Surat Untuk Judith (tamat)

sebelumnya

“Heehhhh!!!” tidak ada lagi suara desisan tawa yang tersisa, mereka bertiga kaget dengan suaraku.

“Emangnya kenapa da?” kali ini Judith balik menayaiku setelah aku menanyakan di mana buram skripsinya tadi.

“Eh, nggak apa-apa.” Aku berusaha menenangkan diriku tapi tidak bisa, senyum yang kupaksakan terasa aneh. Akan tetapi akan lebih aneh lagi rasanya kalau surat itu ketahuan oleh pembimbingku, kemudian dosen lain, pegawai jurusan, fakultas, kampus, seterusnya dan seterusnya semua orang akan tahu.

Aku segera berlari menuju ruangan dosen di lantai dua. Sepertinya setiap orang yang kulewati sudah membaca surat itu, dan mulai menertawakanku. Semua perasaan aneh itu sudah mulai merayapiku perlahan-lahan. Menimbulkan khayalan-khayalan yang bisa dijadikan satu episode sinetron dengan durasi dua jam.

“Seorang mahasiswa teknik elektro program studi telekomunikasi pada tahun 2009 menyatakan cinta lewat surat, sayang surat itu tidak sampai kepada alamat yang dituju. Surat itu jatuh ke tangan dosen pembimbing tugas akhirnya, dosen tersebut menyesalkan surat itu, karena sebenarnya pada saat itu mahasiswa tersebut diminta untuk merevisi laporannya. Akan tetapi yang dikerjakannya hanya membuat surat cinta. Kemudian dosen tersebut meminta kepada mahasiswa bimbingannya itu untuk mencari pembimbing lain. Karena lebih mementingkan hal lain dari pada skripsi. Informasi ini merupakan hasil wawancara dengan salah satu mahasiswa jurusan FMIPA Universitas Andalas, yang katanya  didapatkan dari teman kosnya yang mempunyai teman seorang mahasiswa fakultas teknik.” Alamak….begitu kira-kira bunyinya nanti di koran harian di kota Padang, dan diletakan di halaman depan bagian kanan bawah. Dan orang-orang mungkin akan membeli koran tersebut karena ada berita ganjil seperti ini. Akhirnya berita itu akan sampai kepada ibuku di kampung, walaupun ibuku tidak berlangganan koran, tukang ojek di kampung biasanya suka numpang baca di kios koran dan menceritakan kembali isi koran yang mereka baca pada pagi hari kepada setiap penumpangnya, apalagi ada berita ganjil mengenai orang kampungnya.

Semuanya sekarang terasa aneh bagiku, tidak seperti saat aku membuat surat itu di kamar kos, saat itu tidak ada yang terasa aneh tentang surat itu dan tentang kenyataan diriku.

Lama sekali rasanya untuk sampai di ruangan dosen. Ups, hampir saja aku menubruk dosen pembimbingku, ternyata dia belum berada diruangannya, dia masih berdiri di pintu sedang berbicara dengan salah satu teknisi laboratorium.

“Pak”

“Tunggu sebentar” jawabnya.

Mataku mencari-cari menelusuri di mana buram skripsi tersebut. Aku mengintip satu-persatu buku yang ada di tangannya. Tidak ada di sana, aku kemudian melongokan kepalaku ke dalam ruangannya. Aku melihatnya buram itu ada di atas meja. Berarti dia telah masuk terlebih dahulu ke ruangannya, mungkinkah dia telah melihat surat tersebut?

“Ya, bagaimana, selesai?” dia langsung bertanya tentang perbaikan yang aku kerjakan segera setelah dia selesai berbicara dengan teknisi tadi.

“Sedikit lagi pak, dan sebenarnya saya masih memerlukan buram skripsi itu lagi pak.” Ucapku beralasan sambil menunjuk buram skripsi Judith yang terletak di atas mejanya.

“Boleh saya meminjamnya lagi pak” Lanjutku.

