Surat Untuk Judith (2)

Cerita sebelumnya

Surat itu kuselipkan hati-hati dalam buram skripsi Judith yang kemaren diserahkan oleh pembimbingku. Aku disuruh dosen pembimbingku untuk mempelajari laporannya karena ada beberapa hal yang nantinya dapat digunakan sebagai acuan dalam skripsiku. Setelah itu buram skripsi ini harus diserahkan lagi ke Judith.

Wajah yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga. Aku menghampirinya, semua mata kelihatan menoleh ke arahku, aku menoleh kiri dan kanan mau membalas tatapan itu, tapi ternyata tidak ada yang memperhatikanku ternyata hanya perasaan saja.

“Yud, ini laporannya.”

Aku menyerahkannya dengan hati-hati agar surat itu tidak terjatuh dan juga memastikan agar Judith memasukan laporan tersebut dengan baik dan benar ke dalam tasnya. Setelah memastikan semuanya beres, dan tidak ada surat yang tercecer di lantai aku pamitan pergi kepada Judith. Baru beberapa langkah membelakanginya aku memikirkan suatu hal yang sangat mengerikan. Bagaimana jika? Bagaimana jika dia tidak langsung pulang, dan tiba-tiba saja ada yang meminjam atau ingin melihat laporannya? Seharusnya laporannya langsung kuserahkan saja ke kosan Judith, tapi bagaimana kalau di kosannya juga ada temannya yang melihat-lihat laporannya.

Ahhhh,.. seharusnya surat itu langsung kuserahkan saja. Aku langsung balik kanan mencari Judith dan mengeluarkan surat itu dari laporan tersebut.

“ Judith..” aku memanggilnya, namun kali ini dia sudah bersama Tia dan Lani. Aku selalu tidak nyaman kalau bertemu dengan mereka berdua sejak aku mulai menyukai Judith, bukannya kenapa-napa, mereka sepertinya sudah tahu apa yang aku pikirkan, tahu perasaanku terhadap Judith. Kadang juga sempat terlintas dalam pikiranku kalau sebenarnya Judith juga menyukaiku, dan dia menceritakanya pada kedua sahabatnya ini. Dan saat ini aku senyum tersipu-sipu sendiri mengingat kemungkinan tersebut. Akan tetapi cepat-cepat ku hapus senyum itu dari wajahku sebelum mereka melihatnya.

“Kenapa da, senyum-senyum sendiri?”

Ter…lam…bat, me…re…ka me…li..hat…nya, ($*@$#!^&*). Aku tidak tahu seperti apa air mukaku saat ini. Mereka tertawa, mereka tertawa, mereka tertawa, aku tidak tahu apa yang telah kulakukan dan apa yang harus kulakukan saat ini. Tawa itu menular, teori itu mulai terbukti, Judith juga ikut-ikutan tertawa, dan aku sendiri pun tertular, saat tertawa aku membayangkan wajahku yang sedang tersenyum tersipu-sipu, lucu hahahahaha….! akhirnya kami berempat tertawa dan tidak sadar ada beberapa orang dosen sudah berada di belakang kami. Mereka tidak bisa lewat karena kami berempat berdiri dan tertawa di koridor.

Ehem, aku mencoba untuk menghentikan tawaku. Begitu juga Judith, Lani dan Tia. Tapi sepertinya Tia masih belum selesai, saat satu persatu dosen lewat masih terdengar suara desisan tawa tertahan.

***

Advertisements

5 thoughts on “Surat Untuk Judith (2)

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s