Kisah Gilang dan Gilung

Penduduk Desa Sudahadasejaklama tinggal di lereng-lereng gunung. Rumah mereka berupa lubang-lubang menyerupai gua yang mereka buat bersama-sama dengan melobangi gunung. Hanya perangkat-perangkat desa yang tinggal di gua-gua asli. Jika anda sempat berjalan-jalan ke desa tersebut, anda akan melihat pada bagian atas lubang-lubang tersebut ada nama keluarga mereka yang hanya terdiri dari dua piku (huruf) seperti NG (baca ge en), NY (baya  en ye), VB (baca be ve). Nama keluarga tersebut dibaca berdasarkan piku pertama yang muncul dalam bejaad (abjdad mereka). Lalu bagaimana jika nama keluarga mereka BV? Apakah nama keluarga mereka juga be ve? Tidak, jika urutannya sudah benar maka nama keluarga mereka koku BV (memang be ve). Begitulah aturannya saat itu.

Kisah ini tentang keluarga NG (kok en ge kan sudah dibilang tadi bacanya ge en, diulang ya…..)

Kisah ini tentang keluarga NG (Lha kok masih ada yang bilang en ge?!!  Ayo sekali lagi)

Kisah ini tentang keluarga NG (Nah…. Gitu dong…baru bener) yang tinggal di lubang bagian utara paling bawah Gunung Ldertgu (ledertegu).

Desa Sudahadasejaklama, di situlah keluarga NG menetap. Desa ini merupakan sebuah desa dari sebuah Republik Yangnamanyadulubukanindonesia. Kisah ini terjadi pada zaman dahulusaja.

***

“Pakurang….Pakurang… gedo q bingka, Makurang sen caplos…” Teriak Galugavb. Galugavb merupakan anak tertua dari kelurga VB anak dari Palugavb dan Malugavb, yang tinggal beratasbawahan dengan keluarga NG. Galugavb baru saja menyuruh Pakurang pulang ke rumah, karena Makurang akan melahirkan. Pakurang segera berlari pulang ke rumah meninggalkan pekerjaannya di ladang.

“Galugavb, gedo q bingka caplosana!  Lopitu kwerde bi anka sen caplos. Karapa!” Galugavb pergi ke rumah bidan! Tolong bilang istriku akan melahirkan. Cepat!

***

“Lopitu delana p hode bingka!” Tolong tunggu di luar rumah! Perintah caplosana tegas kepada Pakurang.

Satu jam berlalu yang terdengar dari dalam rumah hanya erangan-erangan Makurang yang membuat hati Pakurang rusuh. Ketika Pakurang mencoba mengintip ke dalam rumah tiba-tiba seseorang memegang bahunya.

“Delana!” Ucap Pajurads.

Pajurads dan Majurads, adalah Bapak dan Ibu  Makurang. Mereka baru saja tiba di rumah menantunya, untuk menanti cucu pertama mereka.

“P panya, M manya…. bi anka..” Bapak mertua, Ibu mertua….istriku… ucap Pakurang cemas, sambil terus memandang cemas ke dalam rumah. Akhirnya setelah menunggu selama tiga jam dan matahari tepat berada di atas kepala mereka, suara erangan Makurang berhenti yang terdengar hanya tangis bayi. Pakurang lega sekaligus cemas karena setelah mendengar suara bayinya suara Makurang tidak terdengar lagi. Dia segera berlari ke dalam rumah dan berteriak-teriak.

“Bi anka…..bi anka!!”

“Ju….De lioga kinka, ju. De anka buyse sezanbgu.” Diam….Kau seperti bayi, diam. Istrimu cuma pingsan.” Caplosan bicara dengan gusar sambil membersihkan bajunya yang penuh dengan darah, sementara itu asisten caplosan membersihkan bayi Pakurang. Pajurads dan Majurads ikut masuk ke dalam rumah, mereka tersenyum kepada caplosan, caplosan yang sudah tua itu membalas senyuman mereka, kemudian menyalami mereka dan mengucapkan selamat atas kelahiran cucu-cucu pertama mereka yang kembar.

