Media Tidak Membalasnya

Pikiranku kembali berputar-putar di masa lalu, ketika itu kami masih sama-sama pengurus BEM Fakultas Kedokteran. Aku sama sekali tak pernah bisa menjelaskan kenapa setiap bergabung dengan organisasi apapun semenjak di sekolah menengah pertama selalu kebagian menjadi anggota seksi perlengkapan, kesekretariatan atau departemen atau bagian yang berhubungan dengan salah satu dari dua hal tersebut. Dari dulu, selalu saja berakhir di sana.

***

Lebih jauh melihat kebelakang, tiga tahun sebelumnya. Saat itu malam “operasi” malam keakrabannya fakultas setelah kita diospek selama kurang lebih enam bulan. Mulai dari malam itu kami semua boleh menggunakan nama kami yang telah tertulis di akte kelahiran kami lagi. Saat ospek hanya kami berdua yang diberi label nama yang sama “alien” dia alien satu dan aku alien dua, selebihnya mempumyai nama yang berbeda satu dengan yang lainnya.

Menurutnya aku plin-plan, ragu-ragu, penakut karena itu kenapa aku menjadi alien dua tidak menjadi alien satu.

Mungkin hampir sama dengan sebagian besar fakultas lain, hari pertama ospek kami diberi materi yang membuat kami bangga dengan pilihan kami dengan fakultas di mana kami mendaftar dan diterima. Aku yang tidak begitu kritis dan sangat mudah dipengaruhi perlahan-lahan dalam waktu penyampaian materi oleh senior mulai menerima kenyataan walaupun aku tidak berada di fakultas yang aku impi-impikan, mulai yakin dalam hatiku bahwasanya telah berada di fakultas yang hebat menurut mereka, para seniorku. Saat itu pemateri berkata dengan yakin bahwasanya tidak mungkin ada yang menjadikan fakultas kedokteran sebagai pilihan kedua, dan di fakultas ini tidak ada mahasiswa “buangan”. Tiba-tiba dari barisan ketiga dari depan dan keempat dari kiri seorang mengangkat tangannya.

“Fakultas ini pilihan kedua saya!” Dia berkata dengan lantang tapi tanpa ada sedikitpun rasa pongah, tidak seperti senior yang dari tadi bicara dengan sombong bahwa fakultas ini yang ter, ter dan ter.

Senior tersebut dengan cepat menguasai rasa keterkejutannya, dan dengan sedikit rasa ragu-ragu yang ditutupi dia selanjutnya berkata,

“Mungkin ini satu-satunya pengecualian, kasus yang kemungkinannya hanya ada satu dalam seribu.”

Jika saja dia berhenti sampai di sana dan melanjutkan materi yang disampaikannya mungkin dia tidak akan lebih malu lagi, namun egonya telah menantangnya untuk membuktikan apa yang dia katakan tersebut adalah benar dan aku meyakinkan diriku kalau dia salah karena kedokteran juga merupakan pilihan keduaku saat mendaftar pada seleksi penerimaan mahasiswa baru dan mungkin ada beberapa mahasiswa lain yang juga sepertiku. Akan tetapi rasa percaya dirinya terlalu tinggi sehingga akhirnya ia mengajukan pertanyaan.

“Atau ada lagi? Saya yakin tidak.” Dia menjawab pertanyaannya sendiri sambil tersenyum. Mahasiswa yang tadi melihat ke selilingnya dan suara gaduh bergema di aula tersebut. Aku yang berada di barisan paling depan dan yakin akan ada beberapa orang lagi yang akan mengangkat tangannya mengangkat tanganku dengan malas. Sama sekali tidak bermaksud untuk mempermalukan dia, aku hanya merasa kalau harus mengangkat tanganku. Seketika itu serempak mahasiswa baru tertawa dan berbisik-bisik kepada siapapun yang berada di dekat mereka walaupun mereka belum kenal satu sama lain bahkan moderator acara hari itupun dan beberapa senior lain yang berada dalam ruangan itu tersenyum.

