Pria Yang Di Bawah Matanya Ada Lingkar Hitam

Pria itu hitam legam, sehari-hari dia bekerja sebagai penjaga perpustakaan daerah di kota ini.

Nenekku mulai bercerita.

Setiap aku berangkat ke sekolah aku selalu bertemu dengan pria hitam itu dan setiap itu pula terlintas dalam pikiranku apa maksud Tuhan menciptakan dia dengan warna kulit seperti itu di negeri kami yang semuanya berkulit kuning langsat dan kalau pun hitam, itu tidak legam seperti dirinya. Kadang-kadang saat aku kepergok oleh pria itu ketika memperhatikannya, aku mencoba untuk berusaha tersenyum setulus mungkin dan menyembunyikan perasaanku yang aneh terhadap kehitamannya.

Dia hanya memalingkan mukanya saat aku tersenyum, waktu itu dia berpikir bahwa pasti aku merasa aneh dengan warna kulitnya, dan dia seratus persen benar.

Nenek menghela napasnya, pandanganya tertuju pada pohon alpukat yang mulai bertunas kembali setelah minggu lalu ditebang oleh bapakku. Akan tetapi aku tahu bukan itu yang diperhatikannya, dia hanya menghadap ke sana pikirannya mungkin berkelana ke dalam helaian-helaian ceritanya. Dan dia sedang memilah-milah, helaian yang ingin diceritakannya padaku.

 IMG_04633

Aku selalu ingin menghindari jalan itu saat berangkat ke sekolah, namun itu adalah jalur tercepat untuk sampai di sekolah. Dan dia selalu ada di depan perpustakaan itu, selalu saja ada yang sedang dikerjakannya, sehingga aku selalu melihatnya.

Siapa pun yang pernah lewat jalan itu dan melihat sosok hitam tersebut pasti akan memperhatikannya, mau atau tidak mau, yang sudah biasa atau yang baru pertama kali melihatnya. Kami semua pasti akan tetap memperhatikannya. Dia hanya saja begitu hitam, begitu legam, begitulah pendapatku saat itu.

Di sekolah aku sebangku dengan Marina, dia adalah siswi tercantik di kelasku, walaupun demikian kami tidak pernah bisa begitu akrab karena hal-hal yang menjadi perhatian kami berbeda. Suatu hari pada saat hari terakhir pengumpulan tugas pada jam pertama Marina terlambat, padahal setelah itu guru tidak akan menerima lagi, sebagai konsekuensinya yang tidak mengumpulkan tugas akan mendapatkan nilai akhir di rapor paling tinggi cuma enam. Guru bertanya kepadaku tentang dia, namun aku tidak tahu kabarnya. Jarak rumah dia ke sekolah kira-kira dua puluh menit jalan kaki, namun jika dia lewat di depan rumahku bisa sepuluh menit. Akan tetapi dia tidak pernah lewat di depan rumahku, padahal kadang-kadang aku berjalan dengan santai berharap bertemu dengan dia, teman sebangkuku, sayang itu tidak pernah terjadi.

Nenek berhenti sejenak mengambil gelas kanso kesayangannya dan meminum air putih beberapa tegukan, kemudian mengusap-usap ubun-ubunku.

 

“Tidak terasa ya, kau sudah hampir setinggi ibumu.”

Aku paling senang saat seseorang menyebut aku hampir setinggi orang tuaku hanya senyum-senyum bangga. Nenek masih memegang gelasnya dan melanjutkan ceritanya.

Saat kelas selesai aku bertanya kenapa dia terlambat, Marina hanya menjawab kalau dia terlambat bangun dan berangkat sekolah jam setengah delapan kurang sepuluh menit. Lalu aku berkata seharusnya kau tidak terlambat jika saja kau berangkat melewati rumahku. Aku tidak mendapatkan jawaban apa-apa hanya tatapan yang kelihatnnya tersinggung. Setelah itu dia berlalu meninggalkanku.

Hari itu ternyata tidak begitu bersahabat bagiku, sepulang sekolah setelah Marina meninggalkanku tanpa kata-kata, pria hitam itu ikut-ikutan tidak bersahabat denganku. Saat itu aku singgah di pustaka untuk mencari beberapa artikel dari koran lama.Aku dilayani dengan kasar oleh pria itu, sedangkan pemgunjung lainnya dilayaninya dengan sangat sopan. Sejak saat itu aku bersumpah dalam hatiku bahwa suatu hari nanti dia akan menyesal telah memperlakukanku sebagaimana yang telah dia lakukan saat itu.