Makurang akhirnya perlahan mulai membuka matanya, dia melihat Pakurang di depannya.

“Bi a..nk….pi  ki….n..ka…” Su…ami..ku…ana…k…. ki..ta…Ucapnya terpatah-patah, sambil melihat sekeliling mencari-cari bayinya. Pajurads dan Majurads segera menghampiri anak mereka dan masing-masing menggendong satu bayi.

“M ma….P p..a, Bi ank… pi kin…ka?”I..bu..Ba…pak, Suamiku…anak ki..ta?

Pakurang dengan mata berkaca-kaca bahagia tersenyum dan mengangguk-angguk kepada Makurang. “Nai, nai, pi kinka trudi…”Benar, benar anak kita kembar.

***

Lima tahun berlalu, Gilang dan Gilung tumbuh menjadi anak-anak yang elok rupanya, semua penduduk desa sepakat rupa mereka tidak dapat dibedakan satu sama lain . Akan tetapi sebenarnya mereka sangatlah berbeda dari segi kemampuan. Menurut Pakurang, Gilung yang lebih dahulu muncul ke dunia tidak sehebat Gilang. Gilang saat berumur satu tahun sudah mampu berlari sementara Gilung butuh dua tahun untuk bisa berjalan. Gilung baru bisa mengeja bejaad beberapa minggu yang lalu sedangkan Gilang sudah bisa semenjak dua tahun yang lalu. Pakurang sangat membangga-banggakan Gilang kepada semua orang, tetapi jika seseorang menyinggung tentang Gilung dia akan langsung mengalihkan pembicaraan, seolah-olah Gilung merupakan cela bagi hidupnya yang sempurna bersama anak kesayangannya Gilang.

Perlakuan Pakurang terhadap mereka berdua sangat berbeda. Gilang sangat dimanja, sering diberikan sesuatu jika Pakurang pulang dari desa di tepi pantai. Jika ada kegiatan-kegiatan desa mereka, maka Gilang yang selalu dibawa, Gilang yang lima tahun sudah bisa membaca layaknya anak sembilan tahun, Gilang yang sudah bisa diajak berburu, Gilang yang hanya perlu sekali belajar untuk mengerti sesuatu, Gilang yang……Begitulah penduduk desa selalu memujinya, jika bertemu dengan Gilang. Ini membuat Pakurang merasa hebat, merasa kalau dia yang telah berjasa sehingga Gilang bisa seperti itu, padahal itu hanya anugrah dari Tuhan semata.

Pakurang sering merasa kesal terhadap Gilung karena tidak bisa seperti Gilang. Kadang-kadang dia mencari-cari cara memarahi Gilung karena kesal kenapa dia tidak seperti Gilang, tetapi tetap dia tidak bisa marah. Anak itu selalu tersenyum, tidak pernah mengeluh, dan akan dengan senang hati mengerjakan apa yang disuruh olehnya  atau Makurang. Walaupun sering ada kesalahan dalam setiap pekerjaan Gilung tetap dia tidak bisa marah, karena dia tahu anak itu selalu berusaha sebaiknya tanpa pernah sedikitpun sengaja untuk berbuat kesalahan. Gilung, anak itu, hanya saja dia tak bisa apa-apa.