Aku dan senior itu, kami berdua salah. Pernyataannya sebelumnya terbantahkan karena aku mengangkat tanganku dan aku juga salah karena ternyata hanya aku sendiri yang mengangkat tangan setelah mahasiswa pertama tadi.

Oleh karena hanya kami berdua yang mempunyai pilihan pertama bukan fakultas kedokteran, setidaknya itu yang terlihat, aku sendiri masih yakin ada yang tidak bersedia mengangkat tangannya saat senior itu memberikan pertanyaan tersebut waktu itu.

Sejak itu kami berdua dianggap orang asing karena tidak murni bercita-cita kuliah di fakultas kedokteran dan mendapat nama panggilan alien selama ospek berlangsung.

***

Tahun ketiga perkuliahan, aku mempunyai IPK yang pas, pas di tengah. Aku tidak terlalu berambisi untuk tahu lebih banyak, karena saat itu setelah hampir tiga tahun di fakultas, masih, waktu selama itu belum cukup membuatku jatuh cinta pada fakultas tersebut. Bagiku kuliah saat itu sekedar cukup untuk mempunyai pengetahuan sebanyak yang dibutuhkan sebagai syarat lulus mata kuliah dan lebih memilih untuk menghabiskan waktuku mengurusi majalah bulanan fakultas di mana aku sudah bergabung dengannya semenjak awal kuliah. Majalah bulanan menjadi sesuatu yang wajib bagiku dan kuliah adalah ekstra kurikuler.

Suatu siang beberapa hari menjelang hari kemerdekaan, bertepatan dengan libur kuliah. Aku memutuskan untuk tidak libur, datang tiap hari ke fakultas dan sibuk dengan urusan majalah. Seperti tahun tahun sebelumnxa aku akan bebas sendirian bekerja di ruangan BEM fakultas karena semuanya libur dan saat itu adalah saat yang menyenangkan, saat tanpa di ganggu oleh suara-suara, bayangan orang lalu-lalang, waktu terbaik aku bisa menyelesaikan sesuatu dengam cepat dengan hasil yang maksimal.

Dia masuk sekonyong-konyong sambil mendendangkan lagu, yang sering kudengar saat masih berseragam biru putih.

“Kupikir kosong.” Katanya kemudian, aku yang sedang berkonsentrasi merasa terganggu dengan kedatangannya tidak tahu harus menjawab apa hanya menggumam tidak jelas.

“Ya.“

“Apa maksudmu ya? Bukankah kau di sini?” Sambil berjalan santai menuju lemari arsip di belakangku.

“Tidak, eh ya maksudku.” Aku menjawab dengan kesal dan bingung. Dia berhenti membaca laporan di tangannya, aku bisa melihat Laporan Kegiatan P…. yang lanjutannya tertutup oleh tangan kirinya. Kemudian mengalihkan pandangannya padaku. Aku menjadi berdebar-debar melihat matanya. Dulu tidak seperti ini, dulu senior sering memperolok kami berdua karena senama, sering disuruh mengerjakan segala sesuatu berdua, dan aku harus selalu tahu di mana dia berada begitu juga halnya dengan dia yang harus selalu tahu di mana aku berada. Sehingga mau tidak mau aku jadi hapal kegiatannya dan sebaliknya.

“…..???“ Dia hanya melihatku dengan pandangan bertanya-tanya.

“Tidak kosong dan ya aku berada di sini!!” Jawabku tak sabaran.

“Aku tahu.” Jawabannya membuatku kesal, aku tak ingin memperpanjang lagi kemudian melanjutkan pekerjaanku yang tertunda beberapa saat.

“Apa yang sedang kau lakukan? Belajar?“ Gangguan itu terus berlanjut.

“Bukan, ini buat majalah.”

“Oh, kupikir kau belajar, kudengar IPK mu….“

“Bukan urusanmu, dan aku sama sekali tidak…… itu bukan masalah bagiku.” Ucapku akhirnya tanpa melanjutkan kalimatku yang sebelumnya.

“Oh, baguslah kalau begitu.” Suaranya jadi agak merendah, mungkin dia merasa bersalah.

“Kenapa kau tidak pernah menulis?” Sudah kepalang tanggung, konsentrasiku sudah buyar. Aku memutuskan untuk mengajaknya berbicara. Dan sekonyong-konyong aku bertanya padanya.

