Payung

“Ingat, ini payung kakek yang ketiga jangan sampai seperti kemarin-kemarin lagi!” Ucapnya sambil membenarkan seragamku. Aku memegang payung itu, sepertinya payung ini lebih berat dari payung-payung yang sebelumnya kuhilangkan, dan ada kesat bekas goresan di gagangnya.

“Baik kep.” Jawabku sambil tersenyum.

Sekarang sedang musim hujan, tidak hanya di Padang tapi hampir di seluruh wilayah Indonesia. Oleh karena itu hampir tiap hari aku disuruh kakek membawa payung ke sekolah.

“Assalammu ‘alaikum.”

“Wa ‘alaikum salam.” Jawab kakek.

Pagi ini hujan belum turun, langit sudah gelap dan suhu kota padang mulai dingin. Aku menyukai saat berjalan kaki dari rumah menuju pemberhentian bus melewati jalan Veteran, kemudian belok kiri melalui jalan Ahmad Yani, walaupun ada jalan lain melalui sisi belakang rumah kakek yang lebih dekat jaraknya. Aku sendiri tidak tahu alasannya kenapa, tapi aku menyukai jika melewati  kedua tempat ini dengan berjalan kaki, apalagi jika saat itu sedang gerimis.

***

Meskipun jam sudah menunjukkan pukul setengah lima sore, mendung masih belum mengijinkan matahari untuk menjenguk bumi kota Padang walaupun hanya untuk sesaat. Hanya aku yang kelihatan senang dengan cuaca seperti ini, buktinya jalan yang kulewati saat ini tidak banyak orang yang berlalu lalang seperti biasanya. Sepertinya mereka lebih senang menghabiskan waktunya di dalam rumah.

Setiap hari Jum’at aku mengikuti kegiatan ekstrakurikuler pramuka dan akan pulang lebih sore dari biasanya. Hari ini aku lebih bersemangat berlari-lari kecil, dan bersenandung lagu yang beberapa minggu belakangan sering kudengar di radio, bermimpi-nya Base Jam. Sambil terus melenggangkan tanganku kiri dan kanan aku membayangkan kegiatan hiking yang pasti akan menyenangkan esok hari.

Kadang ingin pergi

Kadang ingin sendiri

Sampai kini ku tak tahu pasti

Aku hanya bisa bermimpi

Kuhanya ingin hidup bahagia

Aku hanya bisa bernyanyi

Aku tak tahu apa yang kucari di muka bumi

 

Hanya ini bagian yang aku hapal sekaligus paling aku sukai, aku sendiri tidak begitu mengerti maksud dari lagu ini, namun aku terus menyenandungkannya hingga aku memasuki kamarku. Aku bergegas membuka buku agenda pramukaku yang gambar sampulnya Sonic. Sebagian besar perlengkapan aku sudah punya dan sebagian lagi bisa diambil di warung kakek (hehehehe).

Hanya rengkot saja yang harus aku beli, aku harap harganya tidak lebih dari dari enam belas ribu rupiah, karena tabunganku bulan lalu baru terkumpul enam belas ribu rupiah.  Sebenarnya aku masih belum tahu rengkot ini apa, tadi hanya pimpinan barung yang diberitahu oleh pembina dan tiap pemimpin barung yang ditugaskan untuk memberitahukan anggotanya. Namun, saat aku bertanya rengkot itu apa Herman cuma bilang kamu beli saja di toko perlengkapan pramuka. Aku tahu pasti seperti dulu lagi, Herman sebenarnya tidak tahu, tapi sok tahu. Ini sebenarnya satu hal yang tidak kusukai dari pimpinan barung kami, dia sok tahu dan selalu malu bertanya, apa salahnya sih bertanya untuk hal yang tidak kita ketahui. Pokoknya perlengkapan kalau hujan turun katanya saat kutanya lagi untuk kedua kalinya apa itu rengkot.

Apa ya…yang dipakai waktu hujan turun? Payung…… apalagi ya…..Hah!!!! Payung, payung, payung, di mana payungnya, tadi aku ke sekolah membawa payung. Aduhhhh!!!! Bagaimana ini, ini sudah yang ketiga kalinya aku lupa dengan payung yang kubawa. Mungkin kali ini kakek akan marah karena dia tadi pagi sudah mewanti-wanti aku supaya payungnya jangan sampai hilang lagi. Mana tabunganku cuma ada enam belas ribu, cukup nggak ya kira-kira kalau beli payung sama rengkot. Huhhh..

Aku segera berlari keluar rumah menuju ke pasar.

“Minyak tanah sa liter kep, bisuak wak bayia(1).” Aku mendengar suara da Ujang ketika lewat di depan warung kakek. Aku berjalan sedemikian rupa supaya tak terlihat dan tak terdengar oleh mereka.