Sekarang Gilang pun mulai sama seperti Pakurang, dia malu terhadap Gilung. Hal ini berawal sejak hari pertama sekolah, saat itu semua murid diminta untuk menyebutkan namanya dan nama keluarganya, Gilung selalu salah menyebutkan nama keluarga dia selalu menyebut nama keluarganya NG(en-ge) padahal seharusnya dibaca ge-en, dan setelah satu minggu Gilung baru bisa menyebutkan nama tersebut dengan benar. Gilang benar-benar malu dengan kejadian tersebut karena Gilung begitu bodoh pikirnya. Tidak hanya itu dia juga mulai suka menyuruh Gilung untuk melakukan pekerjaannya. Seperti pagi kemarin saat mereka akan berangkat ke sekolah, Gilang menyuruh Gilung untuk menyiapkan bekal untuknya. Padahal sejak mereka kecil Makurang sendiri telah mewanti-wanti kepada kedua anaknya agar melakukan pekerjaan yang bisa dilakukan sendiri dikerjakan sendiri. Akan tetapi tanpa sepengetahun Makurang Gilang menyuruh kakaknya untuk menyiapkan bekalnya.

Seperti biasa Gilung selalu tersenyum dan mengerjakan apa yang disuruh tanpa sedikitpun merasa kesal. Dia merasa senang jika disuruh mengerjakan sesuatu. Dia merasa perjuangannya untuk belajar tidak sia-sia. Tidak sia-sia belajar mengeja selama satu tahun untuk dapat menuliskan nama ibunya, bapaknya, atau saudaranya. Tidak sia-sia belajar mengupas singkong selama satu bulan sehingga dia bisa membantu ibunya menyiapkan keripik singkong kesukaan bapaknya. Tidak sia-sia belajar membersihkan sepatu selama delapan minggu sehingga dia bisa membersihkan sepatu bapaknya. Dan setiap selesai mengerjakan sesuatu dia selalu menarik napas lega dan tersenyum bangga dengan perjuangannya.

***

 “Gilang…!”

“Ra….”Ya…

“Lopitu q hunbi, bukina wertabu ca P pa.”Tolong ke pondok, antarkan makanan untuk bapak.

“Ra..ra..ra” sungutnya.

“Gilang karapa! Sawaselampi buga sen dakus!” Gilang cepat! Sebentar lagi akan gelap!

“Ra..ra..ra..ra”

Gilang keluar dari kamar, mengambil makanan dan langsung bergegas pergi tanpa bicara. Terbesit sesuatu perasaan aneh saat Makurang mengawasi anak bungsunya itu mengambil makanan dan pergi. Walaupun sempat ada keraguan tentang apa yang dirasakannya dan dia percaya dengan keanehan yang dilihatnya, tetapi kemudian dia menepisnya.

“Ah meripe….” Ah tidak mungkin….Bisiknya pelan.

***

Pakurang sekarang tinggal di pondok untuk menjaga ladang agar tidak di rusak oleh binatang-binatang yang suka makan tanaman di ladang. Dia akan tinggal di pondok sampai musim panen, dan selama itu tiap dua hari sekali Makurang dan Gilang mengantarkan makanan untuknya. Hari ini adalah giliran Gilang. Walaupun tadi sepulang sekolah Gilung sudah menawarkan diri untuk mengantarkan makanan, tapi ditolak oleh Makurang. Gilung belum pernah pergi sendiri sejauh itu, jarak paling jauh yang pernah ditempuhnya sendiri adalah sekolah itupun dengan tersesat terlebih dahulu. Kalau hanya tersesat sebenarnya bukan masalah besar,  yang jadi persoalan adalah saat menjelang musim panen banyak binatang pemakan tanaman ladang bermunculan, dan hal itu mengundang binatang buas seperti serigala, beruang, harimau dan binatang buas lain untuk ikut datang, dan Gilung belum tahu apa yang harus dilakukan jika bertemu dengan binatang-binatang tersebut, sedangkan Gilang sudah mengerti bagaimana cara menghadapi binatang tersebut.

“Tuk…tuk…tuk”

“Garuwa delangga?” Kenapa terlambat? Pakurang dengan kesal membuka pintu pondok setelah menunggu Gilang beberapa jam. Hari telah begitu gelap tidak banyak yang dapat dilihat Pakurang dari dalam pondoknya yang hanya diterangi api tungku.