“Aku tidak suka…hei kupikir aku tadi mengganggumu dengan mengajakmu bicara!!” Dia ternyata menyadari hal tersebut.

“Kurasa cukup untuk hari ini.” Aku menghela napasku dan melepaskannya dengan panjang,sampai-sampai kertas dihadapanku menari-nari dan melampai-lambai.

“Sayang saja rasanya kau tidak menulis, padahal pengetahuanmu, jujur kuakui, kentara melebihi kami semua.” Aku berusaha mengatakannya dengan menekan setiap senti egoku yang tidak mau kalah dan susah untuk mengakui kenyataan bahwa seseorang mempunyai kelebihan dariku.

“Apakah sekarang kau akan menyampaikan salah satu kutipan kata-kata Pramoedya Ananta Toer?” Dia menjawab pertanyaanku dengan pertanyaan.

Aku salut dengan kemampuan dia berbicara dan wawasannya yang luas, setiap berbicara dengannya aku selalu merasa lebih kecil dan hampir setiap orang merasakan hal yang sama jika berhadapan dengannya, dia juga lihai mengelak dan berkelit. Akan tetapi itu tidak hanya itu, karena di sini pun, di fakultas ini, dia cukup menonjol. Sepertinya dia memang dilahirkan untuk bisa mengerti semua hal dengan mudah hanya tinggal memutuskan bidang apa yang ingin dijadikannya sebagai jalan hidupnya.

“Tidak, sayang saja kalau kau harus seperti Aristoteles.” Balasku sengit tak mau kalah.

“Socrates maksudmu?” Dia mengernyitkan keningnya ke arahku. Ini yang paling tidak kami semua di sini senangi, memang sebenarnya dia tidak bermaksud membuat lawan bicaranya kelihatan bodoh. Akan tetapi bagi siapapun yang baru kenal dengannya saat keadaannya seperti ini pasti ingin melemparkan sesuatu yang ada dekat mereka ke kernyitan keningnya itu tapi aku sudah hapal dengan sikapnya itu. Jadi tidak ada yang perlu terbang ke kepalanya.

Aku memang sering salah, kadang-kadang aku suka terbalik-balik sehingga Socrates menjadi murid Plato, kadang Aristoteles menjadi guru Plato. Dan dia benar, memang yang kumaksudkan adalah Socrates yang tidak menuliskan pemikiran-pemikirannya. Plato lah yang menuliskan dialog-dialog antara dia dan gurunya tersebut.

“Tapi, kau tidak mempunyai Plato.” Aku tidak menjawab pertanyaannya tersebut, hanya menyetujuinya dengan pernyataanku

“Bagaimana kalau kau yang menjadi Platonya? Kau suka menulis bukan?” Tawarnya acuh tak acuh kemudian asyik kembali dengan laporan yang dibacanya setelah memperbaiki kesalahanku tentang Socrates.

“Dan sebentar lagi kaum Sofis akan menghasut pemerintah untuk membunuhmu. Baiklah kalau begitu.” Aku yakin aku telah memenangi percakapan yang tidak berarti itu.

“Hahahaha, usaha yang bagus, tapi aku sudah belajar dari sejarah dan aku telah mengambil langkah-langkah untuk mencegah hal itu terjadi.” Aku hanya gigit jari mendengar jawabannya.

“Ah sial….ini seharusnya bukan tugas sekretaris..!!” Dia kesal dan memasukan kembali laporan yang dipegangnya ke dalam lemari arsip secara serampangan kemudian bergegas pergi meninggalkan ruangan itu tanpa mengucapkan sepatah katapun kepadaku yang sedari tadi berbicara degannya. Aku melihat laporan yang dibacanya, aku tidak mengerti, itu bukan laporan kegiatan yang terakhir melainkan laporan kegiatan dua tahun lalu.

“Ibu berpesan untuk belanja dulu sebelum pulang, ini daftarnya.” Kakak laki-lakiku tiba-tiba masuk dan memberikan sebuah daftar belanjaan yang harus kubeli sebelum pulang ke rumah.

