ketidaknyamanannya agar tidak terlihat olehku.

“Benar, kau tidak mau kuantar pulang?”

“Lain kali saja, aku sudah berjanji dengan Karin untuk pulang bersama.”

“Kutemani sampai Karin datang?”

“Tidak usah, terima kasih.”

“Bukankah kau ingin menunggu Karin?” Dia mulai berjalan.

“Kami berjanji untuk bertemu di taman.”

***

Aku menyalakan vespaku setelah dia berbelok menuju taman dan bergegas ke arah di mana terakhir kali melihat adikku. Oh tidak…. dia sudah tidak ada di sana lagi. Di pangkalan ojek maupun angkot sudah tidak ada.

Aku berhenti di pinggir jalan, mematikan mesin kemudian memainkan kopling di tengah peserta dan pengunjung pawai yang berlalu lalang tak beraturan. Semuanya bercampur aduk, sesal, kecewa, uang jajan buat besok yang kuhabiskan untuk bensin, sedih dan wajah adikku.

Selama dalam perjalanan pulang, semuanya terus bergantian muncul dibenakku diakhiri dengan wajah adikku yang memanggilku kemudian berulang lagi dari awal. Akhirnya wajah ibuku yang melatarbelakangi sosok kecil adikku yang berseragam smp berjalan di trotoar dan memanggilku. Renyuh semuanya, air mataku menyeruak di balik kaca helm-ku. Tidak, tidak sesaatpun rasa sedih karena tidak jadi memboncengi Ana menyapaku. Aku menggigil, merinding, ingin menemui adikku, menangis di hadapannya dan memeluknya jika saja hal itu lazim dilakukan di kampung kami.

Aku tidak tahu apa yang akan kukatakan jika saja adikku mengadu ke Bapak bahwa aku tidak mau memboncenginya dengan vespa yang sudah dipercayakannya padaku. Oh, bukan itu sebenarnya yang kutakutkan, bukan itu sebenarnya yang menggangguku akan tetapi kenapa aku bisa seperti ini, dia adikku, adikku, kenapa aku menjauhinya, apapun itu, bagaimanapun, dia adikku, titik!!

Paginya aku bangun masih bercelemek dengan perasaan kemarin. Saat pulang sampai waktunya masuk ke kamar untuk tidur, tidak ada yang ganjil, tidak ada pertanyaan-pertanyaan dari orang tuaku. Setelah memutuskan untuk meminta maaf kepada adikku, aku duduk berlama-lama di atas kasur sambil membiarkan perlahan waktu berlalu, pagi itu terasa sepi sekali, kembali terbayang wajah adikku.

“Bang!!”

“Ya..” Aku kaget, suara yang sama seperti kemarin sore. Namun kali ini dari balik pintu kamarku.

“Bapak dan Ibu pergi menjenguk tante Siti, jantungnya bermasalah lagi, mereka pergi, pagi sekali. Oya, Ririn sudah masak nasi goreng buat sarapan, dihabisin semua ya..!!”

“Ya,…” ucapan terima kasih dengan pelan memaksa mulutku bergerak.

Aku bergegas bangun dari tempat tidur, setelah selesai beres-beres dan bersiap untuk berangkat sekolah. Kulihat kamar adikku, semua sudah rapi, dia tidak terlihat lagi. Aku segera berlari ke depan rumah, dia terlihat baru saja menaiki angkot yang seketika itu juga menjauh, padahal aku sudah berniat untuk memboncenginya mulai hari ini jika aku mengendarai vespa ke sekolah. Namun untuk hari itu rencanaku untuk “berbaikan” berantakan.

Aku berfikir akan terlambat jika harus sarapan terlebih dahulu namun pikiranku berubah saat akan mengunci pintu pagar. Aku kembali ke meja makan.

“Enak..”

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s