Jendela

“Apa yang sedang kau risaukan kawanku?” Aku kembali teringat percakapanku beberapa tahun yang lalu dengan Natan.

“Hei, sedang terbang ke awan rupanya kawanku ini..“ Dia kemudian menghirup kopi dari gelasnya setelah melontarkan pernyataan ini tanpa melihat ke arahku. Aku menoleh ke arahnya tapi dia tidak menoleh ke arahku, dia hanya melihatku dari sudut mata kirinya. Aku menggoyang-goyangkan kakiku dari jendela kamar kos ku ini. Jendela ini menjadi tempat pengakuan dosa kami, tempat keluh kesah kami berdua, tempat berbagi senang dan duka, tanpa pernah kami sepakati. Semua terjadi begitu saja, jika salah satu diantara kami merasa senang, sedih, atau bercerita tentang apapun di sinilah kami biasa saling bercerita. Semua sesak kami berlalu dari jendela ini, seperti bau apek kamar kami yang selalu berlalu jika jendela ini dibuka.

“Menurutmu kebaikan itu apa?” aku melontarkan hal yang ada di kepalaku saat ini kepadanya.

Dia tidak langsung menjawab pertanyaanku, dia menggoyang-goyangkan gelas kopinya, dan melihat kedalam gelas yang tinggal ampas kopi tersebut.

“Kurasa kopiku sudah habis.” Dia pergi ke dapur menambah kopinya.  Kemudian duduk di tempat semula.

“Ha, aneh kawanku ini, kenapa harus kau risaukan pula kebaikan?”

“Aku tak ingin pertanyaanmu atas pertanyaanku, aku ingin jawabanmu atas pertanyaanku.”

“Kawanku, jika dibandingkan denganmu pendidikanku tidak ada apa-apanya, seharusnya akulah yang bertanya padamu tentang hal itu.”

“Memang,” aku berhenti sejenak dan menghela nafasku dengan panjang. Memang begini biasanya kalau bicara dengan Natan berputar-putar. Tapi aku suka pendapat-pendapatnya, kadang-kadang aku merasa dia lebih bijak dari diriku.Walaupun pendidikannya cuma sampai sekolah dasar.

“Akan tetapi kau lebih dulu terjun ke dunia.”Sementara aku masih mengorek dari dompet kedua orangtuaku, dia sudah berjuang sendiri untuk menghidupi dirinya. Dan itu belasan tahun yang lalu sebelum kami berpisah. Dan takdir mempertemukan kami kembali di sini di kota ini.

“Entahlah kawanku, kurasa aku tidak punya pendapat mengenai arti kebaikan. Hanya saja…”

“Apa ?” potongku tidak sabar.

“Ketika aku tidak jadi melakukan sesuatu dan aku menyesal tidak melakukannya, kukira itulah hal yang kau maksud.”

“Aku kemarin menyesal tidak jadi menjaili Suli, apakah aku tidak melakukan kebaikan dengan menjailinya karena dia begitu kasar kepadamu.”

“Tidak, bukan begitu maksudku. Penyesalannya datang jauh dari dalam sini.” Dia menunjuk dadanya, kemudian melanjutkan,

“Di sini terasa begitu menyempit, jika aku tidak jadi melakukannya, dan jika aku melakukannya terasa begitu lapang, berat badanku seolah menjadi ringan. Aku merasa seperti bisa dihembuskan oleh angin.”

***

Aku terdiam, sebenarnya aku sering merasakannya, hanya saja aku sering mengabaikannya. Aku melakukan apa yang kupikir baik, bukan yang kurasa dan kupikir baik. Begitu banyak hal yang kulakukan dan sebenarnya aku merasa sangat menyesal melakukannya. Dan malam ini aku merasakannya lagi.

“Eh, lu jangan bengong, Keburu pagi nih!!” bisikan Bang Suta mengagetkanku.

“Iya bang” ucapku sambil berbisik.

“Kenapa jendelanya lu buka?”

“Biar gampang kabur bang, biar nggak kayak kemaren.” Aku mencari alasan.

“Tumben pinter lu.” Pujinya

“Kan abang yang ngajarin.” Aku mulai muak memujinya tidak seperti yang biasa kulakukan, tapi tetap kupaksakan.

“Eh, bener-bener.”Ucapnya sambil garuk-garuk kepala.

“Prankkkkk………”

“SIAPA DI SANA…..!!!”

Piring pajangan itu sengaja aku jatuhkan karena itu satu-satunya cara agar niat kami batal. Sebuah suara terdengar dari dalam kamar, aku segera kabur. Di depanku Suta kelihatan lari pontang-panting, dia kelihatannya tidak memikirkan diriku, dia lari sendiri menyelamatkan dirinya. Aku mengikutinya kabur dari rumah yang akan kami maling melalui jendela yang telah kubuka sebelummya. Dia berbelok ke kanan ke arah kami datang tadi. Aku memilih berbelok ke kiri, aku tidak ingin mengikutinya lagi. Aku tidak peduli, gerombolannya akan mencariku, Aku tidak peduli jika besok aku dikarungkan oleh. Akan kuterima semua itu.

Benar kawanku terasa sangat lapang sekali, aku seperti bisa terbang, kejahatan itu menguap dari tubuhku, aku seperti tidak menginjak bumi, seperti katamu. Dan seperti yang kita sepakati dahulu, dari balik jendela kebaikan yang kecil akan kita tanam dan akan tumbuh menjadi pohon-pohon harapan bagi semua,  dan kita uapkan kejahatan ke angkasa berapapun beratnya, biar menjadi suci dan turun sebagai kebaikan bagi semua.

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s