“Setengah jam lagi anda ke sini, ada yang perlu saya lihat sebentar” Jawabnya.

“Tapi, saya hanya perlu sebentar saja dengan buram itu pak.”

“Kalau setengah jam lagi, saya takut nanti jadi lupa pak.” Tawarku, sambil berharap mudah-mudahan berhasil.

“Anda tulis dulu, biar tidak lupa.” Ucapnya tidak mau kalah, kemudian duduk di kursinya.

“Tapi saya benar-benar memerlukanya saat ini pak, bagaimana kalau bapak saja yang tulis dulu pak?” Arghhhh, aku panik dan kalimat tidak sopan ini begitu saja meluncur dari mulutku.

“Ada apa sebenarnya?” Dia memandangku sejenak kelihatan marah dan bertanya sambil mengambil buram tersebut.

Aku berusaha memegang buram itu dengan tangan kananku, dan keadaannya saat ini kami kelihatan seperti memperebutkan benda tersebut. Sementara bayangan yang tadi bernyanyi-nyanyi di kepalaku nyanyiannya semakin keras. Aku lebih memilih dimarahi dosen pembimbingku daripada surat yang kutulis untuk Judith ketahuan. Kemudian aku memegang buram itu dengan kedua tanganku, dan dosenku masih dengan satu tangannya. Aku menariknya, akhirnya buram itu terlepas dari tangan dosenku.

“Maaf pak, saya pinjam dulu.” Ucapku sambil bergegas pergi tanpa menoleh ke wajah dosenku, karena aku takut melihat wajah dan matanya saat ini. Setelah keluar dari ruangannya aku segera pergi secepatnya. Aku tahu tindakanku kali ini sangat tidak sopan, namun aku siap dengan resikonya, dan Tuhan, aku harap ini bukan sebuah dosa.

***

Satu jam yang lalu aku resmi menjadi sarjana, masalah dengan pembimbingku bisa di selesaikan. Walaupun dia sempat ngambek beberapa minggu. Masalah surat beres, aman, tidak ada mahasiswa jurusan teknik elektro yang tahu, tidak ada teman-teman seangkatan yang tahu. Raihan dan Barad temanku satu bimbingan tidak tahu. Ae, teman yang komputernya kupinjam untuk menyelesaikan skripsi tidak tahu. Teman di kos, Nop, Bayu, bahkan Edo teman sekamarkupun tidak tahu. Judith pun tak pernah tahu karena surat itu tidak pernah sampai padanya dan aku baik-baik saja walau dia tidak mengetahui isi hatiku, walau saat ini aku masih sedikit berharap. Hanya satu orang yang tahu, Teddy mantan teman satu kos dulu. Dia pun baru mengetahui mengenai surat itu beberapa minggu yang lalu.

Sekarang aku berdiri di lantai empat gedung jurusan, sementara yang lain sibuk bersama keluarga masing-masing di lantai satu. Aku sendiri, orang tuaku tidak bisa menghadiri acara wisudaku, karena bertepatan dengan wisuda adikku, dan aku meminta agar mereka mendatangi wisuda adikku.

Di satu sisi aku senang akhirnya bisa wisuda setelah kuliah selama enam setengah tahun. Dan artinya mau tidak mau aku harus meninggalkan kampus ini, ini semua membuatku merasa sedih. Semua kenangan sejak aku memasuki kampus ini berputar-putar di kepalaku. Terutama semester pertama saat-saat masa orientasi, saat bocah-bocah sombong memasuki bangku kuliah. Tempat aku berdiri saat ini adalah tempat aku pertama kali harus menghapalkan nama teman-temanku, tempat tinggal mereka, daerah asal mereka. Tempat aku mengetahui ternyata Pa’i lebih kerempeng dariku, tempat aku mengetahui ternyata temanku ada yang cuma punya satu pasang kaos kaki dan itu harus dipakainya selama seminggu, tempat aku mengetahui ternyata diantara teman-temanku ada yang kaos dalamnya sudah bolong-bolong dan itu dipakai untuk tiga kali dalam seminggu. Di sini aku pertama kali memakai sepatu seharga delapan ratus ribu, sebaliknya temanku harus memakai sepatu kets lima puluh ribuku yang sudah butut, dan masih banyak hal-hal lain yang mungkin tidak akan pernah terlupakan olehku.