Semua orang di sini memanggil kakekku dengan sebutan “kep”. Ibuku pernah bercerita kalau panggilan itu di dapatkan kakek sewaktu masih ikut perang kemerdekaan. Kakekku yang sejatinya adalah pelayan di salah satu warung kopi yang terkenal di Padang, dipanggil untuk ikut mengangkat senjata. Saat itu kakekku yang masih berumur 20 tahun dan sudah menjadi yatim piatu lima tahun sebelumnya bertempur untuk pertama kalinya, dia maju seperti orang kesetanan, tidak peduli dia akan mati, yang ada di pikirannya saat itu hanya berjuang, jika saja gugur tidak ada seorangpun sanak atau saudara yang bakal kehilangan jika dia gugur di medan perang, karena dia telah sendiri beberapa tahun belakangan. Akan tetapi semua yang dilakukannya malah menambah semangat teman-temannya, sehingga pertempuran saat itu bisa dimenangkan walau ada beberapa teman kakek yang gugur dan terluka. Semenjak saat itu teman-temannya memanggilnya captain (kep), karena berhasil memimpin semangat teman-temannya untuk pertempuran tersebut. Sampai sekarang panggilan itu tetap melekat dan aku sendiri, cucunya juga memanggil dia dengan panggilan tersebut.

Aku terus berlari ke arah terminal, berharap toko yang menjual payung belum tutup. Di terminal aku mencari toko-toko yang mungkin menjual payung. Aku hanya menemukan satu toko mainan anak-anak yang masih buka yang kebetulan juga menjual payung. Aku mencari-cari payung yang agaknya mirip dengan payung kakek, tapi aku tidak menemukannya. Pemilik toko tersebut menyarankan untuk mencari di sebuah toko di pasar setelah aku menjelaskan ciri-ciri payung yang ingin aku beli. Akhirnya aku berlari menuju pasar untuk mencari toko tersebut. Alhamdulillah ternyata tidak sulit untuk mencari toko tersebut, karena toko tersebut memang khusus menjual payung.

Aku kesulitan mencari payung yang mirip dengan payung Kakek tapi akhirnya kutemukan juga. Lima ribu rupiah, cukup mahal tapi tak apa-apa aku masih punya sebelas ribu lagi untuk membeli rengkot. Akan tetapi baru saja aku keluar dari toko tersebut aku merasa ada yang kurang dengan payung ini, payung ini terasa ringan, tidak berat dan kokoh seperti payung yang tadi pagi diberikan kakek kepadaku. Aku kembali lagi.

“ Uni, ado yang labiah barek dari iko? (2)”

Penjaga toko itu pergi ke dalam ruang lain dan setelah hitunganku sampai keseratus tujuh puluh dia keluar membawa payung yang sama dengan yang aku pegang.

“Iko(3)?”

“Iyo(4).” Jawabku setelah memegangnya beberapa saat.

“Kalau yang iko labiah maha diak, kalau yang iko sapuluah ribu(5).” Ucapnya.

“Ndak baa doh, ni(6).” Aku langsung membayarnya.

Pukul enam kurang sepuluh menit, uang di kantongku hanya tersisa kira-kira enam ribu rupiah lebih sedikit ditambah sisa uang jajan tadi pagi. Sekarang ke toko perlengkapan pramuka mudah-mudahan uangnya cukup dan tokonya masih buka.

***

“Brmm….cesh.” Motor tua bapaknya Arman mengerang sedih dan langsung mati saat diberhentikan di depan warung kakekku. Tadi aku singgah dulu ke toko bapaknya Arman untuk menemui Arman dan bertanya mengenai rengkot, karena setiap sehabis sekolah Arman selalu ke toko terlebih dahulu untuk membantu bapaknya, jika tidak ada yang perlu dibantu dia akan membuat PR atau mengulang pelajaran di sana, karena dia juga belum mendapatkan rengkot kami sepakat untuk pergi ke toko perlengkapan pramuka dan beruntung bapaknya mau mengantar kami. Tapi sayang kami terlambat toko itu sudah tutup, dan baru buka kembali hari Senin. Akhirnya aku diantar pulang oleh Arman dan bapaknya.

Aku langsung menuju ke rumah, aku tak ingin kakek melihat atau memegang payung yang baru aku beli sebelum aku buat semirip mungkin dengan payung yang diberikannya tadi pagi kepadaku. Bapaknya Arman langsung bercakap-cakap dengan kakek. Arman Cuma melongo melihat aku segera kabur ke dalam rumah.

Payung segera ku gosok-gosokan ke lantai dan ke dinding agar kelihatan lusuh. Kemudian gagangnya ku gerus dengan pisau tumpul agar terasa kesat seperti payung tadi. Setelah berulang kali meyakinkan diriku bahwa payung tersebut sudah benar-benar mirip dengan yang tadi pagi, akhirnya aku meletakkan payung tersebut di belakang pintu masuk ke rumah, di tempat biasa kakek menaruh payung, dan bergabung dengan Arman dan bapaknya di warung kakek.