***

Jika teringat tentang dia, percakapan kami saat itulah yang pertama muncul di dalam benakku dan adegan itu muncul lagi tiba-tiba pagi ini setelah tiba-tiba aku menerima email darinya.

Aku yang sama halnya dengan sebagian besar perempuan lainnya tentu bingung dengan ini semua. Tiba-tiba seorang laki-laki yang dulu pernah melintas dalam pikiranku mendadak memberitahukan kepadaku bahwa dia menyukaiku dan ingin menikahiku. Kenapa baru sekarang? Setelah sekian lama. Hanya pertanyaan itu yang berputar-putar di kepalaku.

Aku benar-benar bingung seperti berada diantara perasaan senang dan ingin segera membalas emailnya dan berkata “YA“, dengan perasaan sedih dan praduga apakah aku adalah pilihan terakhir karena dia sudah tak ada pilihan lain dan segera membalasnya dan berkata “TIDAK“. Dan kalau saja benar yang kedua adalah yang benar, aku akan merasa sangat….sangat tidak diistimewakan dan aku kecewa dengan hal semacam itu.

Aku memutuskan untuk tidak membalas email tersebut dengan segera. Aku berangkat bekerja seperti biasa, sebagai redaktur majalah kesehatan.

***

Aku kehilangan kepercayaan diriku beberapa saat lamanya, cukup lama menurutku. Menunggu balasan yang tak kunjung datang darinya. Sepertinya semuanya benar-benar seperti yang aku takutkan.

***

“Mas, bisa menemaniku minggu depan ke luar kota?“ Aku meminta dengan suara agak memaksa kepada lelaki yang rasa sayangnya kepadaku melebihi rasa sayang bapakku kepadaku. Dia kelihatannya agak terkejut.

“akk,hemm.“ Dia berusaha menelan makanan dengan cepat ke dalam kerongkongannya. Meneguk air putih di depannya dan berkata kepadaku.

“Kamu harus turun ke lapangan lagi?!“ Tanyanya sedikit tidak percaya. Omset penjualan majalah yang semakin hari semakin meningkat membuat kami semua harus bekerja keras untuk meningkatkan kualitas isi dan tampilan untuk setiap edisinya. Sementara jurnalis untuk artikel kesehatan masih sulit untuk ditemukan, sehingga aku yang sebagai redaktur kadang-kadang harus ikut turun tangan jika semua reporter sibuk.

“Ini..“ Aku menyerahkan biodata orang yang akan kuliput kepadanya.

“Dia dokter ahli yang saat ini sedang meneliti tentang pengobatan kanker dengan menggunakan virus HIV yang telah dijinakkan.“ Dia kelihatan menyetujui kalau orang itu adalah orang yang menarik untuk diliput dan segera bertanya.

“Bukankah banyak saat ini, yang melakukan penelitian tentang kanker, bahkan ada yang kemungkinan berhasilnya sudah 80 persen dan……..“ Aku langsung memotongnya.

“Bagi sepuluh orang dari sepuluh juta orang…?“ Aku langsung memotongnya tanpa sabar. “Kamu bersedia menemaniku atau tidak mas?“ Aku terbakar dengan emosiku sendiri.

“Maaf, aku tidak bermaksud…bukannya aku tidak bersedia, mungkin aku tidak begitu tepat menyampaikan maksudku kepadamu, menurutku dia baru di awal penelitiannya dan masih belum berpengalaman, masih seumuran kamu, sedangkan dokter yang kusebutkan tadi jauh lebih berpengalaman, kenapa bukan dia atau banyak kan yang lain.“ Suaranya menjadi jauh lebih lembut. Aku menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskan semua emosiku dalam diam, mungkin ini akumulasi dari tekanan pekerjaan yang semakin berat, sementara perusahaan belum juga bergerak cepat untuk memparalelkan sumber daya dengan beban kerja yang semakin tinggi.