Di sini pada saat ospek kami di paksa oleh angkatan di atas kami untuk saling mengetahui kekurangan-kekurangan satu sama lain, bukan sebagai bahan olokan, tapi untuk saling peduli dan berbagi.

“Terima kasih” ucapku.

Aku ingin menghadirkan mereka semua. Semua terlihat jelas, saat pertama aku bertemu mereka teman-temanku, Judith, Lani, dan Tia bayangannya begitu jelas. Eh itu bukan bayangan, itu benar Tia lalu disusul Lani, lalu Judith. Aku kembali senyum-senyum sendiri tidak karuan, tapi sekarang aku bisa menyembunyikannya, mereka tidak melihatnya. Kalau saja mereka melihatnya….

“Yud, ngapain di sini?”

“Masih sering ke sini?” alih-alih menjawab pertanyaanku, dia balik bertanya masih sering? tidak ada yang tahu aku sering ke sini, kecuali petugas kebersihan di jurusan.

“Iya, kamu ngapain ke sini?”

“Tuh, si Lani, pacarnya wisuda.” Jawabnya cuek, ah masih seperti dulu, belum ada yang berubah. Bahkan sepatu kets hitam putihnya dan baju kerja (baju kemeja hitam lengan panjang dengan embel-embel himpunan) dengan tulisan Teknik Elektro-nya masih dipakai.

“Eh..kamu juga maksa kan tadi ke sini?” sambung Lani.

“Aku kan cuma nggak ingin kamu ngambek sayang….”

“Oya gimana kabarnya?” Judith sepertinya tidak ingin meneruskan pembicaraannya dengan Lani.

“Seperti yang kamu lihat.” Ucapku sambil mengangkat togaku.

“Kok sendirian?”Aku menjelaskan kenapa aku sendirian, kemudian balik bertanya.

“Kalian gimana kabarnya?”

“Aku ke bawah dulu ya..” sepertinya Lani barusan menerima sms dan bergegas ke bawah.

“Ikuuutt……” Tia kemudian menyusul Lani

“Baik.” Jawabnya sambil menoleh ke arah Tia dan Lani yang mulai berjalan menuruni tangga.

“Bagaimana denganmu?” Aku mencoba mengalihkan arah pembicaraan.

“Maksudmu?” Sebenarnya di fakultasku kami memanggil Uda untuk senior laki-laki dan Uni untuk senior perempuan. Sekarang dia tidak lagi memanggilku dengan sebutan uda, bagiku tak ada masalah.

“Apakah kamu juga mempunyai pacar? Aku belum pernah………………..”

“Aku.. ah…tidak, aku tak ingin,” dia langsung memotong kalimatku.

“Kenapa? Pernah ada masalah dengan laki-laki sebelumnya?”

“Tidak, bukan begitu, aku belum pernah…. maksudku, aku tak ingin pacaran.” Dia kelihatan ragu-ragu.

“Aku mengerti, tidak ada laki-laki yang menyukai gadis sepertimu.” Selorohku, sebenarnya aku berharap dia tertawa saat itu. Akan tetapi dia menunduk, wajahnya kelihatan sendu, dia kemudian berkata,

“Mungkin.” Kali ini suaranya terdengar serius, aku merasa bersalah sekali telah mengeluarkan lelucon tadi.

“Kenapa kamu tak ingin pacaran.” Aku mencoba untuk bertanya kembali agar dia melupakan selorohanku sebelumnya.

“Tidak apa, jika kamu tidak ingin aku mengetahuinya.” Tambahku setelah beberapa menit dia hanya diam.