Aku terus berkunjung ke pustaka jika tidak ada tugas baik dari rumah atau sekolah yang harus aku kerjakan, baik untuk sekedar membaca buku, atau sekedar melihat tampang tidak ramah pria hitam itu. Ada satu hal yang sekarang menjadi perhatianku dan membuat rasa kesalku berkurang terhadap pria itu. Ternyata hampir semua siswa dan siswi dari sekolahku diperlakukan sama oleh pria itu sebagaimana dia terus memperlakukanku. Ini membuat rasa penasaranku semakin menjadi-jadi, ada apa di balik sikapnya yang seperti itu. Setelah itu, ke perpustakaan pun tidak lagi hanya untuk meminjam buku atau membaca buku, memperhatikan pria itu menjadi salah satu aktivitasku di perpustakaan.

Terlalu sering memperhatikannya aku menjadi hafal cara berjalannya, bicaranya, cara dia menjepitkan kertas peminjaman buku di rak yang ada di belakang mejanya. Salah satu hal yang lebih menarik adalah lingkar hitam di bawah matanya, lingkaran hitam itu hitam, jauh lebih hitam dari pria tersebut. Aku takjub, ada sesuatu yang lebih hitam lagi daripada dia.

“Apakah tidak ada hal yang perlu kau kerjakan, selain tiap hari ke perpustakaan hanya duduk di belakang meja baca itu dan bengong sampai belasan menit?” Akhirnya suatu siang di bulan Mei dia bertanya padaku.

Nenekku tersenyum sambil memelintir lengan baju sebelah kanannya.

“Semua hal yang perlu kulakukan sudah ku selesaikan.” Aku menjawabnya. Dia meneruskan menyusun buku yang baru saja dikeluarkannya dari kardus dan mengelompokkannya sesuai dengan jenis bukunya dan tidak berbicara lagi. Hanya kalimat itu yang keluar dari mulutnya hari itu, tidak ada lagi sampai aku meninggalkan perpustakaan itu.

“Dulu aku pikir kau sering ke sini untuk meledek adik perempuanku.” Seminggu setelah hari itu dia memulai pembicaraan setelah kira-kira sepuluh menit aku duduk membaca salah satu buku terjemahan dari bahasa Belanda.

“Apa maksudmu?” Tentu saja aku bingung, aku bahkan tidak mengenal siapa dia, apalagi adik perempuannya dan apa masalahku sehingga aku meledek adik perempuannya.

“Kau satu sekolah dengan dia dan kami sangat berbeda satu sama lain kecuali kami mempunyai orang tua yang sama. Aku tidak tahu bagaimana kau memandangku, aku…kau bisa melihat aku sangat berbeda dengan kalian.” Dia mengangkat lengannya dan aku tahu maksudnya, kulitnya.

“Pertama kali aku melihatmu, aku memang merasa aneh tapi tidak merasa aku lebih baik darimu hanya saja kau terlalu hitam.” Aku berusaha menyebut kata hitam sewajar mungkin karena tidak ingin menyakiti perasaannya.

“Mungkin kau tidak, tapi sebagian orang kurasa merasa aku lebih hina dari mereka.” Di dalam suaranya masih terbersit keragu-raguan dan adik perempuanku merasa seharusnya bukan akulah kakak laki-lakinya, karena dulu semenjak kecil, temannya selalu mengejek dia karena aku, setelah itu dia perlahan-lahan mulai menjauhiku dan berusaha sebisa mungkin kami tidak terlihat bersama, bahkan sampai sekarang pun jika ada teman-temannya yang iseng mereka akan menggunakanku untuk mengisengi dia.” Dia terlihat begitu sedih ketika bercerita tentang hal tersebut.

“Oh…Marina….saat itu dia tidak menyadari kalau dia memiliki sesuatu yang sangat berharga.”

Nenek tersenyum kepadaku, senyum yang begitu menyejukkan, senyum yang bisa membuat seseorang merasa nyaman, yang bisa membuat seseorang merasa berani kembali menghadapi hidup yang telah hancur jadi puing-puing ketakutan.

“Aku terkejut mendengar saat dia mengatakan bahwa Marina adalah adik kandungnya, aku benar-benar tidak menyangka dan setengah tidak percaya, jangan-jangan dia mencoba untuk mengibuliku. Esoknya di sekolah Marina kutanyai dan dia hanya berlalu seperti saat kutanya kenapa dia tidak mau berangkat sekolah melewati rumahku. Dua hari kemudian saat aku ke pustaka seperti biasa, pria hitam yang aku belum tahu namanya tersebut telah menungguku. Tidak seperti biasanya, kali ini saat aku baru mendudukkan pantatku di kursi dia langsung menghampiriku dan bertanya dengan gusar.

“Apa yang kau katakan kepada dia?”

“Aku cuma bertanya apakah kau kakak laki-lakinya”

“Kan sudah ku katakan untuk tidak membawa-bawa diriku saat kau berbicara dengannya.”

“Tapi kau kakaknya!” Sanggahku tak mau kalah.

“Ah… sudahlah, kau tak mengerti.” Ucapnya dan meninggalkanku.

