Sampai Terlelap

Saat itu tetesan hujan pertama di bulan Oktober
setetes demi setetes turun menuju gorong-gorong
satu persatu kemungkinan datang
melalui ventilasi kamarku

Aku mematikan lampu kamarku
mengintip hujan membelai daun bunga Kenanga
dan mendengarkan angin yang berkisah dengan ilalang

Suara guntur dan gemuruh hujan terasa begitu menenangkan
dan petir menghadirkan bayang-bayang sebuah cerita perang
yang selalu dimenangkan oleh…
dan akhir bahagia yang selalu aku inginkan

Kemungkinan itu terus berhembus
satu, dua, tiga,….
aku menghitungnya

aku menghitungnya
aku menghitungnya
sampai aku terlelap.

Advertisements

One thought on “Sampai Terlelap

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s