“Sebenarnya dulu aku pernah pacaran, tapi sekarang aku tak ingin pacaran lagi karena sekarang aku ingin menemukan lelaki yang baik untuk teman hidupku”

“Maksudmu pacaran tidak baik?” aku mencoba menyimpulkan kalimatnya.

“Entahlah, aku sendiri tidak tahu pacaran itu baik atau tidak, dan maksudku bukan pacaran tidak baik, hanya ingin menemukan lelaki yang baik, itu pernyataan yang berbeda”

“Maaf, kata-katamu membingungkanku, lalu bagaimana kamu akan menemukan lelaki baik itu? Apakah dengan berteman saja?” kali ini aku benar-benar melontarkan pertanyaan dengan serius.

“Ya…itu salah satunya dan yang terpenting aku harus menjadi baik terlebih dahulu.” Ucapnya.

“Apa pacaran membuatmu tidak bisa jadi baik?”

“Tidak….iya, ah…. sekarang pertanyaanmu yang membingungkanku. Maksudku waktu buat pacaran bisa aku gunakan untuk melakukan hal lain yang lebih baik”

“Kenapa penting untuk menjadi baik dahulu?” Aku kembali bertanya.

“Karena Tuhan pernah berjanji.”

“Kepadamu?”

“Kepada yang mau percaya”

“Bagaimana?”

“Aku hanya ingat kata-kata, perempuan baik-baik untuk laki-laki baik-baik.”

“Dan jika saja aku ingin lelaki baik, aku harus menjadi baik terlebih dahulu.” Sambungnya.

Aku terdiam, aku tidak meyangka dia bisa berfikir seperti ini.

“Kurasa aku baru mengenalmu” kata-kata itu keluar begitu saja dari mulutku, dan tidak pernah kususun di otakku.

“Hahahahaha….” tawa khasnya yang selama ini kukenal kembali keluar, tapi saat ini ditutup dengan senyuman yang sangat manis.

“Jika kamu telah menemukan lelaki yang baik itu apa yang akan kamu lakukan?”

“Aku ingin dia melamarku”

“Jika dia tidak melakukan apa-apa?”

“Entahlah, mungkin aku minta bapakku untuk melamarnya, hahahaha.”

“Lalu, apakah kamu sudah menemukan lelaki itu?”

“Tidak.. belum..ehh.. mungkin,” ucapanya masih ragu, dan aku berharap dia menjawab belum saja, hanya belum, kenapa harus ada mungkin?.

“Apakah temanmu?”

“Tidak, dia bukan temanku.” Aku kecewa dengan jawabannya.

“Bagaimana kamu tahu kalau dia baik?”

“Ah kamu terlalu banyak bertanya, cara mengetahui seseorang baik itu tidak susah, tinggal lihat saja siapa teman-temannya, kemana saja dia menghabiskan waktunya, bagaimana dia bergaul, siapa saja yang tidak menyukainya, kalau yang tidak menyukainya orang tidak baik berarti dia orang baik.” Ternyata jawabannya masih menyebalkan, itu aku juga sudah tahu. Sebenarnya aku tadi mengharapkan jawaban yang sedikit lebih ekstrim atau mungkin teori-teori baru.

Percakapan kami terhenti sesaat karena mendengar suara kaki di tangga yang semakin mendekat. Ternyata Lani yang kembali lagi ke sini.

“Balik yuk.” Lani mengajak Judith pergi.

“Tia mana?”

“Dia nggak kuat katanya naik turun tangga.”

“Eh udah foto-foto?” Judith sepertinya tidak begitu peduli dengan jawaban Lani.

“Belum.” Jawabku pendek, sebenarnya aku dari tadi ingin gambar kami berdua diambil, sayang aku tidak mempunyai kamera.

“Foto-foto yuk!” tawarnya kepadaku.

“Boleh” aku menjawab setengah enggan agar kelihatan tidak begitu berharap.