“De kiri lioga Gilung.”Kamu mulai seperti Gilung. Gilang hanya diam dan menyorongkan makanan yang ada di tangan kirinya kepada Pakurang kemudian tersenyum.

“Praaat..!” Tamparan mendarat mulus di pipi Gilang

“De rim!” Tanganmu! Hardik Pakurang kepada Gilang. Dia begitu marah, karena sudah menjadi sebuah adat di desa itu jika memberikan sesuatu kepada seseorang harus dengan tangan kanan, dan jika dilakukan dengan kiri dianggap menghina atau melecehkan orang yang menerima pemberian tersebut.

“Brukk…”Gilang ambruk tertelungkup ke tanah, sementara Pakurang berjalan acuh tak acuh ke dalam pondok.

“Gubila vude, toi busye miku ca kinka nimo rotu.” Jangan cengeng, itu cuma tamparan untuk anak lima tahun. Akan tetapi tak ada suara terdengar setelah itu. Setelah hampir satu menit Pakurang tidak mendengar suara apa-apa dari luar, akhirnya dia keluar dari pondoknya.

“Paki kinka vude!”Bangunlah anak cengeng. Pakurang berjongkok dan menggoyang-goyang tubuh anaknya, dan menusuk-nusuk bagian pinggang seperti yang biasa dia lakukan saat bercanda dengan anaknya tersebut. Namun tak ada reaksi dari anaknya.

“Yo Gilang, yo…yo”Hei Gilang, hei….hei. Dia mulai gugup, kemudian dia mengangkat tubuh anaknya tersebut. Saat akan mengangkat pundak sebelah kanan anaknya dia merasakan cairan kental mengalir di sela-sela jarinya. Keringat dingin mulai mengucur dari seluruh tubuh Pakurang. Dia bergegas membawa anaknya ke dekat tunggu api.

“AAAAAA…MERIPEEEE…….EEEEEEEEE!!!”

“Gali…..iing, Gilung..hiks..bi..hiks…ki…hiks…nka…” Galing , Gilung…hiks….anak..hiks..ku. Pakurang sesenggukan. (Galing = Bukan Gilang, kebiasaan penduduk desa jika ingin mengatakan “bukan orang tersebut” namanya di balik, contoh Pakarung = Bukan Pakurang)

***

Malam itu begitu dingin, diam, sunyi begitu sunyi, hanya langkah kaki Pakurang yang terus berlari sambil menggendong Gilung yang terus memecahnya. Darah Gilung, keringat dan air mata Pakurang bercampur menetes ke tanah dan meninggalkan jejak di setiap tempat yang mereka lewati. Entah sudah berapa lama atau sudah berapa banyak darah menetes dari lengan anaknya yang digigit Serigala. Sore itu bukan Gilang yang pergi mengantar makanan, tapi Gilung. Dalam perjalanan ke pondok Gilung bertemu dengan Serigala betina yang baru saja melahirkan, dan takdir mengharuskan Gilung digigit oleh serigala tersebut.

Tidak ada lagi Gilung yang menjadi cela dalam pikiran Pakurang, tidak ada lagi Gilung yang membuatnya malu, tidak ada lagi percakapan tentang Gilung yang harus dihindari, tidak ada, tidak ada.

“A….AAAA…AAAAAA.”

“Hiks….hiks…hiks”Pakurang hanya bisa menangis, berteriak pilu, dan terus berlari.

Yang ada Gilung yang selalu berjuang untuk mendapatkan sesuatu, yang ada hanya Gilung yang selalu tersenyum, yang ada seorang pejuang yang tak pernah kenal lelah yang dia miliki, yang mereka miliki. Sayang untuk benar-benar menyadari hal tersebut harus terjadi hal seperti ini dahulu. Pakurang berjanji dalam hatinya, jika Gilung bisa diselamatkan dia akan selalu membawanya kemanapun dia pergi, dan akan menceritakan kepada semua orang yang ditemui tentang anaknya Gilung, ya Gilung.