***

Masalah rengkot telah selesai. Kakek yang menyelesaikan masalah ini, Karena dia sudah terbiasa dengan istilah rengkot saat ikut berperang dulu.  ternyata rengkot yang dimaksud adalah raincoat. Akan tetapi hiking hari ini tidak seperti yang kubayangkan sebelumnya. Secara keseluruhan kegiatannya menyenangkan hanya suasana hatiku yang tidak enak. Semuanya berawal sejak tadi pagi sebelum kakek membuka warung, pagi tadi hujan cukup lebat, kakek mengambil payung, dan saat akan membukanya dia melihat ke gagangnya dia terdiam kemudian memanggilku. Dia hanya diam saat aku datang, mendengus, aku tidak tahu apakah itu dengusan marah, kesal atau kecewa. Karena dia tetap diam, aku membuka pembicaraan dan mengakui semuanya. Akhirnya dia berkata tidak apa-apa, tapi sikapnya menunjukan kalau sebenarnya ada apa-apa. Oleh karena itu seharian ini aku merasa tidak nyaman.

***

Seminggu telah berlalu setelah masalah payung tersebut. Kakek sudah terlihat seperti biasa lagi, tapi aku masih merasa tidak enak hati. Hari ini hari Minggu, biasanya aku suka duduk di warung, namun kali ini aku memilih untuk tetap di kamar. Bertemu dengan kakek sungguh sangat membuatku merasa tidak nyaman.

“Klik.” Kulihat wajah kakek di depan pintu.

“Maaf kek..” Terasa sulit saat ini untuk memanggil kakek dengan “kep”. Aku tak sanggup lagi, aku meneteskan air mata. Hanya kata-kata itu yang keluar dari mulutku. Dia berlutut di depan kursiku dan memelukku.

“Sudahlah, payung itu memang istemewa buat kakek, tapi bukankah kau telah menggantinya.” Rupanya kakek tahu kalau aku masih memikirkan masalah tersebut.

“Tapi aku bisa melihat kakek sangat sedih sekali, saat mengetahui payung itu telah hilang.” Sanggahku.

“Bagaimanapun, apa yang sudah terjadi, telah terjadi.” Kalimat itu dibisikannya padaku pelan sekali sambil memelukku lebih erat lagi.

“Memang payung itu memang sedikit berarti bagi kakek, tapi kakek mendapatkan sesuatu yang lebih berharga.” Dia berhenti sejenak

“Setelah payung itu hilang kakek tahu, kakek memiliki seorang yang bisa dibanggakan, seorang yang berani bertanggung jawab ada di sini menemani kakek.” Dia melepaskan pelukannya dan mengusap air mataku dengan kedua jempolnya yang sudah keriput, tapi aku malah menangis semakin jadi kemudian memeluknya lebih erat lagi.

“Nah semua baik-baik saja kan?” Dia melepaskanku dan berdiri. “Sekarang kakek butuh bantuan di warung.”  Ucapnya seraya berbalik.

“Kep…….” Dia berbalik, aku naik ke atas kursi. Aku memeluknya erat, rasanya beban ini berlalu saat semakin erat aku memeluknya.

“Ma…erh…Terima kasih.” Aku merasakan sesuatu menetes di punggungku.

***

Jam 12:45, hari ini aku seperti orang baru yang kembali terlahir. Masalah dengan kakek sudah selesai. Sebentar lagi aku akan turun dari bus, tapi hujan masih belum berhenti. Kali ini payung yang kubawa tidak hilang, hanya saja tadi aku dan Bu guru pulang bersama. Dia tidak membawa payung jadi kami menunggu bus bersama saat hujan mulai turun. Bus yang menuju ke tempatku datang lebih dulu, jadi payung kutinggalkan bersama Bu guru.

Akhirnya sampai juga, begitu turun dari bus hujan langsung mengguyurku, ternyata lebi h lebat dari yang terlihat dari balik jendela bus.

“Oi diak, pakai payuang ko!(7) .” Kernet bus melemparkan sebuah payung kepadaku.

“Punyo sia ko da(8)?”

“Pakai jo lah(9).”

“Mokasi da(10).”

Badanku sakit ditusuk –tusuk oleh hujan yang begitu lebat, segera kubuka payung yang di berikan kernet bus tersebut. Sebenarnya tadi aku sempat berfikiran akan main hujan-hujanan sebentar sebelum pulang, tapi begini memang lebih baik, tubuhku tidak sakit lagi di tusuk-tusuk oleh hujan lagi. Setelah beberapa menit berjalan aku baru menyadari kalau payung ini adalah payung kakek yang terakhir hilang olehku, payung yang berat, gagangnya yang kesat. Aku berhenti dan terhenyak, ternyata gagangnya tidak hanya sekedar kesat. Dan ini yang menyebabkan kakek tahu kalau payungnya telah aku ganti dengan yang lain.

“Rosmaniar.” Tiba-tiba di pipi kiriku terasa mengalir air yang lebih hangat.

“Nenek.”

(1) Minyak satu liter kep, besok saya bayar.
(2) Uni (mba), ada yang lebih berat dari ini?
(3) ini
(4) iya
(5) Kalau yang ini lebih mahal dik, kalau yang ini sepuluh ribu
(6) Nggak apa-apa uni
(7) Oi dik, pake payung ini!
(8) Punya siapa mas?
(9) Udah pake aja
(10) Makasi mas
Advertisements

3 thoughts on “Payung

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s