Aku kemudian berdiri di sebelah kiri Judith, tapi kemudian dia merubahnya. Dia kemudian pindah berdiri ke sebelah kiriku. Aku tak tahu apa sebenarnya keinginannya. Saat Lani akan mengambil foto dia kemudian berkata.

“Lan, biar aku yang ambil kalian berdua duluan”

Lani yang dari tadi nampak pasrah mengikut saja apa kemauan temannya itu. Sekarang tiba giliran aku dan Judith. Dia kembali berdiri di sebelah kiriku.

“Satu, dua, …”

“Tunggu..!!!” potong Judith.

“Panas….” katanya, dia kemudian melepas baju kerjanya, dan meletakkannya begitu saja di lantai di belakang kami. Setelah selesai Lani mengambl gambar kami berdua dia kemudian memakai baju kerjanya lagi.

“Bukannya panas?”

“Udah nggak” jawabnya padaku.

“Yud fotonya kok…?”Judith mengambil kameranya dari tangan Lani dan melihatnya,

“Kenapa?”

“Ini” Jawab Lani sambil menunjuk kamera tersebut, aku mendekati mereka ingin melihat foto tersebut, tapi Judith segera pergi.

“Yuk” ucapnya sambil mengamit lengan Lani yang kelihatannya masih kebingungan dengan kamera itu, entah apa itu aku sepertinya Judith tidak mau memberi tahuku.

“Oya, fotonya nanti dikirim lewat email “ ucap Judith, mereka berlalu, dan

“Judith mudah-mudahan kau keliru dengan laki-laki itu” ucapku dalam hati.

Mobil-mobil yang ingin meninggalkan kampus kelihatan tambah banyak, makin banyak yang ingin pulang, atau seperti tahun-tahun sebelumnya, bagi yang berasal bukan dari kota Padang biasanya menghabiskan waktu bersama keluarga di tempat kos masing-masing, setelah itu jalan-jalan di kota Padang, menikmati hari yang indah ini sambil melepas rindu bersama keluarga.

***

10 Januari 2011

Memang, surat yang dulu aku tulis untuk Judith tak pernah sampai, tapi hari ini aku yang menerima e-mail dari Judith. Isinya hanya sebuah gambar, foto pada waktu hari wisudaku. Aku hanya tersenyum melihat gambar itu rasanya aku bahagia sekali.

1-2-pngkmpres

 

“Aku juga menyukaimu”

“Klik” bunyi mouse setelah aku meng-klik tombol Replay di email-ku terdengar sangat indah.

Dan beberapa menit setelah itu email  dari Judith masuk lagi.

Aku menyukaimu dan kau menyukaiku.
Aku tidak akan pernah jadi pacarmu.
Aku tidak akan pernah menunggumu dan kau juga tidak perlu menungguku.
Mari kita nikmati saja semuanya dalam hidup ini, kita percayakan semuanya kepada Sang Sutradara apakah peran menjadi pasanganmu akan menjadi  milikku.
Aku sendiri akan berusaha untuk peran itu, demikian pula tentunya dengan dirimu.
Jika Dia tidak berkenan mungkin aku terlalu baik untukmu atau kau terlalu baik untukku.
dan
Kita terima naskah yang ditulis jauh sebelum, jauh sebelum dan jauh sebelumnya.
Kita terima peran kita sebagai pemeran.

Advertisements

16 thoughts on “Surat Untuk Judith (tamat)

  1. Wil, ga nyangka wili pintar buat tulisan spt ini..
    Jujur, sebagai kawan nan namo awak ado di dalam tulisan ko, ndak picayo baso iko wili yang mambuek..

    keren..

    salam dari awak.
    Raihan

    Like

      1. apo yang di mesti diperhatikan, Wil..?
        Wili se suko ma andok kuku (baca: menyembunyikan kehebatan).. 🙂
        nyasa awak Wil.. Cubo kalau awak tau dari dulu..

        Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s