***

“GILANG….!!!” Pakurang masuk ke rumah sambil berteriak memanggil Gilang

“P paluntalunta toi kinka?” Di mana anak itu?

“Gilung, p paluntalunta? Garuga?” Makurang yang sebelumnya telah tertipu oleh anak mereka, telah mengetahui bahwasanya bukan Gilang yang pergi ke pondok melainkan Gilung, karena dia sendiri  mendapati Gilang tidur-tiduran di kamarnya saat bermaksud mencari Gilung. Kemudian langsung bertanya dengan cemas apalagi setelah melihat tubuh suaminya basah oleh keringat dan darah.

Pakurang juga tidak menjawab istrinya, tapi langsung bergegas ke kamar anaknya, Makurang segera mengikuti suaminya. Tepat saat Pakurang akan memukul Gilang, Makurang segera menahan tangan suaminya dan membentaknya

“GARUGA..? KWERDE!!!”  Pakurang tak kuasa menahan tangisnya, akhirnya ia merosot, tersandar ke dinding dan terduduk sambil menangis sesenggukan. Makurang bingung dia tak pernah melihat suaminya seperti ini, juga ikut-ikutan duduk dan menangis.

Makurang akhirnya memeluk suaminya dan berbisik pelan.

“Kwerde….bi ank..”

***

Walaupun dokter desa sudah berusaha semampunya, namun Gilung tak bisa diselamatkan. Siang tadi dilangsungkan pemakaman Gilung, hampir semua penduduk desa datang menjenguk.

Ternyata yang paling terpukul Gilang. Baru kali ini dia berpisah dengan Gilung selama ini. Dia baru merasakan mempunyai Gilung, saat Gilung tidak ada. Dia baru menyadari kalau ada sesuatu yang kurang saat dia tak melihat Gilung. Dia tak mengerti dengan apa yang dia rasakan, dia hanya menangis. Tidak ada yang memberi tahu dia apa yang terjadi dengan kembarannya, di mana kembarannya sekarang. Dia terus bertanya dan menangis.

“P paluntalunta Gilung?” Begitu terus dia bertanya dan menangis sampai lelah kemudian tertidur.

***

“M ma p paluntalunta Gilung?” Itu kalimat pertama yang keluar dari mulut Gilang pagi itu.

“ Nuki, toi Gilung.”Lihat, ini Gilung. Makurang memperlihatkan sebuah benda yang sama besarnya, dan tingginya dengan Gilang.

“Men tiga sdola q Gilung?”Apa yang terjadi pada Gilung? Dia kembali bertanya dengan ragu-ragu.

“Gilung  sen humber kepa, lioga kureta, nan Gilung sepe lioga pokama.”Gilung akan mempunyai sayap, seperti kupu-kupu , sekarang Gilung tidur seperti kepompong. Makurang berbohong kepada Gilang.

“Nai ra P pa?” Benarkah Bapak? Dia setengah tak percaya, kemudian bertanya kepada bapaknya untuk lebih mendapat kepastian lagi. Bapaknya hanya mengangguk.

“Bi dewa lioga Gilung!” Aku mau seperti Gilung!

“Toi buyse ca seratan.” Itu hanya untuk yang lebih tua.

“Sa, garuga P pa er M ma nim humber kepa?” Lalu, kenapa Bapak dan Ibu tidak mempunyai sayap, tanyanya menyelidik.

“Toi buyse ca trudi.” Itu hanya untuk anak kembar. Makurang kelihatan khawatir tidak tahu lagi apa yang akan dijawabnya jika nanti Gilang terus bertanya. Dia tahu anaknya ini tidak akan berhenti bertanya sampai benar-benar paham.

“Nai ra P pa?” Dia kelihatan tidak puas dengan jawaban ibunya, kemudian bertanya sekali lagi kepada Bapaknya.

