Surat Untuk Judith (1)

 “Aah..” cuaca panas di kampusku mulai melunturkan semangatku untuk segera pulang merevisi proposal skripsiku, yang baru saja dikembalikan dosen pembimbingku.

Gedung kampusku terletak di sebuah bukit dan jurusanku terletak paling atas dan paling terakhir sebelum kampus politeknik. Sebenarnya berdiri di sini beberapa jam lagi akan sangat menyenangkan, karena setelah pukul lima cuaca di sini biasanya tidak begitu panas, angin yang berhembus juga sejuk ditambah pemandangan pantai dan kota Padang yang indah. Akan tetapi kalau jam segini menunggu bus biasanya suka lama dan kemungkinan untuk dapat tempat duduk pun sangat kecil, kecuali bus tersebut baru keluar dari pool setelah jam istirahat makan siang. Aku terus melihat ke arah datangnya bus, tapi bus kampus yang kutunggu-tunggu dari beberapa menit yang lalu belum muncul, yang terlihat hanya pantai dan kota Padang yang menyilaukan mata.

“Ba a da?”

Tiba-tiba saja Judith sudah ada di belakangku, dan bertanya tentang hasil pertemuan dengan dosen pembimbingku. Sebenarnya tanpa menolehpun aku sudah tahu siapa pemilik suara ini. Suaranya telah terindeks dalam otakku, dengan nama Judith. Namun, ini adalah kesempatan yang tidak ingin kubuang, kesempatan melihat wajahnya.

“Masih perlu diperbaiki.” Sambil menoleh kujawab pertanyaannya.

“Oh,” hanya itu komentarnya.

Dia diam, tidak berbicara lagi. Dia kelihatan menyesal atas pertanyaannya dan atas jawabanku. Mungkin dia merasa tidak enak, dengan pertanyaan seputar skripsi, tentang skripsiku yang belum di acc walaupun untuk seminar proposal.

Aku ingin dia tidak berhenti berbicara, karena aku sangat senang dengan saat-saat seperti ini, walaupun kami sering bertemu, kejadian seperti saat ini hanya aku berdua dengan dia sangat jarang terjadi. Akan tetapi aku begitu kaku, kikuk, untuk berbicara dengan seorang gadis untuk obrolan-obrolan yang sifatnya tidak resmi, seperti obrolan sehari-hari. Bahkan dengan teman-teman lelaki pun aku juga tidak banyak bicara, kecuali mereka yang mengajakku bicara duluan. Mungkin ini juga yang membuat dosen pembimbingku tidak meloloskan proposalku untuk diseminarkan. Aku tak pernah bisa menjelaskan dengan baik skripsiku sendiri, ya selain itu sebenarnya masih banyak yang aku sendiri masih belum paham mengenai beberapa bagian teori yang akan aku gunakan.

Rasanya otakku sulit sekali menghadirkan kata-kata untuk mulutku agar bisa berbicara dengan dia. Aku tidak ingin dia berpikir kalau dia telah melakukan sesuatu yang salah dengan bertanya tentang skripsiku.

“Kamu sendiri……”

“Yuuuud……” perjuanganku selama beberapa menit yang sulit untuk menghadirkan kata-kata berakhir sia-sia karena teriakan Tia dari dalam mobil Kijang supernya. Judith yang baru akan menoleh kepadaku batal karena tiba-tiba Tia datang merebut perhatiannya dariku.

“Yuuuud, bareng yuk!”

“Iya Yud, ikut yuk…”Lani yang duduk di sebelah Tia ikut menimpali.

“Okay bu…” jawab Judith dan kemudian tersenyum kepadaku sebelum mulai melangkah ke mobil Tia.

“Da, mau sekalian?” Tia menawarkan tumpangan kepadaku.

“Makasih Tia, Aku mau naik bus saja,.” Sebenarnya aku sangat ingin, apalagi saat ini cuaca begitu panas, apalagi aku bisa duduk berdua dengan Judith di jok belakang, tapi hatiku berkata tidak.

“Oh ya udah, ” sambil tersenyum-senyum menoleh ke Lani, dan mereka berdua tertawa. Aku jadi salah tingkah, telingaku memerah dan tawa mereka semakin menjadi-jadi, semakin senang melihatku seperti ini.

“*!%^#…” pintu mobil ditutup Judith,

“Yuk..” Judith menyelamatkanku dengan ajakannya kepada Tia dan Lani untuk segera berangkat.

Aku satu tahun lebih dahulu kuliah, tetapi sepertinya Judith akan menyelesaikan kuliahnya lebih dahulu dariku. Walaupun sudah mengenalnya hampir empat tahun, aku mulai tertarik kepada Judith baru beberapa bulan yang lalu, saat mengulang beberapa mata kuliah semester tujuh. Itu terjadi begitu saja saat kami bertemu di ruangan kuliah dan dia bertanya sesuatu kepadaku, aku sendiri sudah lupa pertanyaannya apa, yang kuingat saat itu hanyalah aku tertegun, seperti melihat sesuatu di matanya. Sejak saat itu aku jadi lebih sering memperhatikannya dan kadang menunggunya, menunggu seseorang yang tidak pernah berjanji mendatangiku.

***

Advertisements

5 thoughts on “Surat Untuk Judith (1)

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s