Pensil 2B

“Aku bersyukur dan menyukai pekerjaan ini.” Katanya.

“Aku bersyukur mempunyai pekerjaan, bukan karena banyak orang yang tak mempunyai pekerjaan.” Tambahnya.

“Apa maksudmu berkata begitu?” tanyaku.

“Tidak ada maksud apa-apa.”Jawabnya.

“Lalu sekarang apa yang akan kaulakukan?”

“Makan, aku lapar.” Dia menarik-narik benang dari tali sepatunya yang hampir putus.

“Bukan itu jawaban yang kuinginkan.” Ucapku kesal.

“Kenapa jawabanku harus sesuai dengan keinginanmu?” Dia berhenti menarik benang tersebut dan memandangku dengan tajam.

“Kita tidak membicarakan tentang apa yang akan kau lakukan setelah ini, setelah kita pergi dari tempat ini.” Sanggahku.

“Bukankah kau sudah punya jawaban yang kau inginkan?”

“Aku memang menginginkan suatu jawaban, benar-benar jawaban, bukan sesuatu yang tiba-tiba saja ada dipikiranmu dan hal itu sama sekali bukan berarti aku punya jawaban.”

“Lalu bagaimana seharusnya aku menjawab pertanyaanmu?”

“Ah lagi-lagi, sekarang kau mencoba menjebakku!!”

Dia diam, tapi kemudian berkata,

“Sebenarnya selama ini……”

Dia tidak melanjutkan kalimatnya melainkan cuma diam dan tersenyum. Senyuman yang sama seperti beberapa waktu yang lalu saat aku baru mengenalnya. Dia kemudian bersandar merebahkan badannya ke pohon yang ada di belakangnya. Aku sedikitpun tidak mau memalingkan pandanganku dari wajahnya, untuk tiga tahun ke depan mungkin hanya beberapa hari lagi aku bisa menikmati wajahnya seperti saat ini di hadapanku.

***

Aku adalah orang yang berharap kisah cintaku seperti dalam roman-roman. Pertemuan-pertemuan yang tidak disengaja, kebetulan-kebetulan yang indah, atau kejadian-kejadian yang aneh yang akan mempertemukanku dengan seseorang yang nanti akan menjadi sebuah cerita cintaku. Akan tetapi hal seperti itu agaknya enggan menghampiriku. Aku terus menunggu, terus berharap suatu saat aku akan menemui hari tersebut, tapi tetap tidak ada yang terjadi.

Lalu aku berfikir untuk menciptakan kebetulan-kebetulan, ketidaksengajaan, seperti dalam roman-roman yang pernah kubaca, atau film-film yang pernah kulihat, tidak ada salahnya. Walaupun kisahnya tidak akan sempurna, setidaknya setelah babak pertama aku reka, aku akan membiarkan babak selanjutnya berjalan sendiri tanpa naskah.

Sepuluh bulan yang lalu, saat mengikuti tes di sebuah perusahaan, di sana aku pertama kali melihatnya. Hari pertama, kedua, ketiga, tidak ada yang terjadi. Akan tetapi pada hari keempat juga tidak ada yang terjadi, hari itu berlalu seperti hari sebelumnya. Kemudian pada hari kelima juga sama dengan hari sebelumnya tidak ada yang terjadi. Sepertinya Tuhan tidak mau memberikan satupun kesempatan untukku berkenalan dengannya. Saat itu, tidak ada buku catatan yang tercecer, tidak ada dompet yang ketinggalan, tidak ada handphone yang terjatuh, padahal aku sudah mengawasi dia dengan setia dan selalu siap kalau saja salah satu hal itu terjadi atau hal lainnya sebagai alasan aku bisa berkenalan dengannya.

Tidak ada jalan lain, akulah yang harus menciptakan kesempatan itu. Hari keenam, seperti biasa aku duduk di belakangnya. Saat panitia tes memberikan waktu untuk ke belakang, hampir sebagian peserta tes keluar dan dia salah satunya. Setelah dia keluar dan aku benar-benar yakin tidak ada yang memperhatikan bangkunya, wshh…!!! Secepat kilat aku menyambar pensil di mejanya. Lalu aku keluar, aku membuangnya ke tempat sampah.

Selanjutnya mungkin kau sudah bisa menebak bagaimana jalan ceritanya.

Sepuluh hari yang lalu kami menikah, dan tiga hari lagi dia harus pergi selama tiga tahun, tanpa ada kemungkinan kami bisa bertemu sebelum tiga tahun itu selesai.

***

“Ah…” Dia tidak melanjutkan kalimatnya yang tadi terputus, melainkan melemparkan sebuah bungkusan.

Dia tersenyum, aku tidak tahu apakah itu sebuah senyuman sinis, atau senyuman seperti biasa yang selama ini selalu dia tunjukkan padaku, aku tidak bisa membedakannya karena begitu kaget setelah membuka bungkusan itu dan melihat sebuah pensil, sebuah pensil. Pensil 2B yang dulu kupinjamkan kepadanya.

“Dulu ada seseorang yang berbaik hati meminjamkan pensil itu kepadaku, disaat aku kehilangan pensilku.” Dia berucap tanpa mengalihkan sedikitpun pandangannya dari mataku. Aku mencoba untuk tersenyum

“Dan sebagai imbalan atas kebaikannya dia memintaku menuliskan nomor telfonku, dan menyimpan pensil itu. Sekarang aku ingin memberikan pensil itu kepada seseorang dan berharap dia tidak menghilangkan pensil itu seperti dulu bagaimana dia telah menghilangkan pensilku.”

“Bukan begitu sayang?” Aku diam, tidak tahu apa yang harus kukatakan. Saat aku mulai ingin berbicara kurasakan bibirku bergetar hebat. Sempat ada keinginan untuk mengelak, untuk menyimpan rahasia itu sedikit lebih lama. Dia terus memandangku, memacu jantung ini berdebar lebih kencang lagi. Dia mengetahuinya entah bagaimana sekarang,aku menjelaskan semuanya kepadanya.

“Yah,……”Akhirnya hanya itu yang keluar dari mulutku. Aku cuma menghirup nafasku dalam-dalam dan menghembuskannya keluar. Tidak ada yang perlu disanggah atau dijelaskan lagi, dia sudah mengetahui semuanya.

“Kau tahu…? Kenapa baru sekarang? Kenapa dulu kau mau saja…..? ”

“Aku juga tak ingin membiarkanmu berlalu begitu saja.” Jawabnya sambil tersenyum.

“Kau gila!”

“Tidak, aku hanya lapar.”

Advertisements

2 thoughts on “Pensil 2B

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s