“Dia memang masih muda mas, tapi dia punya sesuatu yang baru, yang dilakukan dokter-dokter lainnya tersebut masih melanjutkan penelitian lama yang jelas-jelas probabilitasnya untuk berhasil sangat kecil dengan efek samping yang sangat besar. Dan Dokter ini lebih istimewa, dia membawa harapan baru, dia sendiri yang menjadi kelinci percobaan dari penelitiannya, dan lebih istimewa lagi karena dia melakukannya dari tempat tidur.“ Aku berkata dengan lebih tenang. Dia hanya menatapku dengan lama, selama ini setiap kali meminta bantuannya dia akan membantuku selama aku bisa memberikan alasan yang dapat diterima akalnya. Dan aku selalu bisa memberikan alasan yang bisa meyakinkannya, walaupun kadang-kadang aku juga berfikir kalau selama ini aku tidak pernah berhasil meyakinkannya namun dia selalu menerimannya hanya karena rasa sayangnya kepadaku.

***

“Apakah dia salah satu temanmu di fakultas dulu?“ Mas Angga menunjukkan riwayat pendidikan dokter ahli yang akan kami kunjungi tersebut.

“Aku juga sudah membaca hal tersebut, dia memang berasal dari fakultas dan universitas yang sama denganku, bahkan tahun pendaftaran yang sama. Akan tetapi seingatku aku tidak punya teman satu angkatan bernama Media, bahkan aku juga sudah menanyai teman-temanku yang lain, mereka juga tidak ingat kalau diangkatan kami ada yang bernama Media.“ Sebenarnya yang pertama kali terbersit di kepalaku adalah Kara, ketika aku mengetahui tentang seorang dokter ahli yang digadang-gadangkan akan menjadi kebanggaan almamater universitas kami, bahkan mungkin negara kami. Namun, kemungkinan itu tiba-tiba menjadi sangat kecil setelah aku mengetahui bahwa nama dokter itu bukan Kara. Hanya saja harapanku, walaupun kecil masih kusimpan karena aku belum pernah bertemu ataupun melihat wajah dokter itu.

“Kau sudah pernah melihat fotonya?“ Suara mas Angga tiba-tiba datang di sela-sela lamunanku. Aku hanya menggeleng lemah dan kembali menatap ke sayap pesawat yang terus memotong gumpalan awan putih sejauh mataku mampu memandang.

***

“Silahkan Bapak dan Ibu dulu dan menunggu di sini sebentar terlebih dahulu, nanti akan saya bawa menemui Bapak Media, setelah dia siap untuk ditemui.“ Suster itu pergi dan beberapa menit kemudian datang seorang suster lain membawakan dua cangkir teh hangat untuk kami. Aku mempersiapkan alat-alat yang akan aku gunakan untuk wawancara nanti, sementara itu mas Angga sibuk memilih-milih majalah dari rak di samping sofa kami. Akhirnya sambil tertawa dia mengangkat dan menunjukkan majalah yang aku redakturi.

“Dia lebih dulu sampai di sini.“ Dia menunjuk majalah tersebut.

***

Setelah lebih dari satu jam menunggu akhirnya suster yang menerima kami tadi datang.

“Silahkan Ibu Ana, Bapak sudah siap untuk ditemui.“ Ajaknya. Aku dan mas Angga serentak berdiri.

“Maaf, Bapak silahkan menunggu di sini, hanya Ibu Ana yang bisa ditemuinnya.“ Suster itu berbicara dengan tegas. Aku langsung melihat ke Mas Angga, aku berharap dalam hatiku keras kepalanya tidak muncul saat ini, aku mengangkat bahuku pasrah dan meminta kesediaannya untuk mendengarkan kata suster tersebut. Dia menyetujui dengan kembali lagi duduk dengan tidak rela kembali mengambil majalah tadi. Suster tersebut kemudian berjalan mendahuluiku, aku mengikutinya dari belakang dengan penuh rasa penasaran tentang dokter yang akan kutemui ini.