Aku terus main ke pustaka di mana pria hitam itu bertugas baik sekedar untuk duduk atau sekedar membaca koran atau buku-buku bacaan yang tidak membutuhkan pikiran serius untuk membacanya.

Si hitam itu, begitu terus aku memanggilnya karena tidak pernah sempat menanyakan namanya.

“Siapa namamu?” Aku memberanikan diri bertanya padanya, saat siang itu kulihat air mukanya tidak begitu rusuh.

“Namaku Rosiana, teman sebangkunya Marina.”Aku memperkenalkan namaku setelah dia beberapa saat diam saja tidak menjawab pertanyaanku.

“Warta.” Jawabnya singkat.

Setelah itu tidak ada lagi percakapan di antara kami hanya beberapa dialog singkat yang putus-putus karena dia harus melayani pengunjung perpustakaan yang kebetulan ramai pada hari itu.

Setelah saat itu kami menjadi akrab dan sering bercerita satu sama lain. Aku bercerita bagaimana aku yang anak tunggal ingin mempunyai kakak atau adik yang bisa menjadi teman di rumah, baik untuk bercerita, bermain atau pun berbagi. Sebaliknya dia juga bercerita kalau dulu dia pernah begitu sedih karena adiknya tidak mau atau malu jika mereka bersama dan berharap dia tidak mempunyai saudara saja. Dia juga bercerita kalau orang tuanya selalu dan tidak pernah berhenti untuk mengingatkan kalau adiknya harus berusaha untuk menerima keadaan kakaknya, namun adiknya tidak pernah bisa, lebih tepatnya belum.

“Lingkar hitam di bawah matamu lebih hitam dari dirimu.” Sekarang aku tidak sungkan lagi menyebut kata hitam kepadanya.

Mengenai hal tersebut dia menjelaskannya kepadaku sewaktu dia menerima honornya sebagai pegawai perpustakaan dan mentraktirku semangkok bakso di warung bakso di belakang perpustakaan tersebut.

Kali ini nenek bercerita tanpa berhenti.

Katanya, keinginannya untuk hidup lebih lama dari orang seusianya yang menyebabkan lingkaran hitam itu. Awalnya aku tidak mengerti apa hubungan hidup lebih lama dengan lingkaran hitam tersebut tapi setelah dia menjelaskannya aku jadi mengerti. Dia bercerita bahwa dia mempunyai penyakit yang belum ditemukan obatnya, sesuatu terus membengkak dan mengeras dalam perutnya.

“Saat ini kita menyebutnya kanker.“

Nenek berhenti dan melihat lirih kepadaku.

Dokter yang mengobatinya sebelumnya juga pernah mempunyai pasien yang mempunyai penyakit yang sama seperti dia, namun pasien tersebut meninggal setelah beberapa bulan kemudian. Mengetahui kenyataan tersebut dia memutuskan untuk tidak melanjutkan kuliah walaupun otaknya dan nilainya mencukupi untuk melanjutkan kuliah. Semenjak saat itu dia hanya meluangkan sedikit waktunya untuk tidur, dia pikir dengan sedikit tidur, dia bangun atau hidup lebih lama karena menurutnya saat tidak tidur lah dia hidup dan saat tidur dia mati. Dia ingin menikmati hidupnya lebih lama, begitu katanya waktu itu, saat dia berkata seperti itu kulihat raut mukanya lebih cerah dari biasanya.

Oleh karena hal tersebut, dia banyak menghabiskan waktunya untuk membaca, berjalan-jalan ke pelosok kota, merenung, melakukan apa saja yang dia rasa bisa dikerjakannya sambil menjaga matanya agar tetap terjaga. Katanya, sewaktu dia berjalan-jalan dia sering menemui anak-anak yang tidak bisa baca dan tulis, kemudian dia memutuskan untuk mengajari mereka dan itu dilakukannya setelah pustaka tutup. Dia sering membawa buku-buku dari pustaka untuk dibaca di mana saja, perlahan-lahan pikirannya terbuka, cara pandangnya menjadi berbeda, dia menjadi lebih optimis dan hasilnya dia memutuskan untuk melanjutkan pendidikannya dengan kuliah pada penerimaan selanjutnya.

Waktu dia bercerita mengenai hal tersebut aku masih di tengah tahun kedua sekolah lanjutan dan dia sudah satu tahun lebih dulu menamatkan sekolah.

Awalnya aku asal bertanya mengenai beberapa soalan dalam pekerjaan rumahku yang tidak ku mengerti kepadanya. Dengan senang hati dia menjelaskannya padaku sehingga aku mengerti bagaimana cara untuk memecahkan soalan tersebut, cara menjelaskannya kepadaku berbeda dengan yang diajarkan guru di sekolah, pendekatannya dan cara pandang penjelasannya kurasa lebih siswawi sehingga aku lebih cepat mengerti. Nina yang kebetulan berada di sana memperhatikan Warta saat menjelaskannya kepadaku.