“Nai, bi kinka.” Kali ini Pakurang menjawab dengan lebih meyakinkan. Walaupun masih belum sepenuhnya percaya kepada kedua orang tuanya, Gilang kemudian diam dan pergi meniggalkan keduanya. Makurang lega Gilang menghentikan pertanyaannya, tapi baru beberapa langkah Gilang kemudian berhenti kemudian bertanya lagi kepada Makurang

“M ma, burita bi sepe q Gilung toi dakusan?” Ibu, bolehkah aku tidur dengan Gilung malam ini?

“Burita.”

***

“M ma, de rumu! Nim hu tiga sen humber kepa!” Ibu, kamu bohong! Tidak ada manusia yang akan mempunyai sayap! Sepulang sekolah tiba-tiba saja Gilang berteriak-teriak kepada Makurang. Ini adalah hal yang dicemaskan Makurang, sebenarnya dia sepakat dengan Pakurang untuk menceritakan saja kepada Gilang kalau saudara kembarnya telah meninggal, karena bagaimanapun Gilang bukan bocah yang bisa dibodohi begitu saja, tetapi dulu dia tetap bersikukuh kalau saat itu belum tepat.

Gilang bergegas ke kamar, dia merobek benda yang disebut Gilung yang jadi kepompong oleh Makurang. Bulu-bulu ayam dan angsa bertebaran keluar dari bungkusan kulit rusa tersebut. Gilang terus mengacaknya sampai semua isinya berhamburan memenuhi kamarnya. Makurang hanya memandang sedih, tidak tahu bagaimana cara membujuk Gilang.

Gilang kesal karena merasa telah dibodohi, cemas karena tidak menemukan saudara kembarnya, gelisah, bingung, akhirnya dia berkata sambil menangis kepada Makurang.

“M ma p paluntalunta Gilung? Toi Guling”Ibu di mana Gilung?” ini Guling (bukan Gilung) Makurang cuma diam. Gilang berbicara lagi.

“Debiko kwerde, Gilung morta. Gilung nim sen pi nuki bugi, nai ra?”Temanku berkata, Gilung mati. Gilung tidak akan kita lihat lagi, benarkah? Makurang mendekati Gilang, matanya berkaca-kaca. Selama beberapa hari ini dia telah mencoba untuk menerima kepergian Gilung tapi siang ini kenangan akan Gilung kembali mengguncang-guncang lagi melalui Gilang. Dia mengusap air mata gilang, dan berucap lirih.

“Nai bi kinka.”

“Gilung nim sen pi nuki bugi?” Makurang cuma memeluk Gilang.

“Nim sen.” Beberapa menit setelah itu hanya ada kesunyian di antara mereka berdua. Tidak ada yang berbicara. Mereka larut dalam bayangan mereka masing-masing tentang Gilung.

“M ma..” Gilang melepaskan pelukan ibunya, dan membereskan bulu-bulu yang berserakan di kamarnya.

“M ma, toi Guling, deta toi Gilung.” Ibu ini Guling (bukan Gilung), tapi ini Gilung. Gilang mengumpulkan semua bulu tersebut dan meletakkan dalam kulit rusa kemudian mengikatnya seperti kemarin.

“M ma, toi Guling, toi gudi, Gilung cubi peringga.” Ibu,  ini  bukan Gilung, ini jelek, Gilung lebih tampan. Dia mengangkat benda tersebut dan mencandai ibunya. Makurang hanya tersenyum dan mengusap air matanya.

***

Sejak saat itu Gilang selalu tidur bersama guling. sejak saat itulah orang-orang mulai mengenal guling, membuat guling sampai saat ini dan menjadikannya teman untuk tidur bagi anak-anak mereka yang takut tidur sendirian. Selamat malam….selamat tidur

“Ibuuuuuuuuuu, di mana guling ku??”

Cerita ini hanya fiksi….

Advertisements

4 thoughts on “Kisah Gilang dan Gilung

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s