Setelah berjalan kira-kira lima menit kami sebuah ruangan yang dari luarnya kelihatan kecil,namun setelah berada di dalamnya ruangan itu luas sekali. Di sebelah kananku berderet-deret meja-meja kerja yang saling berhadap-hadapan satu sama lain. Di beberapa meja kerja ada komputer dan di sebagian yang lainnya peralatan kedokteran yang paling mutakhir saat ini. Di ujung sebelah kanan, arah diagonal dari tempatku berdiri terdapat ruangan kaca, kurang lebih seperti laboratorium dengan ukuran kurang lebih sepuluh kali sepuluh meter. Dan di seberangnya, di sebelah kiri ruangan kaca tersebut ada sebuah ruangan lagi, ruangan permanen. Di tengah-tengah ruangan tersebut ada sebuah meja bundar yang digunakan untuk berdiskusi atau rapat kurang lebih untuk dua puluhan orang.

Suster itu berbicara membelakangiku dengan dokter tersebut. Aku hanya dapat melihat bagian kanan tubuh seseorang yang duduk di atas kursi roda. Tangan itu kurus renta, seperti tangan orang yang sudah tua, tidak berotot, layu. Aku juga dapat melihat kedua kakinya melalui celah yang bisa kuintip antara kedua kaki suster yang berada di hadapannya, keduanya memijaki tapakan kursi roda. Yang mana juga kelihatan kurus, walaupun ditutupi dengan celana panjang, akan tetapi tetap saja kelihatan begitu jelas, kecil. Aku mencoba bergeser sedikit ke kiri untuk mengintip wajah dokter itu. Namun Kelihatannya suster itu sudah selesai berbicara, walaupun sebenarnya aku tidak yakin jika mereka sedang berbicara, karena yang kudengar dari tadi hanya suara suster tersebut, mengiyakan sesuatu dan kadang-kadang bertanya sesuatu, kemudian diam sebentar, kemudian berbicara lagi. Aku tidak tahu dan tidak bisa menerka apa yang sedang mereka bicarakan. Suster itu kemudian berjalan ke arah ku. Aku berusaha untuk berdiri dengan tenang dan tidak mengintip lagi, karena lambat laun toh aku juga akan melihat wajahnya. Suster itu tersenyum dan memencet sebuah remote yang dikeluarkannya dari sakunya. Dan sebuah layar untuk proyektor turun dari langit-langit sebelah kananku, antara meja-meja dan ruangan kaca, menutupi dinding berwarna biru yang sangat muda hampir mendekati warna putih. Dia mempersilahkan aku untuk mendekat ke dokter.

“Bapak belum bisa berbicara, hanya tangan kiri, mata kanan, telinga, dan otaknya yang saat ini bisa berfungsi dengan baik. Jadi jika ingin berbicara dia biasanya akan menuliskannya di komputer tangannya memperlihatkannya langsung atau diproyeksikan ke proyektor itu.“ Dia menunju sebuah proyektor, dan dengan reflek aku mengikuti arah tangannya. Suster itu mohon pamit dan aku sekarang menghadap ke arah pintu yang kami lalui tadi, membelakangi dokter tersebut dan mengawasi suster tersebut meninggalkan ruangan di mana aku berada.

Aku membalikan badanku, hal pertama yang terjadi adalah, peralatan dan buku tulis yang sedari tadi kudekap di dadaku, berjatuhan di lantai, setelah sebuah senyuman keluar dari wajah dokter di hadapanku, bunyinya terdengar begitu nyaring di ruangan yang berlangit-langit tinggi ini. Kemudian aku mendengar pintu masuk yang tadi sudah di tutup oleh suster tadi terbuka.

“Bapak tidak boleh masuk!!“

“Mas Angga??!!“ Mas Angga sudah berdiri di pintu masuk. Diantara suster yang memanggilnya dan aku yang sedang berjongkok membereskan peralatan-peralatanku. Dia berhadap-hadapan langsung dengan Kara.

“Kamu?!“ Spontan mas Angga berbicara.

“..??!! …?!“ Kara berbicara hampir bersamaan dengan mas Angga. Atau lebih tepatnya hanya gumaman seperti seorang yang baru saja terkena stroke. Wajahnya tidak lagi ceria seperti beberapa detik yang lalu. Kali ini seperti anak kecil yang baru saja di ambil mainannya oleh temannya yang badannya lebih besar dan dia tidak bisa melakukan apa-apa untuk hal tersebut. Aku memberikan pandangan meminta supaya tenang kepada kedua laki-laki ini.