“Aku mengerti sekarang.” Ucap Nina sambil mengangguk-angguk. Aku hanya saling bertukar pandang antara Warta dan Nina. Begitupun Nina dan Warta, kami bertiga saling pandang bergantian, lalu sama-sama tertawa.

Tidak butuh waktu lama sehingga berita itu tersebar kepada seluruh teman-teman di kelas tentang hal tersebut termasuk kepada Marina, perlahan-lahan pustaka mulai sering dikunjungi teman-temanku yang kurang mengerti tentang pelajaran di kelas. Karena Warta dengan senang hati mengajarkan mereka. Akhirnya terbentuklah grup belajar yang waktu itu kami sepakati untuk diadakan dua kali seminggu di pustaka tersebut, bahkan kepala perpustakaan saat itu Pak Satyo juga sangat senang melihat antusias kami untuk belajar, kadang-kadang dia juga ikut membantu saat kami membahas pelajaran bahasa dan bahasa asing.

Agaknya melihat semua teman-temannya mulai dekat dengan kakaknya, dan tak pernah sekalipun seorang dari temanku mencela Marina karena kakaknya yang hitam. Sedikit demi sedikit rasa angkuhnya berguguran seperti daun-daun dalam lukisan yang berguguran dalam lukisan tanpa pengarang yang hanya ada tulisan hersft yang terpampang di bawah jam dinding di dinding bagian belakang ruang baca di perpustakaan tersebut.

Hari itu seperti hari biasanya siang yang panas namun terasa damai karena angin bertiup dengan lembut melewati jendela nako kelas kami. Pak Raksa menutup pelajaran fisika sekaligus pelajaran terakhir dengan senyum puas, dia merasa senang karena semuamya bisa mengerjakan soalan yang diberikannya. Bahkan aku rasa aku masih bisa melihat air muka bahagianya saat dia membelakangi kelas ku dan memasuki ruang guru yang berseberangam dengan kelasku. mungkin energi bahagianya begitu besar sehingga meluap kemana-mana sampai tertinggal di kelas. Aku ikut senang, atas dia, atas Warta, atas teman-temanku. Rasanya kalau terus begini, kami tidak akan kesulitan untuk berdiri sama tinggi dengan negara Jepang, Inggris dan Amerika.

Aku yang terus berkhayal tidak menyadari kalau semuanya sudah meninggalkan kelas, aku pun bergegas keluar. Aku tidak akan ke pustaka hari ini, karena aku sudah berjanji untuk membawakan barang dagangan ibu ke pembeli yang memesan banyak untuk dibawanya ke luar kota yang akan dijualnya di sana.

“Kau mau ikut ke rumahku?” Aku dikejutkan oleh suara Marina saat keluar dari kelas, rupanya dia sudah menungguku dari tadi di luar kelas.

Selama di rumahku Marina tidak banyak bicara dan hanya menjawab secukupnya dan sesingkat mungkin. Aku telah menjelaskan kepadanya bahwa aku akan membantu ibuku terlebih dahulu dan dia tidak keberatan untuk menungguku bahkan menolongku.Dia mengatakan bahwa dia ingin belajar dengan kakaknya dan dia agak canggung kalau sendirian karena apa yang telah terjadi selama ini.

Siang itu di rumah Marina, kenyataan yang terjadi ternyata begitu jauh dari yang kuharapkan. Warta terus menjelaskan namun, Marina tetap tidak bisa mengerti mengenai pelajaran tersebut. Aku pun berusaha membantu Warta tapi keadaannya malah semakin rumit, Marina seperti tidak berada di sana, suara-suara kami tidak bisa menyentuhnya.

“Aku…..aku hanya ingin minta maaf.” Ucap Marina. Dia menangis, hidungnya memerah, dan dia benar-benar sangat cantik, aku baru kali ini bisa menatapnya dengan lama, karena sebelumnya aku tidak pernah berani untuk menatapnya. Dan saat ini dia kelihatan begitu cantik dan menyedihkan pemandangan yang akan membuat sesuatu terseret ke dalam kesedihannya. Aku menatap Warta, mereka memang begitu berbeda, aku juga tidak yakin bagaimana aku akan bersikap jika aku berada di posisi dia dengan segala keadaannya pada saat itu.

Aku hanya menatap pria hitam yang di bawah matanya ada lingkar hitam tersebut dan mengucapkan selamat dengan berbisik dalam hatiku. Sejak saat itu kami bertiga menjadi begitu dekat. Aku, Marina dan Kakekmu.

Sejak kakek meninggal baru kali ini aku melihat nenek menangis.

Advertisements

9 thoughts on “Pria Yang Di Bawah Matanya Ada Lingkar Hitam

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s