Kara mengangguk kecil kepada suster tersebut, memberikan izin untuk mas Angga untuk tetap berada di sini. Suster itu kemudian pergi dan menutup pintu lagi. Akan tetapi kali ini aku yang tidak ingin dia berada di sini, ada banyak hal yang ingin ku bicarakan dengan Kara. Aku memohon dengan tatapan memelas kepadanya meminta agar kami ditinggalkan.

“Tidak ada yang akan kurahasikan dari mu mas, aku berjanji nanti semua akan kuceritakan.” Aku berkata setelah rasanya pelasanku tidak cukup untuk membuatnya meninggalkan kami berdua di ruangan tersebut. Agaknya itu berhasil, dia akhirnya meninggalkan kami berdua.

“Aku sekarang menulis.” Satu persatu huruf keluar dari layar di sebelah kananku. Masih saja seperti dulu, jadi sekarang kau menulis? Tidak jadi keluar dari mulutku. Dia telah bertahan terlebih dahulu sebelum aku sempat menyerangnya. Aku hanya tertawa kecil.

“Mas??!!“ Kalimat sebelumnya berganti. Keningnya mengernyit seperti biasanya, belum berubah.

“Kenapa? Menurutmu aku salah?“ Aku menggodanya, pipinya memerah tidak bisa kutebak apakah dia marah, malu atau kecewa dengan kenyataan adanya mas Angga di sini bersamaku.

“Tidak sepenuhnya, tapi kenapa dengan sofis itu? Pria itu dulu selalu mengikutiku, seperti kaum sofis yang ingin membunuh Socrates. Ternyata benar, dia memang punya hati untukmu.“ Ah… Aku juga masih ingat percakapan ini, percakapn bertahun-tahun yang lalu.

“Aku bisa menjelaskan semuanya.“ Ucapku.

“Aku jugabisa menjelaskam semyanya.“ Kulihat dia menulis dengan cepat sehingga ada beberapa huruf yang salah ketik. Dan antara kata tanpa spasi.

Dia bersikeras kalau dia terlebih dahulu akan menjelaskan semuanya, kenapa dia tidak membalas email-ku yang terakhir, email yang menyatakan pesetujuanku untuk menerima dia menjadi pendamping hidupnya. Kami bersikeras dan bertahan untuk menjadi orang pertama yang menjelaskan masalah ini, sehingga persepsi yang ada selama ini ada di benak kami berdua menjadi gugur setelah kami masing-masing menjelaskan kepada lawan bicara kami. Intinya kami berdua ingin menjadi orang yang terlebih dahulu menyampaikan kebenaran tentang persepsi yang salah tersebut. Entah kenapa, padahal kami mempunyai cukup waktu untuk semua ini.

Tanpa adanya persetujuanku kata demi kata bermunculan di layar, jadi itu benar-benar seperti dia. Kata-kata itu muncul dengan cepat. Mau tidak mau aku memperhatikan layar tersebut.

“Tifakkah kau bisa sedikit mengfunakan khayalammu? Kenapa aku tidak pernah membalas emailkmu. Ya mungkin kay tidak bisa, kauiu masih seperrti dulku.” Dan kau masih seperti dulu juga, justru aku membayangkan berbagai macam hal dalam benakku kenapa kau tidak membalas emailku pikirku.

“Haeri itu saat aku menerina balasannu, aku sangat senanf sekali. Aku seperttu anak kevil yang berlati kesana kemari. Aku bersiulsiul senang berjalan keliling jkota. Semuanyas indah pokoknya hasri itubenarnenar yanginfah dalam hiduplu. Di salah satu jalan ada bagian trotroror yang sedanh dipernaiki, tidak menyadarinya dan terjath kedalam lobangf sehauh tiga meter diatas tukangtulangan beton. Bebereapa tulangan teraebut menembus tubuhku dan merusak sarafku akusempat komma bebebebrapa bulan. Kini hanyaa beberaspa organ tuhubku yang bisa berfungdi dengan vaik.“ Aku terkesima mendengar ceritanya yang kedengarannya sangat aneh, sangat bodoh, sangat…entahlah seperti sangat dibuat-buat. Tapi dunia memang seperti itu penuh dengan warna-warni.

“Tentu saja aku tidak bisa… mana mungkin aku akan membayangkan hal seperti itu terjadi kepadamu atau mana mungkin aku ingin hal tersebut terjadi kepadamu, sehingga membayangkan kemungkinan tersebut.“ Aku berkata dengan jujur. Air mukanya agak sedikit cerah agaknya.

“Seharusnya akumembagi rasda senang itu, nikmat yangkurasakam saat itu begitu besar, seharusnya aku membaginya, sekarang aku menyadarinya kalau nikmatyang terlalu besart juha harus dibagi tidak boleh dinikmati sendiri, seperti halnyasaat searorangberbicara meluapkan rasa sedih disaay mereka sedih, agar rasa sedih ituu berkurtrang.“

“Mas??“ Dia Kemudian meminta penjelasanku.

“Kupikir, kau tadi hanya ingin di dengar, tanpa ingin mendengar penjelasanku. Kau masih seperti itu, kau harus berbicara terlebih dahulu untuk menyatakan bahwasanya aku salah dan kaulah yang benar.”

“Mas??“ Dia tidak mendengarkanku sama sekali, benar-benar seperti anak kecil.

Aku bercerita dari A sampai Z dengan runut, dari umum ke khusus seperti aku menulis artikel untuk majalahku. Alur bolak-balik yang kugunakan membuat ceritaku tidak terlalu monoton. Kadang-kadang dia menyelanya dengan candaan cerdasnya. Kadang-kadang aku me-skaknya, sehingga dia tidak berkutik. Beberapa jam berlalu, aku menyudahi ceritaku. Aku tiba-tiba teringat mas Angga yang sedari tadi, semenjak aku mulai bercerita, aku sudah melupakannya.

“Jadi?“ Dia bertanya kepadaku untuk memastikan kesimpulan yang ada di benaknya sama dengan yang ada di kepalaku.

“Wanita tidak suka kalau harus mengulanginya, aku sudah seperti itu, sudah tidak ada lagi yang tersembunyi, kau bisa melihat dengan jelas semuanya.”

***

Tidak ada wawancara yang terjadi saat itu. Aku memutuskan untuk menginap di kota itu, dan baru akan melaksanakan wawancara esok harinya. Jika nanti aku menulis artikel tentang dia. Dia tidak ingin aku menulis artikel tentang Kara, tapi tentang Media, dia ingin tetap menggunakan nama Media, dia lebih nyaman dengan nama itu, nama panggungnya.

“Ha..ha..ha.“ Mas Angga tertawa mendengarkan ceritaku.

“Konyol sekali, tapi aneh rasanya, hal seperti itu benar-benar terjadi, biasanya orang mengalami kecelakaan karena sedang sedih atau banyak masalah, ini malah sebaliknya.”

“Apakah kau yakin dengan keputusan yang kau ambil?” Kali ini mas Angga bertanya dengan wajah seriusnya yang baru pertama kali aku melihatnya seumur hidupku.

Aku mengangguk cepat. Dia menarik kepalaku dan menyandarkannya di bahunya, kemudian mengusap-ngusap dengan lembut. Aku bersandar di lengannya sambil terus melihat tiang-tiang listrik yang bergerak menjauhi bus yang membawa kami ke penginapan.

“Mas, bahumu nyaman, rasanya seperti berada di bahu bapak, mmmhh…. baunya juga sama. Aku akan sangat iri sekaligus akan sayang sekali kepada wanita yang nantinya kamu nikahi.“ Mas Angga diam saja, aku tidak menoleh ke wajahnya, aku tetap bersandar dengan nyaman, dia tidak sedikitpun bergoyang.

Kakakku ini memang tidak begitu pintar untuk hal-hal seperti ini, tenang kenangan, tentang bapak, tentang Ibu. Aku tahu dia berusaha keras untuk menahan rasa panas di pelupuk matanya, berusaha keras menahan isak bahunya. Aku kemudian memejamkan mataku sambil terus bersandar di bahunya.

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s